Oleh Arvia Dwi Royani*
IBU adalah menteri keuangan rumah tangga. Ungkapan ini sering kita dengar, namun faktanya, peran ini sering kali berdiri di atas fondasi yang rapuh.
Dari data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan perempuan masih sebesar 65,58 persen pada tahun 2025, artinya masih ada 34,42 persen perempuan yang belum melek tentang keuangan.
Mereka hanya tahu berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari dan menabung jika ada sisa. Namun, beban pengelolaan keuangan keluarga justru lebih banyak berada di pundak mereka.
Literasi keuangan adalah keterampilan penting yang memungkinkan seseorang untuk mengelola keuangan mereka secara efektif dan membuat keputusan tentang tabungan, investasi, utang, dan merencanakan keuangan masa depan yang lebih stabil.
Meningkatkan literasi keuangan seorang ibu rumah tangga akan memberikan keamanan finansial yang lebih besar bagi rumah tangganya.
Ia akan mampu merencanakan penganggaran bulanan, mengalokasikan pendapatan untuk menabung dan berinvestasi, serta memahami berbagai produk keuangan.
Literasi keuangan ini merupakan hal yang sangat krusial bagi seorang ibu, karena akan berdampak kepada keluarganya.
Dengan pengelolaan keuangan yang baik, rumah tangga tersebut dapat memiliki dana darurat untuk kebutuhan mendesak dan tidak terduga.
Akibatnya, keluarga dapat terhindar dari utang karena sudah memiliki dana darurat.
Ditambah lagi, maraknya pinjaman online (pinjol) saat ini membuat keluarga yang tidak memiliki literasi keuangan menjadi rentan terjerat lingkaran setan ini.
Menjadi Perencana Aktif
Tanpa literasi keuangan, seorang ibu mengelola keuangan rumah tangganya dengan pola reaktif, yaitu ketika ada uang masuk akan dikeluarkan untuk kebutuhan dan ditabung jika ada sisa.
Dengan adanya literasi keuangan, seorang ibu akan mengelola keuangan rumah tangga dengan cara proaktif, yaitu dimulai dengan memetakan tujuan finansial keluarga, seperti untuk biaya pendidikan anak, perbaikan rumah, atau untuk dana pensiun yang tenang.
Selanjutnya, ibu rumah tangga dapat menggunakan metode 50-30-20 dalam mengalokasikan pendapatan, yaitu 50 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk keinginan pribadi, dan 20 persen untuk ditabung atau investasi.
Dengan metode ini, menabung dan berinvestasi itu bukan lagi dilakukan hanya jika ada sisa uang, melainkan memang dianggarkan dari awal.
Kemudian, pengetahuan tentang instrumen keuangan sederhana seperti deposito, reksa dana pasar uang, atau sukuk ritel akan membantu mereka untuk menghindari nilai uang yang tergerus inflasi.
Ketika para ibu memiliki kesadaran keuangan yang baik, mereka dapat mengambil keputusan yang lebih rasional, baik dalam hal konsumsi, investasi, maupun dalam memilih sumber penghasilan.
Ini akan membentengi mereka dari investasi bodong. Seorang ibu yang melek keuangan akan lebih kritis.
Ia tahu bahwa tawaran investasi dengan imbal hasil yang sangat tinggi itu adalah penipuan.
Hal ini sangat penting di tengah meningkatnya daya konsumsi masyarakat, khususnya kelas menengah yang sering kali tidak diimbangi dengan manajemen keuangan yang bijak.
Seorang ibu yang sudah melek keuangan akan lebih berhati-hati terhadap gaya hidup konsumtif, ia akan mengalihkan sebagian penghasilannya untuk aset produktif.
Dengan begitu, mereka tidak hanya menjaga stabilitas rumah tangganya sendiri, tetapi juga turut serta membantu menstabilkan ekonomi di lingkungannya.
Mendidik Generasi Penerus
Seorang ibu yang merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya, akan mendidik anak-anak dan keluarganya, baik melalui didikan langsung atau sekadar melihat kebiasaan dari sang ibu.
Sehingga, suatu saat nanti mereka semua akan memiliki keuangan yang stabil dan dapat memanfaatkan produk keuangan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.
Pengaruh seorang ibu sangat fundamental dalam membentuk bagaimana generasi berikutnya melakukan pengelolaan keuangan.
Hal ini karena sebagian besar ibu rumah tangga menghabiskan waktu lebih banyak bersama anaknya dibandingkan ayahnya.
Seorang anak yang sejak kecil sudah melihat ibunya menyisihkan uang untuk liburan, mendiskusikan perbandingan harga di pasar, atau menolak membeli barang ketika uang yang dimiliki belum cukup.
Kebiasaan ini akan tertanam di hati sang anak. Ibu yang melek keuangan secara tidak langsung sedang memutus mata rantai kebiasaan keuangan yang buruk dan memberikan pola pikir kemandirian ekonomi untuk anak-anaknya.
Tantangan yang Dihadapi
Namun, perjalanan literasi keuangan bagi ibu rumah tangga ini tentu dihadapkan dengan sejumlah tantangan.
Adanya peran ganda yang dipikul oleh perempuan kerap kali membuat mereka kewalahan membagi waktu untuk menambah ilmu baru.
Mengurus rumah tangga, anak, dan sering kali juga bekerja mencari nafkah, membuat waktu mereka hanya tersisa sedikit saja untuk beristirahat.
Selain itu, ibu rumah tangga di daerah pedesaan atau dari keluarga kurang mampu mungkin memiliki keterbatasan untuk mengakses internet dan lembaga keuangan yang memberikan literasi keuangan.
Ditambah lagi, lingkungan sosial dan budaya yang masih memandang investasi dan perencanaan keuangan jangka panjang sebagai hal yang tidak biasa untuk dipikirkan oleh seorang perempuan.
Ini menyebabkan kurangnya dukungan bagi ibu rumah tangga untuk mempelajari hal tersebut.
Solusi Kolaboratif
Untuk melawan tantangan yang akan dihadapi dalam upaya meningkatkan literasi keuangan ibu rumah tangga ini, diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak.
OJK sudah beberapa kali melakukan edukasi keuangan. Namun, kegiatan ini belum menjangkau masyarakat di pedesaan.
Selain itu juga belum ada kegiatan edukasi yang khusus dilakukan untuk ibu rumah tangga.
Ke depannya, pemerintah perlu memberikan pelatihan edukasi keuangan ini melalui program desa yang dapat langsung menyentuh ibu rumah tangga di desa, misalnya edukasi diselenggarakan bersamaan dengan pemberian program keluarga harapan (PKH), bantuan pangan nontunai (BPNT), atau pelatihan di posyandu.
Penyampaian pelatihan pun diharapkan dapat menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh ibu rumah tangga.
Selain itu, peran lembaga keuangan seperti bank dan asuransi diharapkan tidak hanya fokus menjual produk, namun juga melakukan edukasi keuangan.
Mereka bisa mengadakan workshop khusus ibu yang materinya aplikatif, seperti merencanakan dana pendidikan anak atau mengelola keuangan rumah tangga.
Dengan literasi keuangan yang memadai, ibu rumah tangga tidak lagi hanya menjadi operator yang menjalankan anggaran yang terbatas, melainkan menjadi perencana strategis keuangan keluarga.
Dampak yang akan dirasakan akan berlipat ganda, keluarga menjadi lebih tahan guncangan ekonomi.
Anak-anak tumbuh dengan pola pikir dan kebiasaan keuangan yang sehat. Jika dilihat dari skala makro, ketika jutaan rumah tangga menjadi stabil dan produktif, tentu akan menjauhi mereka dari kemiskinan dan pada akhirnya dapat meningkatkan ekonomi nasional.
Oleh karena itu, mari kita bersama-sama membangun fondasi yang kuat bagi setiap ibu. Berikan mereka akses, pengetahuan, kepercayaan, dan dukungan.
Karena saat para ibu mampu berdiri tegak sebagai menteri keuangan rumah tangga yang kompeten, tidak hanya keluarganya yang sejahtera, tetapi seluruh bangsa akan merasakan dampaknya. (*)
*)Penerima beasiswa LPDP di Master of Business Administration UGM sekaligus Statistisi di Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumenep
Editor : Amin Basiri