Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Konfercab NU Sumenep: Di Antara Fikrah dan Harakah Jamiyah

Amin Basiri • Minggu, 7 Desember 2025 | 00:40 WIB
AKHMADI YASID, anggota Fraksi PKB DPRD Sumenep
AKHMADI YASID, anggota Fraksi PKB DPRD Sumenep

Oleh: AKHMADI YASID (mantan jurnalis, kini anggota Fraksi PKB DPRD Sumenep)

MINGGU, 7 Desember, 2025. Sumenep akan punya “hajatan besar”. Bukan pesta. Bukan lomba. Tapi ini: Konferensi Cabang NU. 

Sebuah ritual lima tahunan yang—anehnya—setiap kali datang selalu terasa seperti pertama kali.

Di banyak tempat, konfercab hanyalah agenda organisasi. Biasa saja. Tapi di Sumenep, ia seperti musim panen: semua orang menunggu. Semua orang bicara, semua orang punya tebakan. Tapi tidak semua orang tahu apa yang sebenarnya penting.

Konfercab NU Sumenep tahun ini tentu bukan sekadar soal siapa yang duduk di kursi ketua. Atau siapa yang akan memegang kendali lima tahun ke depan. 

Itu penting, tapi bukan yang terpenting. Ada sesuatu yang lebih mendasar: apakah NU Sumenep atau PCNU Sumenep bisa tetap rukun dalam kebhinekaan?

Tema yang diangkat: satu fikrah, satu harakah. Tema yang sederhana. Tapi justru karena sederhana, ia sering dilupakan.

Sebelum bicara soal masa depan, kita perlu menoleh sebentar ke belakang. PCNU Sumenep selama beberapa periode dipimpin oleh sosok yang tidak banyak bicara: KH Panji Taufik. 

Sebuah figur low profile. Tenang. Tidak suka tampil. Tapi justru karena itulah beliau dihormati. Kepemimpinannya seperti air yang mengalir pelan: tidak gaduh, tapi konsisten membentuk dasar.

KH Panji bukan tipe yang mengumpulkan sorotan. Ia lebih sering berada di belakang layar, tapi semua orang tahu bahwa keputusan-keputusan penting NU di Sumenep selalu melewati sentuhan tangannya. 

Dalam banyak hal, beliau kompleks: lembut tapi tegas, sederhana tapi penuh pengalaman struktural.

Dan setelah sekian lama menjadi nahkoda, wajar jika kini muncul dorongan agar generasi baru mengambil giliran. Tapi generasi baru yang dimaksud bukan generasi yang meninggalkan keteduhan gaya Panji Taufik. 

Justru sebaliknya: generasi yang bisa melanjutkan keheningan itu—hening yang memberi arah.

Pada sisi lain, PCNU Sumenep memang bukan PBNU. Tapi percayalah: dinamika itu menetes ke bawah. 

Kalau di pusat ada riak, di bawah bisa jadi gelombang. Atau paling tidak, percikan-percikan kecil. Karena itu, sebelum konfercab dimulai, ada baiknya kita sepakat dulu:

Lupakan sengkarut di PBNU.

Lupakan konflik kuasa.

Lupakan soal “siapa dekat siapa”.

Cukuplah pendapat saja yang bertarung. Jangan bicara pendapatan seperti urusan tambang itu. Cukuplah pertarungan pikiran. Gagasan. Bukan orangnya. 

Dalam tradisi NU, berbeda pendapat itu biasa. Berdebat juga biasa. Bertengkar kecil pun pernah ada. Tapi tetap ngopi bareng setelahnya.

Yang tidak biasa adalah ketika perbedaan mulai mengarah ke perpecahan. Itu yang harus dicegah.

Di akar rumput, warga NU Sumenep sebenarnya hanya ingin satu hal: suasana yang menyejukkan. Yang menyatukan. Yang memantapkan kembali nilai Aswaja di kehidupan sehari-hari. 

Bukan suasana yang membuat jamaah saling curiga, saling tarik-menarik, atau saling menunggu “siapa disokong siapa”.

Karena itu, konfercab ini adalah momentum untuk merawat kebersamaan. Momentum untuk memastikan NU tetap menjadi rumah yang teduh. Lalu bagaimana soal figur? Ini juga selalu menarik.

Ada KH Abd Wasid. Kepala Kemenag. Wakil Ketua PCNU. Figur yang punya pengalaman struktural dan jaringan organisasi mumpuni.

Ada KH Widadi Rahim. Dari Kalabaan. Ketua MWC Guluk-Guluk. Figur pesantren yang punya akar kuat di tengah masyarakat.

Ada KH Bahrul Widad. Dari Gapura. Alumni Sidogiri. Katib Rais PCNU. Sosok yang dikenal halus, tapi punya ketegasan dalam prinsip.

Tiga nama. Tiga latar. Tiga karakter. Tapi satu kesamaan: semuanya orang baik.

Siapa pun yang terpilih nanti, pastilah yang terbaik di antara yang baik. Karena NU Sumenep tidak sedang memilih “siapa yang menang”, tapi siapa yang paling bisa membawa jamaah tetap satu fikrah dan satu harakah.

Saya selalu percaya, organisasi sebesar NU justru kuat bukan karena tidak pernah berbeda pendapat. Tapi tetapi karena selalu bisa melampaui perbedaan itu.

Kita lihat saja Minggu nanti. Bukan siapa yang naik. Tapi apakah NU Sumenep tetap tegak sebagai rumah yang meneduhkan.

Kalau itu tercapai, maka Konfercab kali ini sudah sangat berhasil—bahkan sebelum sidang dimulai. 

Selamat berkonfercab. Bumi Latee PP Annuqayah pasti banyak cerita. Kita akan menunggu itu. (*)

Editor : Amin Basiri