Oleh: Abd Lathif*
Kegiatan rutin Ngaji Teater yang digelar oleh teman-teman Language Theatre Indonesia pada malam Rabu (25/11) di Langgar Banakèron, Sumenep.
Seperti biasa, diskusi edisi ke-183 ini dihadiri sejumlah pegiat komunitas dan pemerhati budaya dari berbagai penjuru.
Tema yang diangkat malam itu terbilang menggugah: “Madura dan Bayang-Bayang Stereotip yang Diciptakan dari Dalam.”
Amin Bashiri—penyair, jurnalis, sekaligus pemerhati budaya asal Kebunan menjadi pemantik utama.
Ia mengawali diskusi dengan mengungkap kegelisahan yang mendorong lahirnya tema tersebut: maraknya anggapan dan asumsi tentang Madura, baik dari luar maupun dari masyarakat Madura sendiri.
Menurut Amin, stereotip tentang orang Madura kerap dianggap lahir dari cara pandang luar: media nasional, wacana publik, hingga budaya populer.
Namun, ada sisi lain yang jarang disorot: sebagian stereotip justru diperkuat oleh karya kreator Madura sendiri.
“Dalam banyak karyasastra, etnografi, video pendek, hingga opini, kita sering tak sadar sedang menarik garis lurus tentang Madura. Seolah seluruh karakter masyarakat bisa diringkas dalam satu paket identitas homogen,” ujar Amin membuka diskusi.
Ia menegaskan persoalan muncul ketika label “Madura” ditempelkan terlalu cepat pada segala hal: bahasa, adegan sosial, konflik lokal, atau tradisi kecil.
Sebuah puisi berbahasa Madura langsung dianggap representasi keseluruhan pulau; satu konflik desa dibaca sebagai karakter kolektif; satu tradisi diangkat sebagai identitas tunggal.
Cara membaca yang menyederhanakan inilah yang menyuburkan stereotip—meski niat awalnya merayakan identitas.
Mahendra Cipta kemudian menimpali dengan memetakan lebih rinci persoalan tersebut.
Menurutnya, Madura bukan sekadar diksi, aksen, atau peristiwa tunggal, tetapi jaringan pengalaman yang luas: dari nelayan pesisir, petani tembakau, perantau, pelaku seni kota, hingga dinamika ekonomi desa-desa terpencil.
“Kalau satu fragmen langsung dianggap mewakili keseluruhan, kedalaman pengalaman itu justru lenyap,” ujar Mahendra.
Ia menekankan pentingnya tanggung jawab kreator, peneliti, dan penulis dalam menggunakan label identitas.
Bukan untuk menghindari kata Madura, melainkan mengakui bahwa apa yang dibicarakan hanyalah satu potongan kecil dari mosaik besar.
“Dengan begitu, karya tentang Madura bukan lagi memperkuat prasangka, melainkan membuka ruang pemahaman yang lebih jujur dan utuh,” tambahnya.
Diskusi yang berlangsung lebih dari satu jam itu dipenuhi suasana hangat dan egaliter.
Beberapa peserta ikut membedah topik ini dalam nuansa obrolan santai, diselingi tawa kecil, argumentasi spontan, hingga perdebatan ringan khas komunitas.
Semua itu membuat episode ke-183 Ngaji Teater terasa hidup, akrab, dan kaya perspektif.
Acara ditutup dengan satu kesimpulan bersama:
Madura tidak membutuhkan penyederhanaan. Madura membutuhkan penceritaan yang bertanggung jawab. (*)
* Aktor di Language Theatre Indonesia
Editor : Amin Basiri