Oleh SURAJI, M.PD.
MILAD Ke-113 Muhammadiyah mengusung tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”. Ini menjadi momentum yang sangat spektakuler dan penuh makna, terutama ketika kita melihat dinamika kebangsaan Indonesia hari ini.
Di tengah instabilitas politik, persaingan global, derasnya perkembangan teknologi termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), serta kompetisi ekonomi yang semakin ketat, keberadaan Muhammadiyah sebagai gerakan pencerahan terus menghadirkan ketenangan, harapan, dan arah perjalanan bangsa menuju masa depan yang lebih baik.
Tema milad tahun ini terasa sangat relevan. Indonesia sedang berada pada persimpangan sejarah. Berbagai perubahan besar—mulai dari transformasi digital, revolusi industri 4.0 menuju society 5.0, hingga ketidakpastian ekonomi global—membutuhkan kekuatan sosial yang mampu menjaga stabilitas sekaligus mendorong kemajuan.
Muhammadiyah hadir bukan hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi sebagai pilar peradaban yang mempunyai rekam jejak panjang dalam membangun pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan kemanusiaan di negeri ini. Di usia ke-113, Muhammadiyah tidak hanya bertahan, tetapi terus melahirkan ide-ide progresif.
Persyarikatan ini terbukti mampu menghadirkan gagasan produktif, gerakan nyata, serta inovasi yang menjawab kebutuhan zaman. Dari lembaga pendidikan, rumah sakit, perguruan tinggi, hingga gerakan sosial di akar rumput—semuanya menjadi bukti bahwa Muhammadiyah berkomitmen memajukan kesejahteraan bangsa secara nyata, bukan hanya dalam tataran wacana.
Di Madura, khususnya di Kabupaten Bangkalan, semangat kolaborasi menjadi kata kunci. Sebagai daerah dengan potensi besar, wilayah ini membutuhkan kerja sama yang erat antarinstansi, lembaga, pemerintah, komunitas, dan masyarakat luas. Potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia harus digali, diolah, dan dikelola bersama dengan niat yang tulus demi kesejahteraan umat.
Dengan memperkuat jejaring dan sinergi yang sehat, Madura dapat menjadi contoh bagaimana kekuatan kebersamaan mampu mendorong kemajuan lokal yang berdampak nasional. Dalam konteks membangun kesejahteraan bangsa, silaturahmi bukan hanya tradisi, tetapi merupakan strategi sosial.
Silaturahmi adalah penguat jaringan, pemersatu gagasan, dan penggerak kolaborasi. Melalui silaturahmi yang luas, Muhammadiyah mampu merangkul berbagai pihak untuk bersama-sama membangun masyarakat madani—sebuah masyarakat yang berkeadaban, sejahtera, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan amanah. Upaya menghilangkan praktik korupsi, kolusi, nepotisme, dan segala bentuk penyimpangan moral harus menjadi komitmen bersama. Bangsa ini hanya akan maju apabila dibangun di atas fondasi integritas.
Di tengah kompetisi global yang semakin kompleks, kolaborasi, integritas, dan inovasi harus menjadi pegangan utama. Muhammadiyah telah memberikan teladan selama lebih dari satu abad—bahwa kerja tulus, kerja ikhlas, kerja profesional, dan kerja sama dapat membawa perubahan besar. Milad ke-113 ini menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Kita harus terus bergerak, berjuang, dan berkarya bersama untuk mewujudkan Indonesia yang maju, sejahtera, dan berkeadaban.
Muhammadiyah telah menunjukkan bahwa gerakan dakwah tidak hanya berada di mimbar, tetapi di sekolah-sekolah, rumah sakit, pesantren, panti asuhan, perguruan tinggi, dan ruang-ruang sosial kemasyarakatan. Kini, tugas kita adalah memperkuat apa yang telah dibangun. Mari bersama menjadikan silaturahmi sebagai energi, kolaborasi sebagai kekuatan, dan kesejahteraan umat sebagai tujuan.
Dengan semangat milad ke-113, mari mempertegas kembali komitmen. Memajukan kesejahteraan bangsa adalah tugas bersama—tugas persyarikatan, tugas umat, dan tugas setiap anak bangsa. (*)
*)Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bangkalan
Editor : Hera Marylia Damayanti