Oleh: Akhmadi Yasid (Fraksi PKB DPRD Sumenep)
Sumenep. Atau dulu Songennep.
Sebuah nama yang selalu punya cara untuk dikenang.
Di ujung timur Madura, kota ini berdiri dengan gagah: tua, tapi tidak renta. Lembut, tapi menyimpan daya hidup yang keras.
Orang mengenalnya sebagai Kota Keris—sebuah julukan yang lebih dari sekadar simbol benda pusaka. Ia adalah lambang peradaban. Ketajaman akal, dan keluhuran budaya yang menancap dalam di sini. Dada orang Madura.
Usianya kini sudah 756 tahun. Sebuah angka yang panjang, yang tidak sekadar menunjukkan umur, tapi sebuah perjalanan.
Dalam etape sejarah itu, Sumenep telah melalui banyak fase: kejayaan kerajaan, geliat kolonial, dan kini dinamika modernitas.
Dari Asta Tinggi hingga Pelabuhan Kalianget, dari Pasean sampai Kangean. Semuanya adalah fragmen yang membentuk mozaik besar bernama Sumenep.
Banyak yang sudah dicapai. Banyak pencapaian yang sudah diraih. Jalan-jalan sudah menembus pelosok. Gedung-gedung pemerintahan semakin megah. Tak jarang juga mewah. Mepet dengan sawah.
Lapangan terisi acara seremonial, baliho bertebaran dengan senyum pejabat. Setiap perayaan ulang tahun kabupaten dirayakan dengan gegap gempita. Tapi, seperti kata orang tua: tak semua yang berkilau itu emas.
Di balik semua gegap itu, masih ada PR besar yang menumpuk.
Tentang kemiskinan yang belum tuntas. Tentang pengangguran yang masih diam-diam menjadi luka sosial. Tentang ketimpangan yang kadang terasa halus tapi nyata.
Tentang anak-anak muda yang ingin hidup layak tapi tak tahu harus bekerja di mana. Tentang petani garam yang masih menatap langit berharap cuaca berpihak. Dan tentang-tentang lainnya.
Inilah wajah lain Sumenep. Wajah yang tidak ditampilkan dalam brosur pariwisata. Wajah yang tidak diunggah di media sosial pejabat.
Tapi wajah yang nyata. Di lorong-lorong kampung. Di warung pinggir jalan. Di pelabuhan kecil yang menunggu kapal datang membawa harapan.
Itu semua bukan hal baru. Sudah lama dibicarakan. Tapi belum benar-benar diselesaikan. Dan belum terselesaikan.
Saya percaya, bangsa ini, kabupaten ini, tidak kekurangan orang pintar. Tapi sering kali kita kekurangan kebersamaan. “Bersatu dalam keterpaduan,” kata sebagian orang, terdengar seperti jargon, tapi sesungguhnya itulah kunci.
Kita sering bersatu dalam seremoni. Tapi belum tentu terpadu dalam kerja. Sering satu visi di podium, tapi berbeda langkah di lapangan.
Suka tidak suka, senang tidak senang, rasanya kini tak lagi cukup hanya bersatu. Tapi kita harus berpadu dan terpadu. Pemerintah dengan rakyatnya. Swasta dengan masyarakat. Kota dengan desa. Darat dengan kepulauan.
Kalau Sumenep ingin benar-benar melangkah ke depan, ia harus menemukan bentuk baru dari gotong-royong modern.
Di mana pembangunan tidak hanya diukur dari panjangnya jalan beton, tapi juga dari berkurangnya anak muda yang menganggur. Di mana angka kemiskinan bukan sekadar statistik tahunan, tapi tantangan kemanusiaan yang benar-benar diperjuangkan.
Sumenep punya segalanya: laut, budaya, sejarah, dan manusia tangguh. Tinggal satu: kemauan untuk menenun semua itu menjadi kekuatan bersama.
Percayalah masa depan tidak hanya dibangun dari batu dan semen. Apalagi event. Tapi terkadang berawal dari keterpaduan hati dan cita.
Selamat ulang tahun, Sumenep. Saatnya kita “ngopeni” dan “ngorengi”. Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi? Klise. Tapi setidaknya tetap aktual.
Semoga doa panjang umurnya tidak hanya untuk perayaan, tapi juga untuk kesadaran. Bahwa menjadi tua bukan berarti puas, tapi justru panggilan untuk terus berbenah. (*)
Editor : Hendriyanto