Oleh : Tarmidzi Ansory, Pengurus PC ISNU Pamekasan alumnus LPI Nahdlatul Athfal
LITERASI merupakan kemampuan seseorang dalam membaca dan juga menulis (Jack Goody). Keberadaan literasi sudah sepantasnya menjadi kebutuhan pokok untuk dijadikan kebiasaan dalam kehidupan masyarakat.
Semangat literasi bukan hanya kewajiban dan diterapkan dalam dunia sekolah, perkuliahan, komunitas baca, dan semacamnya.
Namun sebenarnya sudah kewajiban pemerintah untuk turun tangan entah dengan memfungsikan keberadaan balai bahasa atau lembaga yang terkait, agar semangat literasi membudaya dan mengakar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sebagaimana dilansir dari penilaian yang dilakukan Programme for International Student Assessment (PISA) pada 2022, peringkat Indonesia bisa dikategorikan masuk zona rendah karena berada di peringkat 70 dari 80 negara yang ikut partisipasi dari penilaian tersebut.
Adapun penilaiannya meliputi tiga aspek yaitu membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan yang dilakukan untuk siswa berusia 15 tahun biasanya diadakan tiap tiga tahun sekali.
Mengacu dari data itu pemerintah perlu mencarikan solusi agar semangat literasi hidup kembali, baik dalam cakupan kehidupan masyarakat umumnya, khususnya lebih-lebih bisa menjamur kepada para generasi muda.
Apalagi negara ini punya target atau cita-cita besar pada 2045 bisa mencapai generasi emas.
Tentunya salah satu indikator untuk mencapai target tersebut salah satunya yang sangat urgen yakni menanamkan dan membudayakan semangat literasi mulai saat ini.
Tentunya untuk merealisasikan tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Butuh kerja sama dan sama kerja baik dari pemerintah tingkat pusat hingga kabupaten.
Nah, berbicara literasi seakan membangunkan kembali ingatan saya pada beberapa tahun yang lalu.
Pada kisaran waktu 2017-2019 saat saya masih berstatus santri di Pondok Pesantren Annuqayah, saya seringkali disuguhi pandangan unik dan menarik berkaitan semangat literasi yang terbangun pada jati diri santri begitu luar biasa.
Masih tersimpan dalam ingatan saya, pada waktu itu saya sama sekali belum menyukai literasi.
Namun saya sempat seakan tertampar hati, karena suatu ketika pernah melihat seorang santri yang masih seragam sarungan yakni jenjang SLTP, sudah membawa dan membaca buku tentang filsafat, dalam benak hati saya berkata kira-kira apakah mereka paham ya terhadap buku bacaan yang sedang dipegang.
Semenjak kejadian tersebut dan juga ada motivasi dorongan dari beberapa teman dan lingkungan. Kemudian saya belajar menekuni dunia literasi.
Nah selang beberapa tahun kemudian ada kabar baik, seperti gayung bersambut ada tantangan bagus buat saya pribadi.
Sebab pada kurun waktu kalau tidak salah 2017-2019 Pemerintah Kabupaten Pamekasan di bawah kepemimpinan Ra Badrut Tamam bekerja sama dengan koran Jawa Pos Radar Madura, menyeleksi berupa gambar dan tulisan untuk nantinya di muat tiap minggu satu kali, di koran Jawa Pos Radar Madura yang bagi penulis dengan karya dimuat akan memperoleh apresiasi dengan catatan membawa bukti koran terbit dan tanda pengenal.
Semenjak itulah gairah literasi dalam benak saya semakin bergelora.
Apalagi pada saat itu tulisan saya pernah di muat dan bisa merasakan manisnya program dari Kabupaten Pamekasan tercinta.
Dari plot cerita itulah sebenarnya saya ingin menyampaikan bahwa pemerintah punya peran begitu penting, dalam ikut berpartisipasi menanamkan semangat literasi.
Sebab tidak dapat dipungkiri apabila program tersebut bisa kembali dihidupkan oleh Pemerintah Kabupaten Pamekasan saat ini.
Saya rasa dan berharap akan kembali menggelorakan semangat literasi dan haus berkarya dari para pelajar dan masyarakat umun secara universal.
Walaupun memang banyak sekali cara bagaimana menumbuhkan minat belajar literasi.
Salah satunya seperti yang saya sudah ceritakan tersebut. Intinya hal subtansial dan urgen dalam berbagai sektor apa saja, kuncinya pemerintah harus hadir agar bisa mengetahui apasaja yang diperlukan masyarakat untuk sama-sama menjadi acuan evaluasi bahan perbaikan dan pembaruan demi menuju pamekasan lebih maju ke depan.
Selaras dengan kaidah yang biasa digunakan oleh kalangan nadliyin berbunyi, almuhafadatu ala qodimis sholih wal aqdu bil jadidil ashlah kira-kira kurang lebih artinya mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.
Oleh karenanya harapan saya mengaktifkan kembali program Pamekasan Menulis, berharap Pamekasan yang sempat punya julukan kabupaten literasi bisa punya taring eksistensi lagi.
Sebab saya lihat kalau berbicara literasi yang berkembang utamanya di tingkat pelajar, Kabupaten Pamekasan bisa dikatakan masih di bawah Kabupaten Sumenep.
Penulis mengatakan demikian bukan tanpa alasan. Coba perhatikan tulisan-tulisan yang sering dimuat ambil saja sampel sederhananya di koran Radar Madura.
Beberapa tahun belakangan seringkali dihiasi oleh para penulis dari Kabupaten Sumenep.
Utamanya dalam lingkup tingkat pelajar umum atau pelajar pesantren yang diwakili kaum santri.
Padahal kalau kita teropong kembali pamekasan tidak kekurangan figur-figur hebat dalam dunia literasi, baik berupa fiksi ataupun nonfiksi bahkan sampai tokoh literasi bahasa Madura juga dimiliki.
Kalau saya boleh menyebutkan ada nama Kadarisman Sastrodiwirjo (Pak Dadang), Tauhed Supratman, Royyan Julian, Muna Masyari, Novie Kamalia, Sule Subaweh, Imam S Arizal, Ongki Arista UA, dan masih banyak lagi para penulis hebat lainnya.
Selain itu Pamekasan juga mempunyai wadah atau komunitas literasi semisal Civitas Kotheka masih eksis mengadakan berbagai kegiatan hingga sekarang.
Sehingga untuk kembali memunculkan nama-nama baru kembali, Kabupaten Pamekasan sudah mempunyai modal yang baik.
Tinggal bagaimana pemerintah kabupaten bisa memanfaatkantenaga para pegiat literasi atau komunitas di atas.
Untuk nantinya bisa dikolaborasikan baik dengan lembaga pendidikan formal semisal dari tingkat SD hingga SLTA.
Ataupun bisa juga bekerja sama dengan pihak pesantren entah dengan mengadakan pelatihan atau membentuk komunitas literasi untuk para santri.
Akhirnya, penulis sangat berharap selain program Pamekasan Menulis yang bekerja sama dengan koran Jawa Pos Radar Madura bisa aktif kembali.
Penulis juga sangat berharap Kabupaten Pamekasan bisa membentuk komunitas literasi resmi di bawah naungan pemerintah daerah, di mana nama-nama yang penulis sebutkan diatas direkrut untuk berperan aktif di dalamnya. Wallahu a’lam. (*)
Editor : Amin Basiri