Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Menggali Lubang Kubur Jurnalistik: Apa Lacur Kisanak?

Hendriyanto • Senin, 14 Juli 2025 | 14:44 WIB
MENGAMATI: Akhmadi Yasid mantan Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Madura yang saat ini menjadi anggota DPRD Sumenep.
MENGAMATI: Akhmadi Yasid mantan Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Madura yang saat ini menjadi anggota DPRD Sumenep.

Oleh: Akhmadi Yasid (Wartawan Senior, Anggota DPRD Sumenep)

Kita tidak ingin percaya. Tapi berita itu telanjur datang. Dan menghantam dada kita sendiri.

Kabar itu seperti menghentak. Menyeruak bagai gelombang kejut. Darrrr! Semua terkejut. Semua mungkin bertanya-tanya. Benarkah?

Pada banyak laman, berita itu menjadi seperti iklan. Pada tayangan sinetron yang panjang dan menggelikan. Pada posisi kita sedang serius.

Mengamati jalannya alur drama sang sutradara. Terpukau pada karakter antagonis dan protagonis.

Tiba-tiba iklannya muncul. Kita yang selama itu fokus ke sinetron. Kita yang fokus alur sutradara. Buyar seketika.

Kali ini, ternyata iklannya menarik. Bahkan lebih menarik dari alur sinetron yang serinya panjang. Yang kejar tayang bagi pemain-pemainnya.

Kalau iklan ini benar, bukan hanya sedang tidak baik-baik saja. Melainkan kronis. Ibarat penyakit kanker stadium terakhir.

Bagi khalayak umum, mungkin biasa saja. Tapi, bagi kita yang sesama “bis kota”, menjadi luar biasa. Sejumlah wartawan, yang selama ini kita kira menjadi benteng terakhir suara rakyat, disebut ikut menikmati uang haram dari program BSPS.

Kalau itu benar, maka lubang yang digali oleh para koruptor rupanya dibantu oleh tangan-tangan yang dulu kita percaya sebagai penjaga.

Saya terkejut. Tapi lebih dari itu, saya sedih.

Karena yang ternodai bukan hanya profesi. Tapi juga kepercayaan. Marwah jurnalis, yang selama ini dijaga dengan peluh dan idealisme, tiba-tiba tercoreng oleh ulah segelintir oknum.

Mereka bukan cuma memakan uang rakyat, tapi juga menikam ruh perjuangan itu sendiri.

Dulu, kita belajar bahwa wartawan harus berdiri di garis yang paling bersih. Bukan karena ia suci. Tapi karena ia harus cukup terang untuk menunjukkan yang gelap.

Harus cukup berani untuk menolak sogokan. Harus cukup keras kepala untuk tidak ikut pesta saat yang lain menari di atas luka rakyat.

Tapi sekarang?

Kalau dugaan itu benar, maka lubang itu bukan lagi sekadar tempat menyembunyikan korupsi. Itu sudah seperti liang kubur bagi idealisme.

Liang untuk mengubur kepercayaan publik terhadap pers. Liang yang digali oleh tangan sendiri.

Apakah kita masih bisa berharap?

Saya pikir iya. Tapi dimulai dari kejujuran. Dari keberanian aparat penegak hukum untuk mengungkap semua.

Jangan hanya berhenti pada tukang tanda tangan proyek. Jangan juga cuma menyentuh pekerja lapangan. Jangan cuma pemain lingkar dalam yang terlibat.

Kalau memang ada wartawan dan LSM yang ikut menikmati, sebut saja nama mereka. Biar terang semuanya.

Karena keadilan, kalau tidak tuntas, hanya akan menjadi kegetiran. Dan media, kalau tidak membersihkan dirinya, hanya akan menjadi juru bicara kegelapan yang lain.

Saya tahu ini tidak mudah. Tapi ini penting. Karena perjuangan jurnalistik itu bukan sekadar menulis. Ia adalah soal menjaga harga diri.

Dan harga diri itu, tidak pernah bisa dibeli dengan amplop tebal, atau dibarter dengan senyum pejabat.

Kalau ada yang berani menggadaikannya, maka sebenarnya ia sudah bukan lagi wartawan. Ia hanya tukang ketik yang menjual dirinya untuk satu-dua lembar rupiah.

Dan kepada mereka, kita hanya bisa berkata satu hal:

“Selamat menggali lubang. Tapi jangan ajak kami ikut terkubur.”

Bagi kita, dan mereka yang berada dalam tauhid pers, sungguh ini sebuah kebiadaban. Begitu panjang kita dalam menjaga kitab perjuangan.

Begitu melelahkan kita menjaga ruh tetap terjaga. Tapi, seolah hilang begitu saja oleh kesesatan.

Maka “sakitnya tuh disini” Bro! Menyesakkan. (*)

Editor : Hendriyanto
#Idealisme #jurnalistik #jurnalis #BSPS #korupsi #wartawan