Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Negeri yang Tergerus Katak Rebus

Ina Herdiyana • Minggu, 4 Mei 2025 | 22:36 WIB
ABRARI ALZAEL UNTUK JPRM
ABRARI ALZAEL UNTUK JPRM

Oleh ABRARI ALZAEL*

SALAH satu dewa dalam mitologi Yunani, Dolos. Ia muncul dalam dongeng Aesop karya Gaius Julius Phaedrus, murid Titan Prometheus. Tugas utama Dolos, menipu daya. Segala bentuk penipudayaan, dalam keyakinan mitologis, pastilah karena dewa itu. Maka, dewa ini selalu baik kepada yang jahat dan jahat kepada yang baik, sesuai tugasnya yang dikerjakan secara profesional.

Ketika kecil, anak-anak dijejali keyakinan tentang negeri, gemah ripah loh jinawi, tanah yang subur nan gembur. Kepercayaan ini di-endorse grand syekh Mesir kala itu, Mahmud Syaltut, saat berkunjung ke Istana Bogor, Indonesia, serpihan dari surga. Membayangkan surga tentang negeri ini, sebagai anak bangsa, betapa gegap gempitanya hati. Bersama teman sebaya, di ruang kelas, sama-sama berbagi cerita, dengan bangga, tentang Indonesia, tentang surga.

Anak kecil yang tumbuh semakin besar menyadari keberadaan surga yang juga dinyanyikan Koes Plus, orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Sebagai sebuah aransemen dan notasi dalam lagu, sekali lagi, lagu itu begitu indah didengar. Namun, betapa pedih pada saat dirasakan. Bambu ditanam, tumbuh menjadi daratan, menjadi kedaulatan tersendiri yang tak terjangkau, berpindah tangan. Maka hati ini kembali bertanya, surga macam apa yang ditancapkan ke negeri ini?

Di sisi lain, dari neraca utang, dari pemimpin ke pemimpin berikutnya, memiliki tren peningkatan. Di era Soekarno, utang negara yang disisakan kepada generasi berikutnya sebesar Rp 88 triliun. Saat Soeharto, utang yang diwariskan senilai Rp 551 triliun, BJ Habiebi (Rp 939 triliun), Abdurahman Wahid (Rp 1.271 triliun), Megawati Soekarnoputri (Rp 2.303 triliun), Soesilo Bambang Yudhoyono (Rp 2.608,8 triliun), dan Joko Widodo meraih top score, Rp 8.253 triliun. Hati ini kembali bertanya, ini neraca atau neraka?

Tetapi sebagai anak bangsa yang dididik secara religius, di serpihan hati yang lain masih terpatri untuk bersyukur dan bersabar. Bersyukur karena para pemimpin sebagaimana disebutkan, sebagian besar masih panjang umur. Bersabar sebab Indonesia sebagai satu negara tetap berdiri sebagai teritori. Wilayah kesatuan terjaga walau tanahnya sebagian hilang, berpindah (dipindah) ke negara tetangga. 

Hanya, seberapa pun syukur dan sabar dari warga republiken, menghadapi negara yang seperti ini adanya, tentu tidak mengubah keadaan menjadi lebih baik. Begitu pula doa, sesering apa pun ditahbiskan, perubahan sulit diwujudkan. Ini lantaran Tuhan tidak terlalu teknis, di samping Dia telah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Khalifah inilah yang sejatinya menjalankan mandat ketuhanan untuk menjadi baik (di darat, laut, dan udara). Tetapi tesis Salim Said, budayawan, pengamat militer itu, terbukti: di negeri ini, Tuhan saja tidak ditakuti.

Doktrinasi kekhalifahan, sebagai wakil Tuhan, tidak menuntut aktivitas yang begitu rumit. Sekadar menjalankan yang remeh-temeh, sederhana; lakona lakone, kennengnganna kennengnge, asalla ja’ kaloppae, mon asel je’ loppa asal (Madura); kerjakan yang seharusnya dilakukan, tempati yang semestinya diduduki, jangan lupa asal, dan jika berhasil jangan lupa pada asal. Tetapi Fir’un, lelaki yang tidak pernah apes, selalu sehat, berkuasa, dan lupa, malah menyatakan dirinya sebagai Tuhan. Kata-katanya adalah hukum yang harus dilaksanakan. Menentangnya, berarti melakukan perlawanan, dan pasti dibinasakan. Ia, ingin bertakhta selamanya, menjadi Tuhan untuk seterusnya. Fir’un, lahir sebelum Ariel Noah yang menyanyikan lagu, Tak Ada yang Abadi.

Tuhan yang sebenarnya mengingatkan kenyataan hidup bahwa Fir’un sebagai manusia biasa, seperti lagu itu. Karena keabadian itu hanya milik Yang Punya, bukan raja, dan juga bukan milik kita. Di akhir riwayat, Fir’un ditenggelamkan gelombang karena mengejar warga sipil, Musa, yang dinilai berseberangan haluan pemikiran dan menentangnya. Bagi yang berpikir, kisah ini berisi pembelajaran bagi para raja yang berkuasa, yang ingin melangengkan kekuasaannya, dan masalahnya, apakah para raja benar-benar belajar dari kisah ini?

Kisah lainnya, Qarun, pengusaha kaya-raya, enggan berbagi, dan hartanya melampaui kekayaan negara. Ia asyik sendiri, menikmati harta itu, sendiri (dan kroninya). Ia diingatkan Yang Maha Harta. Qarun terimpit bumi, terkubur bersama seluruh hartanya, binasa. Namun, kisahnya sebagai Qarun abadi sampai saat ini. Seseorang yang menggali bumi atau menyelam ke dalam samudra, jika menemukan serpihan harta, orang-orang menyebutnya harta qarun.

Cerita tentang Fir’un-Qarun sepertinya menancapkan pembelajaran kepada republik ini. Satu sisi, ada yang ingin berkuasa sepanjang usia. Jika tidak dirinya, paling tidak diteruskan anaknya. Bila bukan putranya, setidaknya menantunya, atau siapa pun yang berada di lingkungan kerabatnya. Tidak apa-apa, itu sangat manusiawi, amat fir’uniyah. Di sisi lain, ada yang ingin berharta seterusnya. Bahwa di sekitarnya terdapat yang kesusahan, kesulitan walau sekadar untuk makan, EGP, emang gue pikirin. Sekali lagi, ini juga manusiawi, sangat qaruniyah. Walaupun, pada akhirnya, harus disadari, seperti kata Ariel, Tak Ada Yang Abadi.

Masalahnya, kapan kesadaran itu, inilah fatsunnya. Apakah harus menanti kepungan gelombang? Apakah harus menunggu impitan bumi? Lagu Darah Juang itu, yang kerap dinyanyikan aktivis mahasiswa di sela-sela aksi demonstrasi, Di sini, negeri kami, tempat padi terhampar, samuderanya kaya raya, tanah kami subur tuan…cukup jelas di paragraf pertama. Tetapi lihatlah alinea kedua, Di negeri permai ini, berjuta rakyat bersimbah ruah, anak kurus tak sekolah, pemuda desa tak kerja

Sebagai anak negeri, sejujurnya khawatir para tuan-tuan besar mempersonifikasi dirinya sebagai Tuhan kecil. Pribadi yang hanya menghiraukan orang besar dan mengabaikan orang kecil dan para kurcaci geografis-kontekstual. Orang-orang kecil bisa memahami, negara mengalami kesalahan urus oleh para muasis negeri. Telah terjadi perselingkuhan besar antara penguasa dengan penguasa. Permainan mata yang hanya menguntungkan segelintir orang itu sebagai bukti nyata bahwa saat gajah menari-nari, semut-semut terinjak, menjerit.

Tetapi rakyat takut (dibikin takut) untuk melawan karena rakyat tahu siapa lawannya. Dalam teori besar, ada tiga kelompok yang tidak bisa dilawan. Pertama, orang yang bertakhta. Kedua, orang yang berharta. Ketiga, orang gila (takhta dan harta). Ketakutan untuk melawan terhadap tiga kelompok itu seolah-olah dijadikan kesempatan untuk terus menggila. Para pengkritik diintimidasi bahkan dikirimi penggalan kepala babi. Padahal, para pengontrol itu sejatinya sedang memberikan kasih, menyatakan cinta kepada negeri, dengan cara yang berbeda, dengan model yang tidak biasa.

Belum terlupakan, Mark David Chapman pada 8 Desember 1980 di Manhattan New York City. Ia menembak John Lennon, musisi The Beatles. Padahal, Chapman yang saat itu berusia 25 tahun dan penggemar setia Lennon. Pemimpin negeri, ketika ditanya, apakah cinta perdamaian, apakah menyayangi rakyat, haqqul yaqin jawabnya pasti ya! Tetapi mengapa menembak pecinta damai? Bukankah mematikan pecinta damai berarti membunuh perdamaian itu sendiri?

Tiga hari sebelum akhirnya Lennon ditembak, 6 Desember 1980, masih sempat membagikan pesan bijak; Berilah kesempatan kepada perdamaian, jangan tembak orang atas nama perdamaian, semua yang kita butuhkan adalah kasih sayang, saya percaya itu.

Pecinta damai di negeri ini, banyak yang hilang sejak 1998 lalu dan sampai saat ini belum ditemukan. Di luar itu, puluhan ribu pecinta damai lainnya kehilangan pekerjaan karena PHK. Sementara ribuan tenaga alien berdatangan karena percaya diri karena memiliki lembaga penjamin (bodyguard) di tanah ini. Maka membaca lirik lainnya dalam lagu Darah Juang, Mereka (warga republiken) dirampas haknya, tergusur dan lapar…Seterusnya, berubahlah wajah anak negeri yang semula pemilik kedaulatan, berganti pada wajah marjinal, sepi dan terpinggirkan.

 

Berguru kepada Katak Rebus

Kenyataan dari praktik serupa Dolos di republik ini, dampaknya mulai terasa. Kemiskinan kian menganga, kesulitan pekerjaan semakin renta, dan daya beli yang bertambah drop shoot. Sebaliknya, kelompok bohir yang bekerja sama dengan oknum penguasa semakin merajalela. Aset mereka bertambah dari hulu ke hilir dan menjelma menjadi naga. Awalnya, para orang besar itu mungkin saja tidak akan berpikir bahwa pada akhirnya akan seperti ini kondisi bangsanya. Tetapi semakin lama, kondisi ini kian terasa, berat!

Situasi ini mengingatkan pada sebuah teori; katak rebus. Teori ini diadaptasi dari kisah pencari katak. Pertama, seseorang mencari katak di sawah. Saat katak didapat, dimasukkan ke kantong belakang pencari katak. Lalu, katak berkata dalam hati; pencari katak ini dungu karena di kantong itu ia masih bisa bertahan hidup.

Kedua, saat pencari katak tiba di rumah, ia mengeluarkan katak dari kantong dan memasukannya ke dalam panci berisi air. Keyakinan bertambah tentang pencari katak yang dianggapnya bodoh. Sebab, air merupakan tempat dia hidup, sebagai amfibi. Ketiga, katak mendekonstruksi keyakinannya; bahwa saat panci berisi air dan katak itu sendiri diletakkan di atas kompor, katak menyadari bahwa sang pencarinya tidak bodoh. Katak tidak bisa lompat, tersiksa, dan kepanasan.

Peristiwa katak ini tidak berbeda jauh dengan kondisi bangsa. Awalnya (yakin) biasa saja, tidak mengganggu, dan tidak akan terjadi apa-apa. Namun akhirnya (percaya), seperti inilah kenyataannya. Begitu juga, tak terbayangkan bahwa Ibu Kota Nusantara (IKN) saat ini tidak terbayangkan akan dikerubuti tikus-tikus pada akhirnya. (*)

 

*)Budayawan, Kandidat Doktor Psikologi Universitas Negeri Malang

 

Editor : Ina Herdiyana
#negeri #Dolos #katak rebus #tergerus #opini