Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Makna Lailatulqadar dalam Al-Qur’an

Ina Herdiyana • Kamis, 27 Maret 2025 | 12:05 WIB

 

MASYKUR HASYIM UNTUK JPRM
MASYKUR HASYIM UNTUK JPRM

Oleh MASYKUR HASYIM*

Ketua Umum Ikatan Alumni Al-Ibrohimy (ILMY)

 

RAMADAN merupakan bulan yang di dalamnya penuh dengan keutamaan dan keistimewaan. Di antaranya, setiap malam didirikan salat Tarawih dengan keutamaan masing-masing di setiap malamnya. Juga ada malam Nuzulul Qur’an, Lailatulqadar, dan masih banyak keutamaan lainnya.

Lailatulqadar merupakan salah satu keistimewaan yang dimiliki Ramadan, yang disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Kemuliaan Lailatulqadar belum bisa diketahui secara pasti kecuali Allah memberikan pengetahuan kepada manusia. Lailatulqadar merupakan malam yang sangat ditunggu-tunggu oleh umat Islam. Ketika datang bulan Ramadan, umat Islam selalu mengusahakan agar bisa menggapai Lailatulqadar. Akan tetapi, kapan datangnya pun masih menjadi misteri dan hanya Allah yang mengetahuinya.

Kesimpangsiuran tentang kepastian datangnya Lailatulqadar melahirkan banyak pengertian. Ada riwayat yang mengatakan bahwa Lailatulqadar terjadi pada malam-malam ganjil pada malam sepuluh akhir Ramadan. Namun, tidak ada riwayat yang menyatakan dengan pasti kapan Lailatulqadar datang.

Ketika membicarakan tentang Lailatulqadar, banyak permasalahan yang muncul. Selain kedatangannya yang masih menjadi misteri, hal lain yang juga muncul yaitu apa makna serta keutamaan Lailatulqadar? Menurut hemat penulis, dalam struktur semiotika Roland Barthes, terdapat pemaknaan secara implisit (denotasi) dan pemaknaan eksplisit (konotasi). Pemaknaan Lailatulqadar dalam Al-Qur’an jika ditinjau dari semiotika Roland Barthes yang berfokus pada pemaknaan denotasi sebagai signifikan tingkat pertama dan konotasi sebagai signifikan tingkat kedua akan mempermudah menemukan berbagai tanda yang ada dalam teks sehingga menghasilkan mitos.

Susunan pertama teori semiotika Roland Barthes adalah makna denotasi. Dalam hal ini analisis secara tekstual terkait makna Lailatulqadar yang berarti malam lebih baik daripada seribu bulan serta mengutip pendapat para mufasir dan ulama tentang makna Lailatulqadar. Lailatulqadar sebagaimana dikutip Abdul Aziz Muhammad As-Salam merupakan satu keutamaan di bulan Ramadan.

Secara etimologis (harfiah), Lailatulqadar terdiri atas dua kata, yaitu lailah yang berarti malam hari dan qadar yang mempunyai makna ketetapan atau ukuran. Sedangkan secara terminologis (maknawi), Lailatulqadar bermakna malam yang agung atau malam yang penuh kemuliaan. Ada juga yang menyatakan bahwa malam Lailatulqadar adalah malam ketika Allah menetapkan perjalanan kehidupan manusia. Hingga diturunkannya Al-Qur’an sebagai jalan penetapan yang harus dilalui oleh manusia dengan berpegang teguh terhadap Al-Qur’an.

Menurut para pakar nahwu, kata al-lailah berarti waktu yang dimulai sejak matahari terbenam hingga munculnya fajar shadiq, dalam hal ini berarti malam hari. Sedangkan kata al-qadar merupakan bentuk masdar dari lafaz qadara yaqdiru qadaron, yang dikehendaki dengan qadar (ketentuan/ketetapan) yang artinya segala sesuatu urusan yang sudah ditentukan/ditetapkan oleh Allah. Sebagaimana firman-Nya: Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (QS Al-Qamar [54]: 49). Kata al-qadra merupakan mufrad (makna tunggal), ketika huruf tengah disukun al-qadra merupakan bentuk masdar.

Al-Wahidi menyebutkan, al-qadar secara bahasa berarti ketentuan, yakni penentuan sesuatu tanpa adanya penambahan atau pengurangan. Al Qurthubi menyebutkan qadar adalah suatu nilai yang memiliki kedudukan yang sangat tinggi.

Kata al-qadar memiliki beberapa arti. Pertama, penetapan dan pengaturan, yaitu ketetapan Allah terhadap perjalanan manusia dalam kurun waktu setahun. Kedua, al-qadar berarti pengaturan, dengan maksud Allah mengatur bagaimana taktik dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saat malam Al-Qur’an diturunkan. Ketiga, al-qadar berarti kemuliaan karena malam tersebut malam diturunkan Al-Qur’an. Ada juga yang memaknai kemuliaan saat melakukan ibadah dengan khusyuk pada malam itu. Keempat, berarti sempit, yaitu saat Al-Qur’an diturunkan malaikat, sehingga menjadikan bumi terasa sempit dan sesak.

Dalam tafsir Ruhul Ma’ani dinyatakan pendapat Ibnu Abbas bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatulqadar sekaligus ke langit dunia Bait al-Izzah. Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Rasulullah secara berangsur-angsur selama kurang lebih 20 tahun. Akan tetapi, dalam riwayat lain ada yang mengatakan ada yang diturunkan selama 23 tahun.

Quraish Shihab mengatakan, ada empat pendapat ulama tentang makna Lailatulqadar. Pertama, penetapan. Lailatulqadar merupakan malam penetapan bagi Allah untuk perjalanan hidup manusia selama satu tahun. Kedua, pengaturan. Dalam artian, Allah mengatur strategi untuk Nabi Muhammad dalam manyampaikan dakwahnya untuk mengajak dalam kebajikan.

Ketiga, kemuliaan. Malam itu menjadi malam mulia karena Allah telah menurunkan Al-Qur’an. Seperti Nabi Muhammad mendapat kemuliaan wahyu pertama yang diterima. Keempat, sempit. Karena pada saat turunnya Al-Qur’an, para malaikat juga ikut turun sehingga menjadikan bumi terasa sempit.

Muhammad Abduh juga berpendapat mengenai makna Lailatulqadar, yaitu malam yang pada saat itu Allah menakdirkan agama-Nya serta menetapkan aturan-aturan kepada nabinya dalam menyeru kepada umatnya agar meninggalkan dari kebiasaan buruk yang menimbulkan kerusakan. Dan pada malam itu Allah juga mengangkat kedudukan, kesabaran, serta kemuliaan Nabi Muhammad sebagai Rasul yang membawa risalah Allah.

Dari berbagai pendapat yang sudah disebutkan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa makna Lailatulqadar adalah malam yang lebih baik daripada seribu bulan, bulan penuh keberkahan, kemuliaan, serta keagungan, yang pada malam itu Allah menurunkan Al-Qur’an secara langsung ke langit dunia Bait al-Izzah dan pada malam itu juga ditetapkannya nasib perjalanan manusia selama satu tahun. (*)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Ina Herdiyana
#puasa #ramadan #Al-Qur’an #Lailatulqadar #keutamaan