Oleh: SYARIF HIDAYAT SANTOSO*
APAKAH ada nilai geostrategi pesisir dalam Babad Songennep? Jawabannya ada. Babad Songennep pada dasarnya ditulis ketika nilai-nilai kemaduraan telah mencapai kemapanan yang tinggi. Meski diterbitkan di era Balai Pustaka dan karenanya ada sensor pemerintah Hindia Belanda, Babad Songennep tetap menyajikan keunggulannya. Dalam memandang dunianya sendiri babad ini hadir dengan konsepsi yang samar sehingga perlu penafsiran ulang sesuai konteks kekinian.
Dalam perspektif pertahanan laut terkenal konsep kekuatan maritim dalam geopolitiknya Sir Walter Raleigh. Dalam konsep ini dipaparkan bahwa siapa yang menguasai lautan, maka akan menguasai perdagangan dunia. Konsepsi ini sederhana dan saya kira semua orang bahkan yang tidak terpelajar sekalipun akan tahu bahwa di lautlah perdagangan antar kawasan dilakukan sejak dulu sampai hari ini. Negara-negara besar Nusantara sejak Sriwijaya, Singasari, Kediri, Majapahit, dan Demak merupakan negeri maritim yang kokoh pertahanan lautnya. Namun, Sumenep tak serta-merta murni wilayah pesisir. Kitab Pararaton juga menunjuk samar Sumenep sebagai daerah agraris yang mampu menyuguhkan penganan enak kepada Wijaya ketika mencari perlindungan kepada Arya Wiraraja.
Konsep bahwa wilayah Sumenep sebagai bentang alami yang mengandung unsur pertahanan juga disebut sejarawan internasional D.G.E Hall dalam karya monumentalnya, Sejarah Asia Tenggara, dengan mengutip pendapat pakar Belanda, C.C Berg yang menyebutkan bahwa dijadikannya Wiraraja sebagai penguasa di Sumenep justru untuk memperkuat Singasari dalam rangka membendung ekspansi Mongol. Berdasarkan analisis ini, maka jelaslah bahwa laut Sumenep termasuk pesisirnya merupakan wilayah penting secara geopolitik dan geostrategi.
Pesisir sekaligus elemen geostrateginya terbaca samar dalam konflik Sumenep-Bali. Babad Songennep mengutarakan kisah tentang pendaratan pasukan Bali ketika menyerbu Sumenep di era Pangeran Ellor dan Pangeran Wetan. Babad ini menyebutkan bahwa invasi Bali ke Sumenep ini sebagai tindakan balas dendam atas serangan Majapahit yang dipimpin Jokotole atas Blambangan pada masa sebelumnya. Sebelumnya, saya sebagai penulis di sini ingin menegaskan bahwa Babad Songennep pada dasarnya tak serta-merta bisa dianggap sebagai sumber primer sejarah karena sifat babad yang memang terdiri dari kombinasi mitos, legenda, cerita rakyat, karya sastra, dan data sejarah multitafsir. Karena itu, tulisan ini pada dasarnya hanya mengambil nilai-nilai unggul dalam Babad Songennep tersebut dan bukan fakta sejarahnya yang boleh jadi multiinterpretatif.
Apakah Sumenep pernah berkonflik dengan Bali? Jawabannya benar. Doktor Aminudin Kasdi (2003) menyebut bahwa pada masa Cakraningrat 3 terjadi aliansi militer antara Madura Barat dengan Bali. Cakraningrat 3 berupaya menguasai Madura Timur, yaitu Sumenep, dan Pamekasan dengan meminta bantuan I Ketut Danudresta, penguasa kerajaan Buleleng. Kenapa Buleleng dilibatkan dalam konflik Madura Barat versus Madura Timur? Menurut Aminudin Kasdi, hal itu dimungkinkan karena persamaan kepentingan Buleleng dan Madura Barat yaitu Buleleng menginginkan Blambangan, sementara Madura Barat menginginkan Sumenep. I Ketut Danudresta menyerang Sumenep bersama Cakraningrat 3 karena Blambangan yang sangat diinginkannya ternyata telah dikuasai kerajaan Bali lainnya, yaitu Mengwi, yang dipimpin Gusti Panji Sakti. Peristiwa ini terjadi seabad setelah peristiwa serbuan Bali ke Sumenep di masa Pangeran Ellor dan Pangeran Wetan. Serbuan Bali ke Sumenep di masa Pangeran Ellor dan Pangeran Wetan terjadi pada era Kesultanan Demak, sementara masa hidup Cakraningrat 3 bersamaan dengan masa VOC dan Mataram Islam.
Era kesultanan Demak memang era ketegangan Islam dan Hindu, di mana Bali terlibat di dalamnya. Suma Oriental karangan Tome Pires menyebut bahwa Bali di era awal kekuasaan Demak terlibat aliansi dengan Hindu Kediri untuk menyerang Demak. Sangat mungkin era antara Demak sampai Cakraningrat 3 berkuasa, Bali memainkan peran penting dalam konflik-konflik di Madura dalam kaitannya dengan Demak. Kalau kita petakan, pesisir Sumenep memang ujung tertimur wilayah Islam yang berhadapan langsung dengan sisa-sisa Hindu Majapahit yang saat itu masih kuat di Blambangan beserta dukungan Balinya. Dalam Babad Songennep tidak disebutkan siapa nama raja Bali yang menyerang Sumenep, namun hanya disebutkan tokoh-tokoh lainnya seperti Gusti Pamecut, Gusti Jalantik, Gusti Jumena, Gusti Pamadi, dan Patih Kebowojo.
Dalam penyerbuan Bali ke Sumenep terkisahkan bahwa pasukan Bali itu mendarat di Lapa, Dungkek, kemudian membangun benteng di Bilangan. Ketika ingin menyerang Kota Sumenep, pasukan Bali itu naik perahu lagi dari Lapa, kemudian mendarat di Gersik Pote dan Pajalan. Dari Gersik Pote inilah pasukan Bali itu menuju Sumenep. Gersik Pote, Lapa, dan Bilangan merupakan nama-nama desa di Sumenep yang sangat dekat dengan pesisir, bahkan termasuk pesisir itu sendiri. Entah kebetulan atau tidak, daerah-daerah pesisir kini memiliki problematika kedaulatan tanah.
Lokasi-lokasi di atas menunjukkan betapa vitalnya daerah pesisir. Kadang kita menganggap remeh daerah pesisir dan membiarkan dimiliki oknum tak jelas. Pakar geopolitik Nicholas Spykman menjelaskan tentang pentingnya daerah pesisir. Dalam konsep pertahanan, pesisir merupakan area terbuka menuju ke wilayah jantung atau inti sebuah negeri (heartland). Babad Songennep menjelaskan bahwa setelah menguasai daerah pesisir, pasukan Bali melaju menuju heartland kota Sumenep. Kisah yang tersaji menunjukkan bahwa pertahanan Sumenep saat itu bersifat linier. Daerah Sumenep dipertahankan sejengkal demi sejengkal oleh Pangeran Ellor, Pangeran Batopote, dan Wangsadumetra sampai mereka bertiga gugur.
Babad Songennep kemudian mengisahkan bagaimana dalam insiden Sumenep versus Bali ini terjadi pengepungan, menerobos pasukan lawan, saling mengepung. Pasukan Bali berupaya menerobos pertahanan Sumenep yang dipusatkan di Baraji dan sekitarnya. Babad Songennep juga menyebut lokasi-lokasi sejak Gersik Pote, Karangbuddi, Benosan, Baraji, Per-emper, Karangpanasan, Paddusan, Parsanga sampai Pinggir Papas, dan Kebondadap sebagai tempat yang terkait dengan pertempuran.
Daerah-daerah yang disebut di atas secara geostrategi termasuk lingkaran encirclement, konsep pengepungan dalam perang modern. Dipusatkannya perlawanan Sumenep di daerah-daerah itu menunjukkan konsep berpikir para penguasa Sumenep yang up-to-date sampai masa kini, bahwa diperlukan daerah alami sebagai benteng agar pasukan Bali tidak melakukan breaking through the centre (menerobos pusat kota Sumenep). Babad Songennep juga menceritakan bagaimana gabungan pasukan Sumenep-Pamekasan di bawah pimpinan Pangeran Wetan dan Sunan Nugraha melakukan outflanking (pengepungan) terhadap benteng pasukan Bali. Outflanking juga terjadi ketika penguasa Sumenep membiarkan sisa-sisa pasukan Bali berdiam di Pinggir Papas dan Kebondadap. Bermukimnya orang Bali di kedua daerah pesisir itu merupakan geostrategi juga terutama ketika ada ancaman dari pasukan Bali di masa berikutnya. Dijadikannya Pinggir Papas dan Kebondadap akan memungkinkan serangan bali akan dihadapi ”orang Bali yang telah tersumenepkan”dalam geostrategi pesisir ini.
Jangan lupa, ada konsep geostrategi lainnya yaitu containment (pembendungan). Menurut Colin Flint, containment berarti aliansi militer. Babad Songennep menyebutkan bahwa dalam serangan balik Sumenep terhadap pasukan Bali, Pangeran Wetan beraliansi dengan Sunan Nugraha dari Jambaringin, Pamekasan. Aliansi antar negeri pesisir sebenarnya pernah terjadi pada masa Jokotole dan Banyak Wedi dari negeri Gresik yang juga negeri pesisir dalam melawan patih Majapahit yang berkhianat kepada Joko Tole.
Berdasarkan pemaparan di atas, semakin jelas bahwa daerah pesisir merupakan lebensraum (ruang hidup) penting. Pesisir tidak boleh dikuasai oknum tertentu karena akan berpotensi menjadi shatter-belt (sabuk pemecah) antara laut dengan daratan. Penguasaan laut (command of sea) akan sia-sia sebagaimana heartland juga akan menjadi lemah manakala pesisir dikuasai kelompok lawan. Babad Songennep mengajarkan kita sesuatu yang melampaui zamannya. (*)
*)Peminat sejarah
Editor : Ina Herdiyana