Oleh AMINULLAH
BERPUASA di bulan Ramadan, dalam makna yang hakiki, sejatinya adalah menahan diri dari segala hal yang merugikan diri dan orang lain. Dalam syariat, batasan paling simpel direalisasikan dengan tidak makan dan minum. Dengan demikian, orang awam sekalipun paham. Tidak perlu menjadi doktor untuk bisa memahami makna berpuasa.
Namun, apakah makna berpuasa hanya menahan diri dari makan dan minum, mulai terbit fajar hingga terbenam matahari sebagaimana dipahami banyak orang? Kita mungkin pernah atau sering mendengar dari para ulama dan kiai bahwa arti berpuasa dalam pengertian di atas tidak sepenuhnya benar.
Terlalu sempit jika berpuasa hanya dimaknai dengan tidak makan dan minum. Terlalu remeh rasanya jika berpuasa hanya dimaknai demikian. Nonmuslim pun bisa melakukan puasa dengan tidak makan dan minum. Bahkan, dalam ajaran agama lain juga terdapat tradisi menunaikan puasa. Misalnya, Upawasa (Hindu), Atthasila (Buddha), dan Prapaskah (Kristen).
Kendati dalam pelaksanaannya ada perbedaan, tapi pada dasarnya sama-sama tidak makan dan minum. Bahkan, ada yang tidak mengonsumsi makanan dan minuman tertentu. Saya suka membaca sejarah agama di luar Islam, termasuk membaca tradisi berpuasa dalam ajaran agama lain di dunia. Ternyata mereka juga berpuasa.
Jika penganut agama lain juga berpuasa dengan tidak makan dan minum, lalu apa bedanya dengan puasa yang kita (umat Islam) lakukan? Setidaknya terdapat empat penjelasan.
Pertama, penanda paling vital antara puasa kita dengan nonmuslim adalah syahadat. Titik. Inilah pembeda paling fundamental puasa kita dengan puasa mereka.
Akar teologis tidak boleh dihilangkan meski oleh sebagian orang dianggap tidak terlalu mendasar. Bagi saya, justru keberadaan syahadat sangat penting. Bukankah syahadat menjadi pembeda utama sekaligus pintu masuk seseorang bisa dikatakan muslim atau bukan.
Kedua, ada tuntunan-tuntunan tertentu yang telah dijelaskan dalam hadis-hadis tentang bagaimana Nabi Muhammad SAW menunaikan ibadah puasa. Ini berkaitan dengan segala hal yang menyangkut anjuran dan larangan saat berpuasa.
Nabi Muhammad SAW telah memberikan contoh dan diikuti oleh para sahabat, tabiin, pengikut tabiin, generasi ulama terdahulu (salaf), hingga ulama hari ini (khalaf) bagaimana seharusnya berpuasa yang benar sesuai syariat Islam.
Baca Juga: Jika Kau Santri, Maka Menulislah!
Ketiga, ditinjau dari aspek kesehatan, berpuasa juga sangat baik bagi tubuh manusia. Baru-baru ini saya membaca sebuah ulasan tentang ”mukjizat” berpuasa. Hampir setahun penuh tubuh kita dijejali dengan beragam makanan dan minuman. Bayangkan, semua jenis makanan dan minuman selama sebelas bulan masuk tanpa filter ke dalam perut kita.
Ibarat mesin, tubuh seakan dipaksa untuk menggiling tumpukan makanan dalam tubuh selama 11 bulan. Pantas saja jika kemudian muncul beragam penyakit. Misalnya diabetes, asam urat, kolesterol, jantung, kanker, dan penyakit-penyakit lainnya.
Baru-baru ini seorang dokter peneliti dari Jepang (melalui penelitiannya) menemukan bahwa ada keajaiban luar biasa pada tubuh orang yang berpuasa. Menurutnya, berpuasa akan menyehatkan tubuh. Sel-sel negatif dalam tubuh akan mati dan diganti dengan sel-sel baru yang menyehatkan. Usus akan menjadi lebih bersih. Bahkan, sel-sel negatif dalam tubuh yang dapat menyebabkan kanker juga akan mati. Inilah beberapa keajaiban dari puasa.
Keempat, ini yang sering kita kerjakan. Sesuatu yang sebenarnya terlarang, namun dikerjakan. Sadar atau tidak. Hal itu terjadi karena kita hanya fokus pada makna sempit berpuasa yaitu larangan makan dan minum.
Padahal, berpuasa itu sejatinya bukan hanya sekadar persoalan menahan lapar dan dahaga. Lagi-lagi, jika makna puasa hanya diartikan demikian, semua orang saya rasa bisa melakukannya. Muslim atau nonmuslim.
Lalu, bagaimana seharusnya kita memaknai puasa selain menahan lapar dan dahaga?
Idealnya, saat berpuasa, organ tubuh seperti mata, telinga, hidung, tangan/jemari, dan mulut juga harus dipuasakan. Jangan sampai perut kita sanggup menahan lapar dan dahaga, tetapi mata kita tidak kuasa melihat hal-hal yang dilarang oleh agama.
Jemari kita sulit memutar tasbih, namun justru lihai berselancar di dunia maya hingga lupa waktu salat. Yang ironis, jika jemari kita sering digunakan mengetik sesuatu yang tidak berfaedah di media sosial.
Terutama organ tubuh yang satu ini, mulut. Jangan sampai mulut kita tahan dari makan dan minum, tetapi tidak mampu membicarakan kejelekan orang lain. Bergosip sana-sini tanpa sadar bahwa kita sedang berpuasa.
Kemudian, hati yang seharusnya kita beningkan di bulan puasa ini, masih saja diisi perasaan marah, benci, dendam, iri, dengki, dan hasut kepada liyan. Lalu, apa guna berpuasa jika semua yang dilarang oleh agama (kecuali makan dan minum) tetap kita kerjakan? Jika perkara-perkara negatif di atas kita lakukan, lalu model puasa siapa yang kita contoh? Yang pasti, Rasulullah SAW, para sahabat, tabiin, generasi ulama salaf, dan khalaf tidak ada yang mengajarkan marah, iri, dengki, dendam, hasut serta menggunjing sesama. (*)
*)Koordinator Komunitas Ghai’ Bintang, Rubaru, Sumenep
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti