Oleh: Dr. Taufik Hasyim
TIAP Ramadan tiba, sungguh Indonesia seperti ”gambaran surga” yang indah penuh khidmat akan syiar keislaman. Sejak akhir Syakban, semarak menyambut Ramadan sudah terasa. Masyarakat berbondong kerja bakti membersihkan pemakaman umum, mengecat masjid, membersihkan musala, memperbaiki speaker, mencuci karpet masjid hingga memasang baliho hampir di setiap sudut jalan dan pojok-pojok kampung dengan kalimat ”Selamat Menunaikan Ibadah Puasa”.
Belum lagi di media sosial (medsos), hampir semua pemilik akun membuat ucapan ”Marhaban Ya Ramadan” diikuti foto bersama keluarga dengan senyum tipis sambil mengangkat tangan setinggi dada seakan bersalaman tanda memohon maaf, saling memaafkan.
Saat Ramadan tiba, kita saksikan di kampung-kampung tua-muda dan muda-mudi antusias menyambut Ramadan dengan berbagai ekspresi. Misalnya, menyalakan kembang api dan mercon, pawai taaruf, musik daul, dan berbagai kreasi sebagai ungkapan kebahagiaan datangnya bulan ampunan dengan penuh canda tawa dan nuansa khas Ramadan.
Anak muda hingga orang tua bersama-sama bertarawih ke masjid, musala, langgar sambil bercanda tawa penuh kehangatan. Selepas tarawih, sebagian ada yang bertadarus baca Al-Qur’an, sebagian ada yang langsung pulang.
Suara tadarus itulah ciri khas Ramadan di negeri ini. Nuansanya mengingatkan kembali pada memori masa kecil yang penuh cerita. Suara tadarus dari speaker Toa terus bersahut-sahutan dari masjid ke masjid dan dari musala ke musala. Terkadang tetangga datang ke masjid membawa kue, jajan, dan minuman sebagai bentuk sedekah untuk para tadarus Al-Qur’an. Sungguh pemandangan yang indah.
Saat sahur tiba, ada panggilan sahur bersahut-sahutan. Ada juga yang berkeliling kampung dan jalan kecil membawa alat seadanya sambil ditabuh sembari membangunkan warga untuk santap sahur. Sebab, kata nabi, ”dalam sahur itu ada barokah”.
Baca Juga: Empat Siswa SMKS Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan Magang di Jepang
Sedangkan di pesantren, madrasah, dan lembaga pendidikan juga sibuk dengan program Ramadan. Ada kajian kitab, kursus-kursus keterampilan, praktik ubudiyah, dan banyak lagi program Ramadan yang diisi sebagai ladang meraih pahala yang berlipat jumlahnya.
Stasiun TV dan radio juga tak kalah semarak. Program keislaman sangat digalakkan seperti program pengajian, tadarus, dialog keagamaan hingga kuis-kuis yang berhadiah jutaan rupiah diberikan sebagai bagian dari ikut menyemarakkan bulan berkah ini.
Tanggal 17, umat disibukkan dengan peringatan Nuzululqur’an dengan segala pernak-perniknya. Misalnya, berbuka bersama, santunan yatim piatu, pengajian akbar, pembagian takjil, dan segala macam syiar keislaman lainnya. Sungguh istimewa Ramadan di negeri ini.
Pada malam tanggal 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadan, masyarakat saling mengantar makanan ke tetangga sebagai tanda bahwa Lailatulqadar akan datang pada malam-malam ganjil.
Semua tradisi di atas hanya ada di Indonesia. Penulis yang pernah belajar di Arab, tidak menemukan tradisi seperti disebutkan di atas. Sungguh indah perpaduan antara tradisi budaya dan syiar agama di negeri ini. Maka, tak berlebihan kiranya kalau negeri ini disebut negeri gambaran surga.
Ramadan adalah bulan yang sepuluh hari pertama di sebut rahmat (kasih sayang), sepuluh hari kedua disebut maghfiroh (ampunan), dan sepuluh hari ketiga disebut itqun minan nar (pembebasan dari api neraka). Semua itu berlaku bagi siapa saja yang betul-betul mengharap ampunan-Nya.
Puasa Ramadan merupakan puasa yang istimewa. Allah menyiapkan pintu khusus bagi ahli puasa untuk masuk surga bernama pintu Rayyan. Pintu surga ini akan ditutup dan tidak akan dibuka lagi jika semua ahli puasa sudah masuk.
Allah akan memberikan pahala khusus bagi orang yang berpuasa Ramadan. Tidak satu makhluk pun yang tahu besarnya pahala puasa Ramadan. Bahkan, malaikat pun tidak tahu pahala dan kemuliaan yang akan Allah berikan kepada ahli puasa.
Mudah-mudahan kita semua selalu diberi kesehatan dan kesempatan untuk mengisi sisa Ramadan tahun ini. Semoga kita bisa bertemu dengan malam Lailatulqadar yang jika beribadah di dalamnya pahalanya akan berlipat seribu bulan atau sekitar 80 tahun. Amiin. Wallahu a’lam bishowab. (*)
*) Pengasuh Ponpes Sumber Anom Angsanah, Palengaan, Pamekasan.
Editor : Fatmasari Margaretta