Oleh: SYARIF HIDAYAT SANTOSO
APA itu Nangger Pangongngangan? Babad Songennep menyebut bahwa Nangger Pangongngangan adalah pohon tempat dilaksanakannya rukyatulhilal untuk menentukan masuknya Ramadan.
Babad Songennep juga menyebutkan bahwa Nangger Pangongngangan berkait erat dengan kisah dua pangeran Sumenep, yaitu Pangeran Ellor dan Pangeran Wetan. Di bawah pohon itulah, Pangeran Ellor melakukan riyadah bersama Pangeran Wetan.
Alkisah, Babad Songennep menceritakan ilham Pangeran Ellor bahwa anak angkatnya sekaligus keponakannya, yaitu Raden Rajasa, dan anak cucunya akan menjadi penguasa Sumenep selama tujuh turunan. Raden Rajasa adalah putra Pangeran Wetan dengan Ratna Taluki.
Sementara putra Pangeran Wetan dengan pernikahannya dengan putri Pangeran Siding Puri, yaitu Raden Kedduk, hanya akan menjadi bawahan Raden Rajasa. Untuk membuktikan kebenaran ini, keduanya melakukan riyadah di bawah Nangger Pangongngangan.
Alhasil, ternyata Pangeran Wetan kalah dalam riyadah ini. Beliau roboh sehari sebelum genap setahun riyadah itu diakhiri. Pangeran Wetan akhirnya mengakui kebenaran ilham Pangeran Ellor bahwa Sumenep akan dipimpin Raden Rajasa dan keturunannya, sementara Raden Kedduk dan keturunannya hanya akan menjadi patih.
Nangger Pangongngangan mengajarkan tak hanya soal hilal Ramadan. Nangger Pangongngangan juga mengajarkan tentang persatuan yang moderat. Persatuan sebagai antitesis terhadap konflik antarputra mahkota di Jawa. Sumenep saat itu dibagi dua. Namun, keberadaannya tak menimbulkan konflik.
Beda jauh dengan terbelahnya Kahuripan menjadi Kediri dan Jenggala atau Majapahit dan Blambangan yang kemudian menimbulkan konflik berkelanjutan. Seabad setelah masa hidup kedua pangeran Sumenep itu, Mataram Islam menyaksikan pula konflik beruntun antar keturunan Sultan Agung.
Konflik antar keturunan raja-raja besar menjadi kecenderungan di Jawa sejak masa Kahuripan-Kediri-Jenggala, Singasari-Kediri, Majapahit-Blambangan, dan di masa Islam. Di masa Majapahit, terjadi konflik antara Dewi Suhita dengan Bhre Wirabhumi.
Di masa Demak, konflik antara keluarga besar Trenggono sejak Joko Tingkir, Arya Penangsang, dan Prawoto melemahkan Demak. Konflik antara sesama keturunan Sultan Agung sejak masa Amangkurat 1 sampai masa meletusnya Perang Diponegoro membelah Mataram sehingga Mataram dikuasai VOC dan Belanda.
Sosok Pangeran Ellor yang tidak menikah juga mengingatkan pada Dewi Kilisuci atau Dewi Sanggramawijaya yang tidak menikah sehingga terjadi pembelahan dua kerajaan Kahuripan. Namun, Pangeran Ellor tidak identik dengan eskapisme. Beliau justru identik dengan heroism, di mana beliau gugur dalam melawan pasukan Bali.
Berbeda dengan Kilisuci yang menjadi pertapa dan eskapisnya dari pemerintahan justru menyebabkan pecah belahnya Kahuripan. Kahuripan yang nama awalnya adalah Medang terbagi menjadi Kediri dengan ibu kota Dahanapura dengan raja Samara Wijaya dan Jenggala dengan rajanya, Garasakan (DR Purwadi: 2010).
Karena itu, pohon Nangger Pangongngangan menjadi simbol persatuan. Selain pohon Nangger, filosofi Madura juga mengenal Rampak Naong Baringin Korong. Filosofinya sama, yaitu persatuan dan perdamaian. Mengapa pohon bisa menjadi simbol persatuan dalam ajaran Madura? Jawabannya ada dalam agama Islam.
Dalam ajaran Islam, para ulama mendefinisikan Islam itu tak hanya sebagai kedamaian, perlindungan, keamanan, dan kenyamanan. Para ulama memahami kata salam dengan empat makna. Makna pertama, salam merupakan masdar dari kata salima (selamat dari cacat), makna kedua salam merupakan jamak dari salama (kenyamanan dan keamanan), makna ketiga salam merupakan salah satu Asmaul Husna, makna terakhir kata salam berarti pohon hijau yang rindang (Syaikhul Islam Dr Muhammad Tahir Al Qadri: 2014).
Pada pohon hijau rindang inilah makna salam dan filosofi Nangger Pangongngangan serta Rampak Naong Baringin Korong berjumpa. Terkenal pernyataan Imam Hanafi, Assalam huwa sajarun adhimun wahuwa abadan ahdhoru (Al Salam merupakan pohon besar yang hijau selamanya).
Maka, Baringin Korong dan Nangger Pangongngangan yang hijau, kokoh, teduh, besar, dan menjadi naungan bersama diilhami oleh filosofi Islam. Pohon hijau (ahdhar) itulah yang menjadi silm, salam, salamatan bagi semua.
Dr Muhammad Tahir Al Qadri juga menyebutkan tentang kesamaan filosofi pohon hijau dengan bulan dalam kaitannya dengan berbuat ihsan. Menurut beliau dengan mengutip Ibnu Manzhur, pohon hijau yang indah disebut juga dengan Al Hasan. Sebab, pohon hijau itu memberikan naungan dan kesejukan kepada manusia, bahkan hanya dengan melihatnya.
Bulan disebut juga Al Hasin. Sebab, cahaya bulan dapat menerangi kegelapan malam dan menjadi petunjuk bagi manusia. Dengan demikian, terlihat jelas sekali bahwa ada hubungan erat antara bulan dengan pohon rindang hijau yang menyejukkan.
Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa ulama-ulama Madura masa lalu sangatlah alim sehingga mampu membikin sinergi filosofi persatuan umat dan nilai-nilai kebaikan Ramadan dalam pohon Nangger Pangongngangan. Di mana di situ ada persatuan Pangeran Ellor-Pangeran Wetan sekaligus petunjuk masuknya Ramadan.
Pada dasarnya, persatuan, perdamaian, dan keteduhan merupakan puncak perjalanan manusia. Bukankah Puncak Mikraj setelah Sidratul Muntaha dan Mustawa adalah Rafraf Al Akhdhar yang hijau itu.
Perbedaan awal Ramadan dan Tellasan selayaknya diilhami spirit ini. Tetap berporoskan filosofi perdamaian yang kokoh sebagaimana naungan di bawah pohon nangger dan beringin. Filosofi berteduh yang menyejukkan, juga filosofi persaudaraan yang kuat.
Qur’an menjelaskan kepada kita bahwa konflik antarsaudara bisa terjadi bahkan dalam keluarga Nabi seperti konflik Yusuf dengan saudara-saudaranya, konflik Yakub dengan Esau, Sulaiman dengan Absyalom, dan lainnya. Jika antarsaudara kandung saja bisa berkonflik, bagaimana dengan kehidupan berbangsa yang lebih besar. Maka, spirit persatuan Nangger Pangongngangan ini harus kita jaga. Selamat berpuasa!
*) Peminat Studi Sejarah.
Editor : Ina Herdiyana