Oleh M. SYAHIRUL EZZY
PADA mulanya, Tuhan ”menurunkan” manusia ke bumi untuk menjadikannya sebagai khalifah. Sebagaimana firman Allah: ”Aku hendak menjadikan khalifah di bumi...” (QS: Al-Baqarah: 30). Artinya, manusia mendapat tugas dan amanah untuk mengelola dan memakmurkan bumi.
Tak tanggung-tanggung, Allah juga menundukkan alam kepada manusia sebagai bekal utama dalam melaksanakan tugas tersebut. Bekal itu juga meliputi potensi ilmu, akal, dan kemampuan berinisiatif, yang menjadi modal penting untuk menjaga keseimbangan alam dan memanfaatkan sumber daya dengan bijak (Shihab, 2023).
Ironisnya, dengan berbagai krisis ekologi yang dapat kita temukan saat ini, tugas luhur tersebut tampaknya telah dikhianati. Manusia kini terus-menerus mengeruk alam dengan serakah tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan oleh perbuatan tangan-tangan kotor mereka. Akibatnya, manusia justru menghancurkan harmoni antara diri mereka sendiri dan alam sebagai tempat hidupnya.
Alam sering kali dipandang sebagai sesuatu yang harus digunakan dan dinikmati semaksimal mungkin. Sudah jauh berbeda dengan tujuan awal penugasan manusia sebagai khalifah. Alam seharusnya dirawat dan dipelihara dengan sepenuh hati, bukan sebaliknya, dikeruk habis-habisan. Tak heran jika malaikat sudah memprediksikan hal ini sejak Allah memberitakan rencana awal penugasan manusia sebagai khalifah (QS: Al-Baqarah: 30).
Khalifah yang seharusnya memakmurkan dan merawat alam justru sering bertindak sebaliknya –merusak dan mengeksploitasinya tanpa batas. Seolah perbuatan tersebut sudah menjadi hal wajar. Padahal sudah jelas dalam tuntutan agama, manusia begitu diwanti-wanti untuk tidak berbuat kerusakan, baik kepada diri sendiri, lebih-lebih terhadap lingkungan sekitarnya. Firman Allah: ”Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya...” (QS Al-A’raf: 56), menjadi peringatan tegas yang sering diabaikan.
Dalam hal makanan saja, manusia sudah bisa menghasilkan begitu banyak sampah dan limbah yang pada akhirnya juga turut andil dalam kerusakan alam. Ambil contoh sederhana: ketika membeli nasi, bungkusnya plastik. Selesai makan, haus dong, beli air, kemasannya botol plastik. Setelah makan minum, tangan berminyak atau basah ingin serbet, ambil tisu, lap sedikit, buang, sampah lagi. Belum lagi jika makanan tersebut tidak dihabiskan, pada akhirnya ya berujung di tong sampah.
Dengan berbagai masalah tadi, timbul pertanyaan besar. Di mana eksistensi dan esensi peran manusia sebagai khalifah di bumi? Jika tugas utama manusia adalah memakmurkan dan merawat bumi, mengapa pada kenyataannya banyak tindakan manusia justru membawa kehancuran?
Hidup Harmoni dengan Alam
Menjadi ”PR” manusia bersama untuk mencari cara agar alam yang sudah berada di ujung kehancurannya bisa sehat kembali. Setidaknya untuk mencegah tidak semakin rusak dan parah. Sebab sejak awal, tujuan manusia diutus sebagai khalifah di muka bumi adalah untuk memakmurkan bumi. Bukan sebaliknya, membawa bumi di ambang kemusnahan sehingga ini harus menjadi fokus utama manusia.
Manusia (kita) bisa memulainya dengan memaknai alam kembali. Alam yang penuh dengan spiritualitas; alam yang penuh kasih cinta, bukan sekadar dianggap sebagai sumber daya yang bisa dieksploitasi. Sebagaimana yang diajarkan Nabi dahulu. Hal ini terlukiskan pada sabda Nabi saat tengah bergolaknya Perang Uhud: ”Gunung Uhud mencintai kita dan kita pun mencintainya.” (HR. Muslim). Dari hadis ini terlihat bahwa tak hanya makhluk hidup yang dapat merasakan cinta dan kasih. Benda tak benyawa pun mendambakan rasa kasih sayang, demikian juga alam.
Maka, tak sepatutnya bila manusia terus-menerus merusak alam. Sebab, disadari atau tidak, hidup kita sepenuhnya bergantung pada alam. Begitu pentingnya alam hingga Seyyed Hossein Nasr (2022) menganggap bahwa kedudukan alam setara dengan Al-Qur’an, yaitu sebagai manifestasi Tuhan; tanda kekuasaan Tuhan. Perbedaannya hanya tertetak pada bentuk, yakni Al-Qur’an tersusun dalam bentuk tulisan, sedangkan alam tidak.
Karena itu, sebagaimana Al-Qur’an yang tidak boleh diperlakukan secara sembarangan, alam juga demikian. Segala kegiatan manusia seharusnya tidak berorientasi pada perusakan, tetapi demi pelestarian dan kebaikan alam itu sendiri. Selaras dengan tugas dan tujuan seorang khalifah yang telah Allah berikan. Dari sana manusia juga dapat mengembalikan eksistensinya sebagai khalifah dan penjaga alam yang kian hari kian pudar.
Manusia perlu kembali menyadari bahwa ia mengemban sebuah tugas dan amanah mulia, yaitu menjaga dan memakmurkan alam. Sebagai penjaga, semua kegiatan manusia harus berorientasi pada kemaslahatan alam raya, bukan sebaliknya eksploitasi bumi secara berlebihan. Sebab, pada dasarnya kita berasal dari alam dan pada akhirnya akan kembali kepada alam juga .Wabillahi at-taufiq. (*)
*) Siswa kelas XII-A SMA Annuqayah
Editor : Ina Herdiyana