Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Resolusi Tahun Baru, Menyemai Cahaya Bintang

Ina Herdiyana • Minggu, 5 Januari 2025 | 23:07 WIB
MOHAMMAD ZAINUL ALIM UNTUK JPRM
MOHAMMAD ZAINUL ALIM UNTUK JPRM

Oleh MOHAMMAD ZAINUL ALIM*

BANYAK cara orang melewati pergantian tahun. Ada yang menikmatinya dengan penuh sukacita. Ada pula yang menganggapnya seperti hari-hari biasa. Ada yang gegap gempita menyambutnya di malam penuh gemerlap. Tapi tak sedikit pula sejak awal hingga kini melakukan refleksi dan mulai membuat target pencapaian di masa mendatang.

Target pencapaian inilah yang kemudian kita kenal dengan resolusi. Resolusi di tahun baru dapat kita kerjakan di akhir tahun atau di awal tahun berjalan. Menyendiri dan merefleksikan perjalanan setahun ke belakang sambil menuliskan harapan untuk masa depan, barangkali bisa menjadi cara efektif menyempurnakan dan mengawali tahun.

Senyampang melakukan refleksi diri, ada satu cara yang mungkin dapat berguna untuk kita mengawali perjalanan di tahun-tahun di masa depan yang penuh tantangan, yakni memetik pelajaran dari cahaya bintang di langit.

 Baca Juga: Memandangi Kota dari Ketinggian Stinggil: Catatan Ulang Tahun Ke-401 Kabupaten Sampang

Belajar dari Cahaya Bintang     

Malam hari mempunyai cara tersendiri merangkul orang-orang di bumi. Setelah seharian beraktivitas mencari nafkah, sejenak pergi ke halaman rumah dan gelar tikar. Di tengah hening malam cobalah rebahan di bawah langit malam.

Tanpa tirai jendela, tanpa atap, hanya tubuh terbaring di atas rerumputan atau sekadar di atas tikar lusuh. Lihatlah ke atas. Cahaya bintang yang gemerlap mungkin tak menemukan jawaban, tapi ia memberi ruang bagi kita, bagi segala pertanyaan yang mungkin kita lupa.

Bintang gemintang tak pernah berbicara bahasa kita. Saat ditanya tentang dirinya, barangkali ia akan menjawab ”walaupun jauh ribuan tahun cahaya, aku di sini masih bersinar untukmu wahai manusia, menjadi bagian dari hidupmu di dunia.” Keberadaan bintang di langit menjadi pengingat sederhana bahwa walaupun kita kecil, tak pernah benar-benar sia-sia.

Tanpa kita minta, cahaya bintang berpendar seperti mutiara terhampar di selembar kain hitam. Tak sama dengan percikan kembang api di malam perayaan pergantian tahun baru. Tapi percayalah, saat menengadah ke langit malam ada ketenangan yang merasuk saat kita menatap ribuan titik cahaya bintang.

Ketenangan seperti ini barangkali menjadi inspirasi bagi banyak orang. Karya besar seorang penyair, filsuf, atau pemikir besar tak jarang lahir dari inspirasi kilauan cahaya bintang di langit malam. Mereka serasa menemukan makna terdalam dari keabadian cahayanya yang menghiasi bumi di tengah kegelapan malam.

Allah SWT dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 190–191 berfirman; ”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.'"

Ya, berpayung langit dengan hiasan bintang gemintang kita diperintah untuk berpikir. Sang Mahakuasa telah menghamparkan bukti empiris untuk kita melakukan refleksi. Bintang tak hanya menjadi sumber inspirasi, juga sebagai penanda bagi setiap orang yang berpikir. Bagi nelayan yang mencari ikan di tengah laut, bintang menjadi petunjuk arah berlayar dan bagi para musafir yang melintasi gurun pasir.

”Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui." Begitulah firman Allah SWT yang termaktub di dalam Qur’an Surah Al-An’am ayat 97.

Secara tidak langsung ayat ini menegaskan bahwa bintang di langit bukan sekadar ciptaan yang indah, tapi dapat dijadikan sarana bagi kita kaum berpikir untuk menemukan arah, petunjuk, dan sumber inspirasi mahakarya umat manusia.

Dalam sejarah peradaban manusia, bintang menjadi semacam obsesi. Sejarah mencatat ribuan tahun manusia memimpikan perjalanan antarbintang. Dalam manuskrip kuno, banyak simbol tentang bintang dan alam semesta. Saat ini pun bisa kita lihat begitu banyak novel atau film yang mengisahkan tentang perjalanan antarbintang. Film Star Wars misalnya.

Hingga saat ini, tak ada seorang pun yang dapat merealisasikan seperti yang digambarkan Star Wars. Mentok baru sampai ke Bulan. Itu pun perjalanan singkat. Bahkan obsesi menjelajah hingga planet Mars pun masih dalam penelitian lebih lanjut. Sebagaimana cita-cita Elon Musk dengan Space X-nya.

Ilmu pengetahuan manusia saat ini sudah berkembang begitu pesat, tapi pembahasan tentang penjelajahan alam semesta dan penjelajahan antarbintang selalu berhenti pada satu topik dasar. Mampukah manusia menemukan transportasi yang bisa melebihi kecepatan cahaya?

Dengan teknologi kita saat ini, manusia baru mampu menjelajah hingga planet terjauh dalam tata surya kita, Pluto. Perlu setidaknya 10 tahun untuk sampai. NASA mengirimkan pesawat ruang angkasa pada 19 Januari 2006. Pesawat tanpa awak itu tiba di sistem Pluto-Charon pada 14 Juli 2015. Sudah terasa jauh bukan? Perlu kita ketahui bahwa itu baru perjalanan di alam semesta kita. Belum mencapai galaksi dan bintang-bintang.

Dalam konteks resolusi tahun baru, di balik kilauannya yang jauh bintang mengajarkan kita tentang dua hal penting, tentang kesabaran dan arah atau tujuan. Belajar dari bintang, bahwa resolusi bukan sekadar daftar keinginan yang ditulis dengan indah di buku harian atau diunggah di media sosial. Ia adalah komitmen untuk terus bergerak, bahkan ketika jalan yang ditempuh gelap dan penuh tantangan.

Seperti perjalanan manusia ke luar angkasa. Mereka membutuhkan waktu puluhan tahun dan modal yang tidak sedikit. Maka resolusi besar membutuhkan waktu, upaya, dan ketekunan. Sebagai manusia yang serba terbatas, tidak semua resolusi yang kita torehkan akan langsung tercapai dalam satu tahun.

Eksplorasi manusia ke luar angkasa membutuhkan waktu puluhan tahun untuk mencapai Pluto. Maka resolusi besar membutuhkan waktu, upaya, dan ketekunan. Tidak semua resolusi akan langsung tercapai dalam satu tahun. Seperti bintang yang tak pernah lelah memancarkan cahayanya di tengah kegelapan, kita pun harus tetap bersinar di jalur yang kita pilih.

Bintang mengingatkan kita akan keterhubungan. Gugusan bintang yang kemudian membentuk rasi-rasi bintang adalah keterhubungan dari satu bagian dengan bagian lainnya. Dari sini kita belajar bahwa mimpi kecil atau setiap langkah kecil adalah bagian dari gambaran besar yang kita bangun dalam kehidupan. Siapa pun kita dan dari mana asalnya mestilah berbangga hati sekaligus selalu merasa kurang untuk mengoptimalisasi segala potensi diri. Selamat Tahun Baru 2025, yakinlah tak ada yang mustahil untuk meraih mimpi. (*)

 

*) Pimpinan PP Aqidah Usymuni Sumenep

 

Editor : Ina Herdiyana
#Gegap Gempita #resolusi #tahun baru #cahaya bintang #opini #catatan