Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Menemukan Jati Diri Melalui Filsafat: Sebuah Perjalanan yang Tak Pernah Selesai

Amin Basiri • Selasa, 31 Desember 2024 | 17:20 WIB
Dewi Indra Utama
Dewi Indra Utama

Oleh: Dewi Indra Utama ( Mahasiswi prodi Hukum Tata Negara STIT Al Ibrohimy Bangkalan dan kader HMI Cakraningrat)


RadarMadura.id - Apa hubungan antara jati diri dan filsafat? Pertanyaan tersebut mungkin sering muncul di benak anda dan kerap menjadi perbincangan di khalayak umum, namun apakah anda sudah menemukan jawaban?

Filsafat merupakan induk dari ilmu pengetahuan, filsafat dikenal dengan love of wisdom yaitu mencintai kebijaksanaan, dalam love of wisdom diperlukan sebuah pemikiran liar sehingga memunculkan berbagai pertanyaan untuk mencari suatu jawaban pasti dan pada akhirnya jawaban-jawaban pasti tersebut akan berujung pada ketenangan diri.

filsafat juga telah lama menjadi sarana untuk memahami eksistensi manusia dalam mencari makna kehidupan, dan menjawab pertanyaan mendalam tentang siapa sebenarnya diri kita ini.

Dalam filsafat ada yang namanya berpikir secara radikal, radikal itu sendiri adalah berpikir kritis untuk memahami hakekat dan unsur-unsur dari suatu hal.

filsafat merupakan proses kritik terhadap sesuatu yang dipercayai dan sifat yang dianggap selalu benar untuk memahami realitas secara menyeluruh dan mendalam melalui pemikiran yang kritis, sistematis, dan rasional.

Dari zaman Yunani kuno hingga pemikiran kontemporer, filsafat menawarkan jalan untuk menemukan jati diri melalui refleksi, pertanyaan kritis, dan pencarian kebenaran yang lebih akurat.

Di era globalisasi seperti sekarang ini semakin banyak pertanyaan yang membutuhkan jawaban dalam kehidup sehari-hari, banyak kerumitan yang muncul akibat ketidak sadaran dalam subtansi jati diri, filsafat memberikan panduan untuk menyusun kembali arah hidup serta menjawab berbagai persoalaan-persoalan yang terjadi, memberi wawasan baru tentang identitas diri kita, dan membantu kita mencari makna yang lebih dalam untuk perjalanan hidup ini.

Dalam konteks filsafat, Pencarian jati diri ini sudah sering sekali dibahas dan dikembangkan oleh beberapa filsuf terkemuka dan sangat erat kaitannya dengan keberadaan diri atau identitas pribadi.

Jati diri itu sendiri merujuk pada identitas atau ciri khas yang membedakan seseorang dari yang lainnya, yang di mana hal-hal itu meliputi nilai-nilai, prinsip, keyakinan, perasaan, dan pandangan hidup yang dimiliki seseorang.

Jati diri juga berkaitan dengan pemahaman tentang siapa diri kita ini, baik dalam hal pandangan terhadap diri sendiri maupun bagaimana kita ingin dipandang orang lain.

Jean-Paul Sartre berpendapat bahwa "Jati diri adalah sesuatu yang terus berkembang yang mana, itu dipengaruhi oleh pengalaman, pilihan, dan tindakan kita.

" Dalam tradisi filsafat lain, John Locke mengemukakan "Identitas pribadi itu dipandang sebagai kesadaran dan memori.

" Locke berpendapat bahwa jati diri seseorang adalah kesinambungan dari ingatan dan pengalaman pribadi yang membentuk siapa kita dari waktu ke waktu, meskipun tubuh dan kondisi fisik kita berubah.

Secara keseluruhan, jati diri dalam filsafat tidak dianggap sebagai sesuatu yang tetap atau kaku, melainkan sebagai suatu proses yang berkembang, bergantung pada refleksi diri, pengalaman, dan pilihan hidup yang terus berubah.

Dalam pencarian jati diri ada beberapa hal yang bisa dilakukan seperti:

1. Pencarian Jati Diri melalui Pertanyaan Dasar

Pencarian jati diri sering kita mulai dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang sulit dijawab, Seperti : "Siapa saya?" atau "Apa tujuan hidup saya?" Filsafat memberikan landasan untuk merenung lebih dalam tentang eksistensi ini.

Filsuf Yunani kuno seperti Socrates mengajarkan kita untuk "Mengenal diri sendiri" melalui refleksi diri yang kritis.

Dalam karyanya, Socrates menekankan pentingnya introspeksi dan pengujian keyakinan kita. Baginya, kehidupan yang tidak diperiksa tidak layak dijalani.

Maka dari itu, pencarian untuk menemukan siapa kita sebenarnya dimulai dengan pengakuan bahwa diri kita bukanlah sesuatu yang kita kenali begitu saja, melainkan sesuatu yang harus terus digali, dipertanyakan, dan dipahami lebih dalam.

Socrates juga memperkenalkan metode dialektika, yaitu dialog yang mengarah pada pemahaman yang lebih baik tentang kebenaran. Dalam percakapan tersebut, seseorang dapat menggali nilai-nilai dan keyakinan mereka yang mungkin sebelumnya tidak disadari.

Filsafat mengajarkan kita untuk menantang asumsi kita tentang dunia dan diri kita sendiri. Dengan meragukan dan mempertanyakan hal-hal yang kita anggap pasti, kita bisa mencapai pemahaman yang lebih dalam tentang siapa kita.

Martin Heidegger juga memebrikan pandangan mengenai pencarian jati diri dengan konsep "Hidup adalah perjalanan menuju kematian" itu mengarah pada pemahaman bahwa eksistensi manusia tak terlepas dari kesadaran akan kematian.

Baca Juga: Taraju Harmoni Alam Lestari

Dalam karya utama Martin Heidegger yaitu "Being and Time". Heidegger mengungkapkan bahwa seringkali manusia terperangkap dalam rutinitas sehari-hari dan melupakan kenyataan bahwa hidup akan berakhir.

Kematian seharusnya bukanlah sesuatu yang dihindari, tetapi harus diterima sebagai bagian dari hidup yang tak terrelakkan.

Dengan menerima kenyataan tersebut, seseorang dapat lebih bebas untuk hidup dengan penuh kesadaran akan makna dan tujuan hidupnya.

Pencarian jati diri, dalam pandangan Heidegger, berkaitan erat dengan konsep "Being-toward-death" atau keberadaan yang selalu mengarah pada kematian.

Ini mengajarkan kita untuk tidak lari dari kematian, melainkan menghadapinya dengan penuh kesadaran, serta memberi makna pada setiap langkah dan pilihan yang diambil.

Dalam pandangannya, jati diri bukanlah sesuatu yang tetap, melainkan proses yang terus berkembang seiring dengan pengalaman dan pemahaman kita tentang kematian.

Dengan demikian, pandangan Heidegger yang menyatakan bahwa "Hidup adalah perjalanan menuju kematian" mengajak kita untuk menyadari bahwa hidup ini terbatas dan kita harus menghadapinya dengan pemahaman mendalam tentang eksistensi kita yang sementara.

Hal ini mendorong kita untuk menjalani hidup secara otentik, bukan hanya mengikuti rutinitas sosial, tetapi dengan kesadaran penuh akan makna hidup kita yang akhirnya akan berakhir.

2. Mencapai Pemahaman Jati Diri yang Menyeluruh

Pada akhirnya, menemukan Jati Diri melalui filsafat bukanlah tujuan yang dapat kita capai dalam sekejap atau hanya melalui satu jalan.

Ini adalah perjalanan panjang yang penuh dengan pertanyaan yang tak terjawab dan refleksi yang berkelanjutan.

Filsafat mengajarkan bahwa kita harus terus mengenali diri kita, menantang pemikiran kita, dan berani menerima kenyataan-kenyataan sulit tentang hidup ini.

Pencarian jati diri ini juga harus mencakup pemahaman tentang hubungan kita dengan orang lain dan dengan dunia sekitar kita, karena identitas kita tidak bisa dipisahkan dari konteks sosial, budaya, dan alam semesta yang lebih besar.

Filsafat mengajak kita untuk tidak hanya mencari jawaban, tetapi juga menikmati proses pencarian itu sendiri.

Ketika kita membuka pikiran terhadap berbagai pemikiran filosofis sehingga memperluas wawasan dan menemukan cara-cara baru untuk melihat dunia dan diri kita sendiri, pada akhirnya menjadi lebih sadar akan kebebasan serta tanggung jawab kita atas pilihan hidup yang kita buat.

Dalam perjalanan ini, kita mungkin tidak akan sepenuhnya menemukan jati diri kita dalam pengertian yang final, tetapi kita akan semakin mendekat pada pemahaman yang lebih dalam tentang siapa kita sebenarnya.

Dengan kata lain, filsafat tidak hanya mengajarkan untuk menemukan jati diri, tetapi juga mengingatkan bahwa pencarian ini adalah bagian penting dari perjalanan hidup.

Dalam pencarian panjang ini, kita menemukan kebebasan, kesadaran, dan pemahaman yang lebih dalam tentang arti hidup.

Editor : Amin Basiri
#Filsafat #kritik #proses #jati diri