Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Refleksi Model Pendidikan Masyarakat Bangkalan

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 19 Mei 2024 | 13:30 WIB
Hafid Syaifuddin Fatah
Hafid Syaifuddin Fatah

Oleh HAFID SYAIFUDDIN FATAH

 

SETIAP 2 Mei ditandai dengan perayaan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Penetapan waktu ini dinisbatkan pada sosok Menteri Pengajaran Indonesia pertama yaitu Ki Hadjar Dewantara atas peran dan pergerakan beliau dalam menyusun konsep, model sistem pendidikan Indonesia hingga pendirian Taman Siswa tahun 1922 di Jogjakarta yang memotivasi gelombang semangat belajar masyarakat masa itu. Oleh karena itu, kita merayakan hari pendidikan sebagai penghormatan terhadap karya para pahlawan. Dan hari ini, kita semua menyaksikan pengaruh pendidikan telah mengubah manusia dan kehidupannya.

Namun, hal itu terjadi kurang sempurna di Madura, khususnya Kabupaten Bangkalan. Sebagai warga Bangkalan, penulis masih bertanya-tanya dan menganalisis faktor apa yang menjadikan pendidikan di Bangkalan berjalan kurang sempurna. Padahal jamak diketahui Bangkalan secara khusus atau Madura secara umum adalah wilayah dengan basis keislaman yang kuat di Jawa. Tidak hanya kental dalam penerapan budaya Islam, Bangkalan memiliki jumlah institusi pendidikan keislaman yang hampir tersebar merata hingga sudut-sudut pelosok desa, baik berupa pondok pesantren maupun lembaga madrasah diniyah.

Pendidikan Agama dan Sains

Pesantren dan lembaga madrasah diniyah merupakan tiang penopang paling kokoh dalam penegakan pendidikan keislaman di tengah-tengah sosial masyarakat yang sedang membutuhkan gerakan pencerahan (enlightenment). Institusi ini memiliki visi menyebarkan pendidikan Islam dan masyarakat percaya terhadap visi tersebut sehingga terjadi tali-temali needs antar satu sama lain. Kepercayaan itu pada gilirannya berubah menjadi worldview dan secara alamiah membangun stigma bahwa manusia-manusia Bangkalan tidak boleh dibiarkan tumbuh besar tanpa pengetahuan agama.

Stigma ini mendorong lahirnya budaya mondok atau sekolah madrasah diniyah di masyarakat Bangkalan. Budaya mondok dan sekolah madrasah diniyah berjalan lama di hampir setiap desa sehingga melahirkan manusia-manusia religius yang berpengetahuan agama setiap tahun. Kendati hanya menyajikan materi seputar pengetahuan agama Islam dengan memberi titik fokus penguasaan pada teks-teks dan literatur Arab yang menyimpan khazanah intelektual Islam, faktanya institusi pendidikan keislaman berhasil membangun kepercayaan penuh dan diminati hampir seluruh masyarakat Bangkalan.

Terbangunnya pengetahuan, worldview, paradigma, dan budaya Islam di lapisan masyarakat Bangkalan tidak berdiri sendiri tanpa pijakan dasar. Adalah Bangkalan mendapat julukan kota santri hasil dari kulminasi pengaruh ketokohan kiai, meratanya institusi pendidikan Islam di desa-desa dan antusiasme masyarakat atas gerakan institusionalisasi keagamaan di ranah sosial. Penulis mencatat, terdapat 208 institusi pondok pesantren yang berdiri di seluruh Bangkalan dan kurang lebih 1.167 lembaga madrasah diniyah tersebar merata di 18 kecamatan se-Kabupaten Bangkalan.

Selain itu, data jumlah institusi pendidikan Islam jenjang raudlatul athfal (RA) terhimpun sebanyak 125 sekolah, madrasah ibtidaiyah (MI) sebanyak 143 sekolah, madrasah tsawaniyah (MTs) se-Bangkalan berjumlah 144 sekolah, dan madrasah aliyah (MA) se-Bangkalan terdata 67 sekolah. Dan perguruan tinggi di bawah naungan pondok pesantren berjumlah 8 berjenis sekolah tinggi. Maka, bisa kita hitung total jumlah keseluruhan institusi pendidikan Islam yang tersebar di Bangkalan sebanyak 1.862. Angka ini jauh lebih besar daripada institusi pendidikan umum yang tersebar di Bangkalan.

Sedangkan data institusi pendidikan umum, selanjutnya penulis sebut sebagai institusi pendidikan sains, untuk jenjang TK terhitung ada 575 sekolah yang tersebar se-Bangkalan, SD sebanyak 686 sekolah dan SMP berjumlah 265 sekolah. Sedangkan untuk jenjang SMA terdata ada 69 sekolah se-Bangkalan, 68 sekolah untuk ketegori SMK, dan 4 institusi perguruan tinggi. Total keseluruhan insitusi pendidikan sains di Bangkalan hanya 1.667 sekolah.

Dari data di atas bisa ditarik kesimpulan mengapa masyarakat Bangkalan memiliki kecondongan kuat terhadap agama. Namun, dalam tulisan ini penulis perlu mengajukan pertanyaan pragmatis. Antara pendidikan agama dan sains, manakah yang lebih memberi dampak bagi kehidupan? Sebab, penulis merasa resah meratapi Bangkalan yang institusi pendidikan agamanya lebih banyak daripada institusi pendidikan sains, namun faktanya tidak mengalami pertumbuhan signifikan. Penulis mengira, apakah mungkin pendidikan agama hanya mampu memberi dampak kecil bagi kehidupan manusia.

Paradoks Kota Santri

Untuk merayakan hari pendidikan, rasanya penulis ingin menyoal pendidikan yang ada di Bangkalan. Penulis menimbang, Bangkalan sebagai kota santri dengan jumlah institusi pendidikan agama sebanyak 1.862 seyogianya mampu menciptakan kemakmuran dan kemajuan. Para santri lulusan pondok pesantren, madrasah diniyah, dan institusi keagamaan formal seperti MI, MTs, MA dan sekolah tinggi agama Islam (STAI) merupakan duta-duta moral. Santri sebagai pengkhotbah kebaikan di ranah sosial sejatinya berperan besar guna menjaga moral masyarakat agar tidak tumbuh secara liar dan mudah terkendali.

Santri sebagai duta moral seyogianya mampu meredam segala bentuk kejahatan moral dan mengarahkan masyarakat pada tatanan yang baik sehingga tercipta peradaban yang maju. Moral masyarakat yang terkendali akan menciptakan kondisi sosial-politik yang stabil, pertumbuhan ekonomi yang cepat dan kehidupan yang sehat. Masyarakat dengan moral yang terkendali mendorong kinerja birokrasi yang baik, nihil kasus korupsi, supremasi hukum, penegakan keadilan, minimnya kejahatan sosial, aksi kriminal dan segala keburukan moral lain disebabkan kehidupan masyarakat didasari oleh keimanan sehingga tercipta rasa aman.

Idealnya keimanan menggerakkan segala unsur kebaikan dalam tatanan sosial. Namun, alih-alih menjadi kota adil makmur dengan mayoritas masyarakat adalah santri, Bangkalan malah menjadi kota yang tidak tertata, ekonomi lemah, dan kerja birokrasi yang curang. Kendati aksi kriminal terbilang minim terjadi, namun faktanya masyarakat Bangkalan tidak mampu membaca peluang tumbuh menjadi kota yang maju memanfaatkan potensi geografis, SDA, SDM, dan inovasi ekonomi. Pemerintah yang korup mewarisi sikap birokrasi yang culas dan paradigma masyarakat yang kurang sehat.

Penulis menimbang, Bangkalan tidak benar-benar menjadi kota santri sebagaimana yang diidealkan. Menata moral, membangun kesadaran, dan memicu perubahan sosial. Inilah letak paradoksnya, membaca wajah real Bangkalan justru menemukan fakta tidak sebagai kota santri. Masih ada banyak kekacauan yang terjadi dan paradigma masyarakat tradisional masih menjamur di pelosok-pelosok melukis raut muka warga miskin desa. Menggambarkan buruknya ekonomi, nihilnya program pemerintah desa, dan hilangnya prinsip persaudaraan.

Kota santri yang diagungkan lebih mendekati wajah kota primitif yang jauh tertinggal. Penulis berusaha menghindari anggapan agama adalah ajaran primitif yang perlu disisihkan, justru agama menghimpun pandangan-pandangan revolusioner, progresif, dan inklusif. Ayat suci banyak memerintahkan agar kita memperhatikan fakir miskin, kaum duafa, bersedekah, mengeluarkan zakat, tidak menghina, tidak merendahkan, dan menunaikan perintah salat serta puasa. Jelas ini adalah himpunan doktrin sosial progresif. Namun faktanya, mengapa para pelaku agama malah bertindak sangat primitif dan cukup regresif.

Baca Juga: Pendidikan yang Keropos

Dikotomi Ilmu Agama dan Sains

Sebelum tahun 2000-an, era pendidikan agama sangat mendominasi kehidupan masyarakat Bangkalan. Tradisi mondok/nyantri menjadi tren bahkan kultur yang mendapat perhatian penuh. Masyarakat saling berlomba-lomba memondokkan putra-putrinya di pesantren-pesantren Bangkalan dengan tujuan menerima pendidikan moral, berkemampuan membaca teks Arab, dan menjadi manusia berpendidikan. Semangat memperoleh pendidikan tersebut tidak pernah pudar hingga hari ini, meskipun paradigma dikotomis masih lestari di lapisan masyarakat Bangkalan.

Namun pasca 2001, ditandai oleh berdirinya Universitas Trunojoyo Madura di ujung barat Kota Bangkalan, model pendidikan Bangkalan mulai berubah. Keberadaan kampus yang menyajikan pendidikan ilmu sosial dan ilmu alam (penulis mengistilahkan pendidikan sains) membelah model pendidikan masyarakat Bangkalan. Dari yang semula dominasi pendidikan agama menjadi integrasi pendidikan agama dan sains. Namun, pembelahan yang cepat ini menyisakan paradigma dikotomis bagi mereka yang tidak mampu mengintegrasikan dua keilmuan ini sehingga terjadi perubahan yang kurang merata.

Pertemuan dua keilmuan ini, antara ilmu agama dan sains, tidak terjadi sempurna di masyarakat bawah. Efek dari pertemuan dua keilmuan ini, alih-alih integrasi justru dikotomi. Sebagian masyarakat kesulitan membuka cara pandang baru dan sebagian lain mengalami romantisme dengan era pendidikan agama di masa silam. Meski beberapa pesantren modern mulai beradaptasi, yakni menerapkan dua keilmuan agama dan sains di sekolah-sekolah formal pesantren modern, namun ada beberapa yang masih komitmen hanya menerapkan pendidikan tunggal saja, yakni pendidikan agama Islam.

Penulis sangat merasakan betul dampak pertemuan dua keilmuan ini sewaktu nyantri pada 2011 silam. Yaitu, saat para santri mengalami transisi besar-besaran dari akhirat oriented menjadi dunia oriented. Akibat dari fokus para santri terpecah dan mulai kehilangan tujuan belajar ilmu agama di samping tawaran pendidikan sains yang menarik dan profitable. Dari fenomena ini muncul dua sikap, yakni integrasi dan dikotomi. Kelompok dikotomi terbagi dua, sebagian kecil memilih fokus pada pendidikan sains semata dan sebagian besar memilih pendidikan ilmu agama saja untuk sarana perjalanan hidup mereka.

Nahasnya, masyarakat yang memilih mendikotomi dua keilmuan ini terlempar dari jalur realitas menjadi manusia asing yang saling meninggalkan satu sama lain. Sejatinya penulis sangat meyayangkan fenomena ini terjadi di Bangkalan, namun bagaimanapun perubahan harus tetap terjadi dan digagas. Hari ini masuk era sains mengontrol kehidupan masyarakat dengan beragam disiplin ilmu dan pendekatan. Masyarakat modern membagi paradigma mereka dan mengakui bahwa pengetahuan sains memberi dampak dan nilai pragmatis besar dalam kehidupan.

Masyarakat modern mulai percaya bahwa kehidupan ini akan lebih baik ditata menggunakan ilmu politik, hukum, ekonomi, sejarah, geografi, sosiologi, psikologi, farmasi, keperawatan, ilmu bedah, dan lainnya. Di samping sisi masyarakat modern, juga butuh ilmu agama sebagai refleksi dan bahan renungan tentang spektrum supranatural yang tidak dijelaskan ilmu pengetahuan sosial atau alam (sains). Agama juga memberi ajaran ideal nan abadi yang tak lekang oleh zaman dan paradoksal ideologi. (*)

*)Pengurus DPD KNPI Jatim

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#bangkalan #agama #sains #refleksi #hardiknas #Keilmuan #pesantren #masyarakat #Paradigma #pendidikan #modern #budaya islam #model