Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Belajar dari Layang-Layang

Berta SL Danafia • Senin, 4 September 2023 | 04:34 WIB
Umar Faruk Fazhay
Umar Faruk Fazhay

HAL menarik ketika musim kemarau tiba, orang-orang di kampung dan pedesaan mulai dari anak-anak sampai orang tua, berbondong-bondong main layang-layang. Mereka membuat layang-layang dari bambu dengan ukuran berbeda-beda mulai dari yang paling kecil sampai yang paling besar, mulai dari yang biasa sampai yang menarik dan luar biasa, dengan model dan bentuk yang beragam. Waktu sore hingga malam, langit tidak hanya dipenuhi gemerlap cahaya bintang-bintang, tapi juga dipenuhi lampu-lampu yang dipasang di layang-layang, ditambah lagi bunyi sawangan yang menjadi ciri khas layang-layang pedesaan.

Entahlah, memperhatikan layang-layang beserta benang panjang yang menjadi pengikatnya saya jadi teringat filosofi pendidikan bahwa ”mendidik anak itu ibaratnya bermain layang-layang, adakalanya kita melepas, adakala kita menarik benangnya”. Guru maupun orang tua kadang dituntut konsisten dan disiplin mengarahkan anak-anaknya agar sesuai dengan harapan, sesekali guru harus tega memberi hukuman yang bertujuan memantik efek jera bagi anak karena bagaimanapun ”aturan tanpa reward (hadiah) dan punishment (hukuman) itu tidak akan bisa terlaksana dengan baik”, tapi tetap mendidik dengan tegas bukan keras, apalagi kasar.

Sebenarnya ada banyak bentuk hukuman, terlalu sempit kalau hukuman hanya diidentikkan dengan kekerasan pada fisik dan mental. Hukuman bisa dilakukan dengan berbagai macam cara seperti membuat rangkuman materi pelajaran, berdiri sambil membaca satu bab buku non pelajaran, membuat puisi, membacakan puisi di depan umum, membuat kreativitas dari bahan-bahan bekas, dan masih banyak lagi yang lain. Cuma, karena kadang guru mati gaya alias sudah tidak punya gagasan kreatif untuk mengondisikan kelas, ujung-ujungnya berakhir pada kekerasan fisik dan mental. Makanya sebelum mengajar, seorang guru harus menyelesaikan masalah domestiknya terlebih dahulu, baru kemudian menyiapkan materi pelajaran.

Sepaham apa pun guru terhadap materi pelajaran, harus tetap melakukan persiapan ketika hendak mengajar. Setiap anak adalah bintang. Guru harus mampu menyalakan cahaya bintang yang terdapat dalam diri anak, tidak putus asa mencari cara agar potensi anak memancar keluar. Penting bagi guru untuk memahami konsep kecerdasan majemuk (multiple intelligences) agar tidak mudah menyerah dalam mencari bakat-minat dan potensi anak. Guru harus mampu menaklukkan murid dengan cara mengaktualisasikan potensinya, guru harus punya banyak cara, harus aktif, kreatif, dan inovatif ketika memberikan materi pelajaran. Jangan sampai guru membuat peserta didik putus asa dan gagal mengeluarkan potensinya.

Sebab itu, dibutuhkan perencanaan pembelajaran, jangan sampai perencanaan pembelajaran sebatas untuk memenuhi ”tugas administrasi semata”. Sementara implementasi ketika berada di ruang kelas sangat kosong dan bertolak belakang. Gagal membuat perencanaan pembelajaran sama halnya merencanakan kegagalan. Ingat bahwa tugas mulia guru adalah mengusahakan untuk mengubah sosok anak dengan penuh perencanaan.

Selain itu, guru harus aktif mengevaluasi materi-meteri yang telah disampaikan, baik dalam tahapan pre test maupun post test. Guru juga harus mampu mengukur kemampuan tiap peserta didik, pendekatan mastery learning mendapatkan relevansinya dalam hal ini. Dalam artian, memberikan tambahan waktu bagi anak-anak yang secara IQ lemah dan berada di bawah rata-rata.

Menjadi guru tidak hanya pandai menguasai materi, tapi juga butuh skill pedagogi, yakni keterampilan mengajar yang harus dimiliki oleh setiap guru. Dengan demikian, guru mampu menyajikan sajian materi yang pas bagi murid. Kesalahan terbesar bagi guru ketika murid dipaksakan menguasai materi sebagaimana yang dikuasai oleh gurunya, tanpa memperhatikan dan mempertimbangkan objek yang diajarinya karena tidak pas kalau bayi dikasih makan nasi, apalagi jagung. Karena itu, guru dituntut mengenali karakter, sikap, dan perilaku peserta didik, termasuk kemampuan dan minat serta bakatnya.

Dan, untuk mengetahui karakter, kemampuan serta minat dan bakat murid, guru harus banyak melihat, merenung, membaca, menulis, dan berdiskusi. Manusia adalah makhluk yang unik, tidak ada manusia yang langsung sempurna, beda dengan hewan mamalia seperti sapi dan kambing, yang ketika melahirkan tidak butuh waktu lama untuk bisa berjalan. Sementara manusia harus melalui beberapa tahapan; mulai dari mengangkat kepala, tengkurap, berguling, duduk, merangkak, dan berjalan. Dari sini kita menyaksikan bahwa untuk menuju sempurna dibutuhkan proses panjang. Begitu pun dalam hal pendidikan, guru harus mampu bertahan kuat untuk sampai pada titik murid berpengetahuan dan berkepribadian. Dengan cara mengayunkan langkah pembelajaran tahap demi tahap sehingga membentuk perjalanan belajar muridnya.

Karena itu, tidak dibenarkan apabila guru hanya mendewakan satu metode mengajar. Guru harus inovatif untuk menciptakan atmosfer belajar. Karena ketika atmosfer belajar sudah mulai terbangun dalam lingkungan pendidikan, secara otomatis ”rasa ingin tahu” anak akan tumbuh dengan sendirinya dan pada tahapan ini guru dikatakan sukses mengorbitkan potensi muridnya. Sebuah kebahagiaan yang tak bisa ditukar dengan apa pun bagi guru ketika sudah melihat muridnya terbang tinggi seperti halnya layang-layang di waktu sore. (*)

Oleh UMAR FARUK FAZHAY

PW PGMNI Jatim sekaligus Founder Ashufa Institute

Editor : Berta SL Danafia
#guru #kemarau #anak #layang-layang #murid #radar madura