Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Santri Menjawab Tantangan Modernitas

Dafir. • Rabu, 22 Oktober 2025 | 18:57 WIB
Photo
Photo


OLEH: MH Said Abdullah

SANTRI dan pesantren kerapkali diasosiasikan ndeso, kurang pergaulan, dan berpandangan kolot, bahkan digambarkan memelihara budaya feodal, seperti tayangan konten di televisi beberapa waktu lalu. Benarkah asosiasi dan penggambaran ini?

Kita memang tidak bisa melarang pihak lain membangun persepsi. Namun, santri dan dunia pesantren saat ini telah berkembang pesat.

Banyak sekali pesantren yang telah berakselerasi dengan perkembangan zaman. Para santri dengan bimbingan kiai telah mampu menumbuhkan jiwa wirausaha.

Secuil contoh, Pesantren Sidogiri di Pasuruan mampu mendirikan jaringan toko ritel di 125 lokasi di Jawa dan Kalimantan. Konsep ritelnya menyerap produk-produk UMKM lokal, sehingga memberdayakan masyarakat sekitarnya.

Di Lirboyo, Kediri, para santri mendirikan Lirboyo Bakery, toko roti yang diproduksi oleh mereka sendiri, dengan memanfaatkan ceruk pasar dari para santri sendiri, dan masyarakat sekitar Ponpes Lirboyo. Selain usaha toko roti, para santri juga memiliki usaha pengolahan sampah plastik, dan depo air minum.

Dua contoh di atas hanya sedikit ulasan dari banyaknya kegiatan wirausaha di pesantren. Bila kita ulas satu per satu, akan banyak sekali gambaran kegiatan usaha yang digawangi oleh para santri di pesantren.

Di pesantren, santri tidak hanya dibelaki ilmu agama, mereka juga dibekali berbagai keahlian lain seperti: ilmu komputer, bahasa asing selain bahasa arab, menjahit, beternak, bahkan fotografi, serta jurnalisme.

Bertebarannya ceramah-ceramah keagamaan oleh banyak ulama populer seperti Gus Baha, Gus Muwafiq, KH Anwar Zahid, dan lainnya adalah bukti buah karya ketekunan para santri mengunggah konten-konten ceramah para kiainya di berbagai platform media sosial. Ini artinya, para santri juga bisa berakselerasi dengan kemajuan zaman.

Lebih dari itu, santri telah menjadi kekuatan diaspora, dan menggeluti berbagai profesi tanpa kehilangan identitasnya sebagai santri. Tidak ada satupun partai politik, khususnya di DPR yang tidak ada keterwakilan santri. Santri tidak hanya bersiyasah semata-mata dari partai politik berideologi Islam saja. Banyak partai-partai nasionalis juga menjadi ruang artikulasi para santri. Saya sendiri sebagai santri, namun sejak tahun 1988 sudah aktif di PDI dan tahun 1999 menjadi PDI Perjuangan.

Diaspora santri ada disemua tempat, diberbagai organisasi profesi, baik kepengacaran, aktivis LSM, guru, dosen tenaga medis, TNI dan Polri, bahkan di antaraya memuncaki karir menjadi jenderal, serta berbagai profesi lainnya.

Dalam kepemimpinan nasional, santri juga sudah teruji. KH Abdurahman Wahid, atau Gus Dur, sejak kecil hidup dalam komunitas pesantren, pikiran-pikirannya berdialektika dengan filsafat barat, jaringannya bergitu luas, di timur tengah hingga ke Eropa. Gus Dur menjadi contoh nyata santri bisa menjadi pemimpin nasional, dan pemimpin kultural kelas dunia.

Poin yang ingin saya katakan, santri adalah jati diri yang terbuka. Entitas yang bisa sangat kosmopolit dalam berfikir dan bertindak. Santri bisa menjadi jangkar perdamaian, menebarkan Islam yang rahmatan lil alamin, menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Oleh sebab itu, menjaga diri sebagai santri sekaligus tanggung jawab yang besar. Dipundaknya orang mempersepsikan perwajahan tentang Islam. Untuk itu, harus selalu mawas dan koreksi diri.

Selamat Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2025!!!

*) Santri dari Sumenep, Ketua DPP PDI Perjuangan

Editor : Dafir.
#MH Said Abdullah #pesantren #PDI Perjuanagan #santri #banggar dpr ri