Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Abdul Halim Dorong Waduk Blega, Solusi Permanen Banjir Madura dan Krisis Air

Abdul Basri • Minggu, 29 Juni 2025 | 03:29 WIB

 

BANGKALAN, RadarMadura.id – Ketua Komisi D DPRD Jawa Timur, Abdul Halim, SH, MH, menghidupkan kembali gagasan lama yang sempat terkubur: pembangunan Waduk Blega.

Infrastruktur ini diyakini dapat menjadi solusi jangka panjang bagi persoalan banjir kronis yang melanda empat kabupaten di Pulau Madura: Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.

Gagasan tersebut ia sampaikan dalam program Sapa Legislatif yang tayang di Radar Madura TV.

“Kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan normalisasi sungai. Itu hanya solusi jangka pendek. Butuh langkah besar yang permanen dan strategis,” ujar Halim dalam wawancara tersebut.

Waduk untuk Banjir, Irigasi, hingga Air Bersih

Rencana pembangunan Waduk Blega sebenarnya telah muncul sejak 2004, namun tertunda akibat penolakan masyarakat yang trauma terhadap insiden Waduk Nepa pada 1990-an.

Waduk ini dirancang mencakup tiga kecamatan: Blega, Galis, dan Konang, dan akan berfungsi sebagai penampung air hujan, pengendali banjir, serta pendukung sektor pertanian dan penyedia air baku.

Masalah banjir yang makin masif di Pulau Madura menjadi perhatian serius Abdul Halim, SH, MH, Ketua Komisi D DPRD Jawa Timur. (RadarMaduraTV)
Masalah banjir yang makin masif di Pulau Madura menjadi perhatian serius Abdul Halim, SH, MH, Ketua Komisi D DPRD Jawa Timur. (RadarMaduraTV)

Menurut Halim, infrastruktur ini bahkan dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata yang berdampak ekonomi bagi warga sekitar.

“Kalau kita serius, waduk ini bukan hanya soal banjir. Ia menyentuh sektor energi, pertanian, wisata, hingga air bersih. Ini proyek multidimensi,” jelasnya.

Banjir Tak Lagi Milik Sampang

Banjir bukan hanya momok lama Sampang, tapi kini merata di seluruh Madura. Bahkan Kabupaten Sumenep, yang selama ini relatif aman, mulai terdampak.

Salah satu pemicunya, kata Halim, adalah alih fungsi lahan, pembabatan hutan, dan pembangunan liar di sepanjang aliran sungai.

Ia menegaskan pentingnya edukasi masyarakat agar tidak membangun di bantaran sungai tanpa izin teknis dan tetap menjaga daya serap lahan.

Sungai Terkoneksi, Wajah Baru Bangkalan

Selain mendorong pembangunan waduk, Halim juga mengawal proyek normalisasi sungai sepanjang 12 kilometer dari Burneh ke pusat Kota Bangkalan.

Proyek ini dikembangkan dengan konsep “sungai terkoneksi”: tak hanya pengerukan, tetapi juga dibangun taman dan jogging track di sisi kanan dan kiri sungai.

“Kita ingin sungai jadi etalase kota, bukan sekadar saluran air. Ketika orang masuk Bangkalan, yang menyambut adalah pemandangan bersih, nyaman, dan indah,” ujarnya.

Proyek ini diproyeksikan menelan anggaran hingga Rp50 miliar dan akan dikerjakan secara multiyears mulai 2025.

Sinergi Pemerintah dan Masyarakat Jadi Kunci

Halim menyebut bahwa banjir adalah masalah lintas sektor. Karena itu, pemerintah provinsi, kabupaten, bahkan masyarakat harus bergandengan tangan.

Ia mengkritik sikap “lempar tanggung jawab” antarpemerintah yang kerap terjadi ketika banjir melanda.

“Kalau hanya menunggu pemerintah, banjir akan terus terjadi. Tapi kalau masyarakat ikut terlibat, menjaga sungai, tidak buang sampah sembarangan, dan pemerintah daerah ikut bergerak—baru persoalan bisa selesai,” katanya.


???? Simak wawancara lengkap Abdul Halim di YouTube Radar Madura TV: https://www.youtube.com/watch?v=IUS1FAOQrPk

Editor : Abdul Basri
#Banjir Madura #abdul halim dprd jatim #waduk blega #Sapa Legislatif #Radar Madura TV