PAMEKASAN, RadarMadura.id – Delegasi Indonesia berhasil mencatatkan nama di kancah internasional.
Yakni, setelah Ach. Farhan meraih juara tiga Musabaqah Hifdzil Quran (MHQ) Internasional King Abdul Aziz ke-44 yang digelar di Makkah, Arab Saudi, sejak Jumat–Rabu (9–21/8).
Santri Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Ulum Banyuanyar itu mewakili Indonesia kategori tahfiz 15 juz.
Pemuda asal Desa Palengaan Laok, Kecamatan Palengaan, itu mampu menyingkirkan ratusan peserta dari berbagai negara.
Keberhasilan Farhan mengharumkan nama Indonesia diapresiasi banyak pihak. Mulai dari Kementerian Agama (Kemenag) RI hingga pesantren tempat dia menimba ilmu.
Jawa Pos Radar Madura (JPRM) berkesempatan bertemu langsung dengan Farhan di Hotel Cahaya Berlian, Sabtu (24/8).
”Tiada kata selain ungkapan rasa syukur kepada Allah. Tentunya prestasi ini tidak lepas dari doa dan dukungan yang diberikan oleh kedua orang tua, guru, dan masyarakat Indonesia. Semoga ini bisa membawa kebaikan bagi kita semua,” tutur Farhan.
Farhan mengaku, tidak mudah untuk mencapai prestasi tersebut. Dengan penuh kesabaran dia mengikuti proses seleksi MHQ mulai tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga nasional.
Pada seleksi nasional, Farhan meraih juara pertama MHQ yang digelar di Jambi pada 2023.
Persaingan di MHQ internasional cukup ketat. Mahasiswa semester III Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darul Ulum Banyuanyar itu harus bersaing agar bisa masuk babak final.
Beruntung, masuk dalam daftar 20 peserta yang lolos seleksi.
”Kalau babak penyisihan, lombanya dilaksanakan di hotel. Tapi, kalau sudah masuk babak final, peserta mengikuti lomba di pelataran Masjidilharam, Makkah. Alhamdulillah, setelah beberapa tahapan seleksi yang dilalui, akhirnya bisa meraih juara ketiga,” ungkapnya.
Menurut pemuda 19 tahun itu, kefasihan dalam hafalan bukan satu-satunya kriteria penilaian.
Keindahan dalam melantunkan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan juga memengaruhi penilaian dewan juri dalam MHQ tingkat internasional itu.
”Semoga prestasi ini juga menjadi motivasi bagi para penghafal Al-Qur’an. Yang paling penting adalah jangan menjadikan motivasi menghafal untuk sekadar mengikuti lomba atau menjadi juara. Niatkan ini sebagai ibadah menegakkan kalimat Allah,” tukasnya. (afg/bil)
Editor : Fatmasari Margaretta