SUMENEP, RadarMadura.id – Madura memiliki kekayaan bahasa, filosofi dan kearifan lokal.
Dalam hal bahasa misalnya, ada banyak kosakata yang memiliki keratabasa dengan beragam versi. Misalnya topa’ (ketupat), mamonto' tabu’ se kepa’.
Akan tetapi, menurut budayawan muda Ibnu Hajar, masih ada lagi, yakni paesto ban pateppa’.
Sebutan itu menurutnya sudah berkembang turun-temurun dan tidak asing di telinga warga.
”Nenek moyang kita menyebut seperti itu. Jadi ada nilai-nilai kearifan lokal di dalamnya,” tuturnya.
Pria yang karib disapa Ibnu itu menuturkan, esto jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia lebih kurang yakni kepedulian.
”Sedangkan kata pateppa’ berkonotasi sebagai tingkah laku, etika, atau dalam bahasa Madura tatengka,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).
Ibnu menjelaskan, filsofi topa’ itu tidak hanya ada pada namanya saja. Semua elemen yang ada pada ketupat memiliki filosofi yang mendalam.
Topa’ di dalamnya berisi beras separo. Ketika dimasak, akan mengembang sehingga terlihat penuh.
”Itu memiliki arti bagaimana membangun ukhuwah atau dalam terminologi agamanya hablum minannas,” ujarnya.
Ibnu menegaskan, orang Madura jika beririsan dengan etika sangat luar biasa. Karena itu, ada pepatah yang berbunyi, elmo badha sakola’anna, tape tengka tadha’ (ilmu bisa dipelajari di sekolah, tapi akhlak tidak).
Meski demikian, dia menyadari bahwa semua hal yang berkaitan dengan kebudayaan, lebih-lebih filosofi masih besifat debatable.
Sebab, filosofi topa’ tidak hanya melalui namanya saja, tapi keseluruhan. Bisa dilihat dari banyak perspektif.
”Misalnya, kenapa harus terbuat dari janur kuning, meski dari daun lontar juga bisa. Sebab, pohon kelapa itu tahan terhadap cuaca dan segala kondisi.
Karena itu, orang Madura meski diberi tempat yang sempit sekalipun masih bisa tumbuh dan berkembang.
”Satu meter saja, orang Madura itu masih bisa hidup,” ulasnya.
Selain itu, sambung Ibnu, pohon kelapa memang sangat unik. Sebab, dari semua struktur yang ada, pohon kelapa memiliki manfaat yang beragam. Mulai dari batang, daun atau janur, batok, serabut, dan sebagainya.
”Kenapa janur muda, karena memang itu bagian terbagus dan menggambarkan masa depan. Jadi, filosofi ketupat memang kental dengan kearifan lokal. Itu yang harus dikenalkan kepada generasi muda,” tandasnya. (di/yan)
Editor : Fatmasari Margaretta