RadarMadura.id – Pemilihan umum (pemilu) merupakan salah satu momen penting dalam perjalanan demokrasi.
Tidak hanya tentang memilih pemimpin, tetapi juga memberikan kesempatan bagi warga negara untuk memilih perwakilan mereka di parlemen. Seperti memilih calon senator DPD RI.
Di Jawa Timur, misalnya, muncul kandidat perempuan yang dikenal sebagai aktivis sosial Dr Lia Istifhama.
Sebagai calon DPD RI Jatim, Ning Lia ingin menyinergikan kekuatan tulus, fokus, dan tembus.
Tulus dalam niat dan tindakan. Fokus meyakini dan menjaga kebaikan. Tembus yaitu meyakini bahwa ikhtiar yang positif pasti membuahkan hasil yang manis.
Ning Lia menjaga ritme dalam menarik simpati masyarakat. Seperti yang sudah dilakukan selama dikenal aktif sebagai narasumber dan menulis artikel di berbagai media.
Baginya, politik itu seni yang dia bingkai secara holistik sebagai strategy, equity, nation, dan integrity.
”Jadi, seni merupakan passion kita untuk mengabdi pada negeri ini sebagai khalifah di muka bumi, sebagai anak bangsa yang memiliki tanggung jawab untuk negeri.
Jangan sampai hanya karena sedang berpolitik, peran seseorang baru tampak di permukaan. Tapi, sangat penting jika kesadaran peran sudah dibangun melalui rangkaian proses sebelum akhirnya muncul dalam konstalasi politik,” terangnya.
Keponakan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa itu menekankan bahwa cantik bukan soal tampang. Menurut dia, tampang cantik itu relatif. Siapa pun bisa tampak cantik pada satu sisi dan kurang di sisi lain.
Menurut dia, yang paling utama itu peran cantik, yaitu akronim kombinasi cerdas, inovatif, dan kreatif. Ketiga kata ini sangat mampu disinergikan oleh kaum perempuan. Sebab, perempuan memiliki karakter pesona (peduli, strong, dan bernaluri keibuan).
Putri tokoh nahdliyin KH Masykur Hasyim tersebut menyebut visi besarnya sebagai katalisator Pemprov Jatim.
Sebab, salah satu peran besar DPD RI adalah menjadi katalisator atau penguat perjuangan daerah. Karena itu, dia fokus menguatkan kebaikan yang sudah dibangun Gubernur Khofifah yang juga ketua PP Muslimat, Wagub Emil Dardak, dan Pemprov Jatim.
”Visi besar itu kemudian terbingkai menjadi Peran Cantik sebagai Katalisator Pemprov Jatim,” papar Ning Lia.
Dia menyadari tidak mungkin bermimpi menjadi pribadi yang mampu berbuat kemaslahatan tanpa bersinergi dengan pemimpin di mana berpijak.
Dia menerangkan, ulil ’amri adalah uswatun hasanah atau teladan. Jadi, harus selaras.
”Ketika seorang senator memiliki sinergisitas yang positif dan masif, maka insyaallah saling menguatkan spirit kemaslahatan untuk masyarakat,” tambahnya.
Doktor ekonomi Islam ini ingin menguatkan visi itu secara nyata dalam pencalonannya di DPD RI.
Pertama, menguatkan eksistensi perempuan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam mengangkat ekonomi produktif serta potensi lokal Jawa Timur melalui pemasaran yang kreatif dan melek regulasi.
Kedua, menguatkan spirit agraris melalui perluasan peran perempuan di sektor pertanian dan kehutanan dalam rangka menjaga eksistensi Jawa Timur sebagai lumbung pangan nasional.
Ketiga, menguatkan akses pendidikan bagi kaum perempuan sebagai pionir terjaganya moralitas religius, character building, modal sosial, serta keilmuan generasi penerus.
Keempat, menguatkan peran sebagai mitra pemerintah dalam penguatan kesehatan masyarakat. Terutama kesehatan ibu dan anak.
Di antaranya, turut menguatkan upaya penurunan angka stunting maupun kondisi lain yang berpotensi menurunkan kemampuan fisik dan motorik anak.
Kelima, menguatkan ketangguhan kaum perempuan sebagai ”polisi” atau fungsi kontrol sosial upaya preventif maupun abolisionistik kejahatan seksual bagi perempuan dan anak.
Keenam, menguatkan spirit kaum perempuan sebagai sentral ”culture of peace” melalui peran nyata melestarikan sikap afeksi dalam lingkungan keluarga dan sosial. (bam/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Ina Herdiyana