Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Prabu Brawijaya V: Raja Terakhir Majapahit yang Berpindah Agama ke Agama Islam setelah Bertemu Sunan Kalijaga

Ina Herdiyana • Selasa, 23 Januari 2024 | 03:06 WIB

 

Patung Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit yang mualaf dan dikalahkan anaknya sendiri. (wikipedia untuk RadarMadura.id)
Patung Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit yang mualaf dan dikalahkan anaknya sendiri. (wikipedia untuk RadarMadura.id)

RadarMadura.id – Prabu Brawijaya V juga dikenal sebagai Raden Alit atau Bhre Kertabumi. Dia adalah sosok yang penuh kontroversi dalam sejarah Kerajaan Majapahit.

Dia adalah raja terakhir yang memerintah kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Nusantara sebelum runtuh di bawah serangan Kerajaan Demak yang beragama Islam.

Menurut sumber-sumber tradisional seperti Babad Jaka Tingkir dan Serat Pararaton, Prabu Brawijaya V adalah keturunan ketujuh dari raja-raja Majapahit sebelumnya.

Dia naik takhta pada 1468 Masehi, menggantikan ayahnya Prabu Bratanjung. Dia berkuasa selama sepuluh tahun hingga 1478 Masehi, ketika Dia turun takhta karena konflik internal kerajaan.

Namun, ada pandangan lain yang menyatakan bahwa Prabu Brawijaya V bukanlah raja terakhir Majapahit, melainkan Dyah Ranawijaya, yang mengeklaim dirinya sebagai penguasa Majapahit, Janggala, dan Kadiri setelah mengalahkan Bhre Kertabumi pada 1486 Masehi.

Pandangan ini didasarkan pada fakta bahwa nama Brawijaya tidak pernah ditemukan pada prasasti-prasasti yang memuat nama-nama raja Majapahit.

Raja terakhir Majapahit yang tercatat dalam prasasti adalah Girindrawarddhana, yang berkuasa dari 1474 hingga 1519 Masehi.

Salah satu hal yang menarik dari kisah Prabu Brawijaya V adalah perpindahan agamanya dari Buddha ke Islam.

Menurut buku Sejarah Kelam Majapahit karya Peri Mardiyono, Prabu Brawijaya V tertarik untuk masuk Islam setelah bertemu dengan Sunan Kalijaga, salah satu penyebar agama Islam di Jawa.

Prabu Brawijaya V juga jatuh cinta dengan Dewi Sari, seorang putri dari Kerajaan Campa yang beragama Islam.

Keputusan Prabu Brawijaya V untuk mualaf tidak disetujui oleh sebagian pengikutnya, yang memilih untuk pergi ke Bali dan tetap memeluk agama Hindu-Buddha.

Prabu Brawijaya V kemudian kembali ke Majapahit bersama Sunan Kalijaga, tetapi tidak lama kemudian dia meninggal karena sakit. Dia dimakamkan dengan upacara Islam di Trowulan, dekat kolam Segaran.

Sebelum meninggal, Prabu Brawijaya V menulis surat kepada dua adipati, yaitu Adipati Pengging dan Adipati Pranaraga, untuk mengakui kekalahan Majapahit dari Demak.

Dia juga meminta mereka untuk tunduk kepada Demak Bintara, yang merupakan anaknya sendiri, yang bernama Raden Patah.

Prabu Brawijaya V juga memberikan wasiat agar makamnya dinamai Makam Sastrawulan dan di atas batu nisannya dituliskan nama Putri Campa, sebagai bukti bahwa dia dikalahkan oleh anaknya sendiri.

Makam Prabu Brawijaya V masih dapat dikunjungi hingga saat ini. Makamnya terletak di kompleks Makam Panjang, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Makamnya menjadi tempat ziarah bagi banyak orang yang menghormati sejarah dan budaya Jawa. (fadila)

 

 

 

 

 

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Ina Herdiyana
#Raden Alit #kerajaan majapahit #Prabu Brawijaya V #sejarah #buddha #hindu