Seniman selalu memiliki cara unik untuk mengekspresikan diri. Mengemas setiap hal yang dijumpai menjadi sebuah karya seni. Seperti yang dilakukan musisi Deni Aji, warga Desa Ragung, Kecamatan Pangarengan, dalam bermusik.
JUNAIDI PONDIYANTO, Sampang, Jawa Pos Radar Madura
BERMUSIK sudah menjadi bagian dari jati diri Deni Aji. Pria yang akrab disapa Deni itu sudah aktif bermain alat musik sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Hobi bermusik tersebut terbentuk secara otodidak berkat pergaulan dan lingkungannya sejak masih anak-anak.
Menurut dia, yang ikut memengaruhi dirinya bermain musik adalah sang kakak, yaitu Rahmat Hijrah Setiyawan. Kakaknya juga aktif bermain alat musik. Karena sering melihat kakaknya bermain alat musik, akhirnya dia belajar secara otodidak sampai akhirnya menemukan kenyamanan dari hobinya tersebut.
Meski begitu, Deni tidak pernah belajar musik dari lembaga formal. Seperti sekolah atau kursus musik. Bermain musik hingga mengarang lagu dilakukan secara swadidik. Alumnus SMAN 1 Torjun itu memilih fokus menekuni genre blues.
Lingkungan pegaraman di desanya membantu dirinya untuk melahirkan lagu. Judulnya Guram Garam yang menggambarkan ratapan nasib petani garam. Perjuangan petani garam melawan terik matahari demi sesuap nasi untuk menafkahi keluarga.
”Lingkungan lahan pegaraman dan petani garam yang menginspirasi saya dalam bermusik. Saya sering menjumpai petani garam bernyanyi di bawah terik matahari untuk sekadar menghibur diri,” jelas pria berusia 30 tahun itu.
Lulusan Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya itu memilih bermain solo dalam bermusik. Sejak 2018, tercatat ada 12 lagu yang sudah dikarang. Lagu tersebut akan dikemas dalam bentuk album dan bakal di-launching tahun ini. Namun, sudah ada beberapa lagu yang dirilis melalui akun YouTube-nya. ”Beberapa lagu itu berjudul Segimuda Antipati, Black Man, Guram Garam, Lonesome, dan Tiga Anarki,” tuturnya.
Pria berambut pendek itu menerangkan, dia tidak ingin hidup dari musik. Akan tetapi, ingin menyalurkan hobi dan menemukan kepuasan batin. ”Berkarya itu tanggung jawab seorang seniman. Saya tidak ingin menjadi musisi yang hidup di atas karya orang lain. Meskipun, bermain musik dari karya musisi lain sekarang lumrah dijumpai,” ungkapnya.
Dijelaskan, dia tidak segan merogoh kocek hingga puluhan juta rupiah untuk membeli alat musik. Saat ini dia hanya memiliki dua jenis alat musik yaitu gitar dan piano. Gitar menjadi instrumen yang sering dimainkan Deni. ”Impian saya adalah bisa menjadi musisi yang bisa eksis berkarier di tingkat nasional,” tandasnya. (*/yan)
Editor : Fatmasari Margaretta