JAKARTA, RadarMadura.id – Arus informasi pada era digitalisasi semakin masif. Bahkan, satu kalimat saja ditulis di media sosial (medsos), itu bisa langsung menyebar ke pelosok negeri hingga belahan dunia.
Ketua Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) MH Said Abdullah mengatakan, sebagai bangsa yang beradab, tentu harus bisa memanfaatkan perkembangan teknologi sebaik mungkin. Termasuk, ketika ingin menyampaikan informasi di medsos.
”Bahasa menunjukkan bangsa tidak hanya sekadar penegasan identitas. Rangkaian kata itu menjadi bingkai dan pedoman agar siapa pun, terutama yang berada di posisi sumber berita atau news maker, untuk selalu berhati-hati,” kata Said melalui keterangan persnya.
Menurut Said, jika news maker tidak berhati-hati, tidak menutup kemungkinan dampak sosial buruk akan terjadi. Berita palsu yang beredar dikhawatirkan dapat merusak perilaku anak-anak yang belum bisa menyaring informasi secara baik.
Said menceritakan, suatu ketika sejumlah jurnalis pernah mendatanginya untuk menceritakan perihal masifnya penyebaran informasi melalui medsos. Sebab, setiap orang tanpa kontrol bisa dengan bebas menyampaikan informasi menggunakan kata dan kalimat apa pun.
”Padahal, dunia jurnalistik punya kode etik yang menjadi pegangan ketika seorang wartawan akan menulis berita,” tutur Said.
Para jurnalis itu, lanjut Said, berpikir keras untuk menghasilkan karya yang layak diberitakan. Mereka juga berusaha memilih kata dan kalimat yang tepat agar tidak memunculkan masalah atau penafsiran liar di tengah-tengah masyarakat.
”Panjang proses sebuah berita untuk sampai memenuhi syarat disebarkan ke tengah masyarakat,” ucapnya.
Dikatakan, saat ini banyak masyarakat yang membuat berita dan menyebarkannya ke medsos tanpa proses ketat. Semacam mengabaikan check dan recheck yang penting dalam penulisan berita. Karena itu, tidak heran ketika hoax makin bertebaran di medsos.
”Pada era medos seperti sekarang, siapa pun yang berucap, ucapannya akan mudah tersebar. Terlebih jika menyangkut tokoh publik, akan sangat masif penyebarannya tanpa kontrol. Tulisannya pun layaknya wartawan profesional,” katanya.
Kritik Sebagai Dinamika Demokrasi
Said memafhumi bahwa menyerukan kritik merupakan bagian integral dari dinamika demokrasi yang wajib terus dilakukan. Namun, pada era medsos seperti sekarang ini, pengawasan dan kontrol dalam menyampaikan kritik seperti tidak terukur.
Oleh karena itu, masyarakat perlu berhati-hati dalam menyuarakan kritik, terutama bagi yang memiliki pengikut besar di medsos. ”Kita perlu belajar bagaimana seorang pesepak bola profesional di Inggris, misalnya, diikat demikian ketat melalui berbagai batasan, yang dicantumkan dalam kontrak termasuk dalam perilaku kehidupan keseharian,” terangnya.
”Mereka jika ketahuan merokok di tempat terbuka atau mabuk di jalanan akan dipastikan mendapat sanksi berat dari klub. Apa pertimbangannya? Mereka publik figur yang harus menjaga diri karena mudah ditiru dan dicontoh oleh anak-anak,” lanjutnya.
Menurut Said, kekhawatiran seperti itu harus terus diperhatikan, terutama saat berada di tempat terbuka. ”Pernahkah kita mempertimbangkan dampak kata-kata yang tersebar masif terhadap anak-anak yang gampang sekali meniru dan meniru? Wallahu’alam bissawab,” ucapnya.
Pentingnya Menjaga Tutur Kata
Said mengatakan, tabiat dan watak seseorang dapat dilihat dari tutur katanya. Demikian pula dengan sopan santun seseorang yang dapat terlihat dari cara bicaranya. Sebab, bahasa itu menunjukkan kualitas peradaban, akhlak, dan watak seseorang.
”Kita mengenal peribahasa bahwa ’bahasa menunjukkan bangsa’, sebuah penegasan tentang identitas seseorang berdasarkan latar belakang bahasa dan tutur katanya,” tutur Said.
Said mengutip perkataan salah seorang penyair asal Madura bernama D Zawawi Imron. Menurutnya, perkataan Zawawi cocok menggambarkan perilaku seseorang yang tercermin dari tutur katanya.
”Tokoh yang juga aktif berdakwah itu bahkan sampai pada taraf apa yang disebut azas manfaat. Artinya, apakah ucapan seseorang memberi manfaat atau sekadar retorika bombastis. Apalagi sampai menimbulkan kegaduhan,” katanya.
Zawawi pernah menyebutkan, kata Said, bahwa dubur ayam yang menghasilkan telur lebih mulia daripada orang yang hanya bisa menjanjikan telur. Berhentilah berjanji. Lakukanlah yang bisa dilakukan. Sebab derajat seseorang itu ditentukan oleh apa yang dilakukan. Bukan apa yang dijanjikan. Tindakan seseorang itu sangat menentukan siapa sebenarnya.
Menurut Said, paparan Zawawi terinspirasi dari firman Allah dalam Al Qur’an, yakni Surah Ash-Shaff Ayat 2-3 yang sangat tegas mengecam orang-orang yang asal biacara. ”Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan,” demikian bunyi sepenggal surah tersebut.
Said mengatakan, setiap ucapan dan ungkapan kata-kata atau kalimat yang baik akan terasa kurang apabila tidak diiringi oleh tindakan atau perbuatan yang baik pula. ”Apalagi jika perkataan yang terlontar tidak memberikan manfaat dan justru menimbulkan masalah, menciptakan kegaduhan, dan keributan di tengah masyarakat,” katanya. (*/daf)
Editor : Dafir.