Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Spiritualitas Ongga Ajji bagi Masyarakat Madura

Abdul Basri • Kamis, 11 Mei 2023 | 07:19 WIB
Photo
Photo
Oleh: MH SAID ABDULLAH

HAJI sejatinya risalah keislaman nomor lima yang terdapat dalam rukun Islam. Laku ini tentu saja menjadi wajib bagi yang mampu. Mampu dalam konteks ini terbagi atas dana dan daya. Dana berkaitan dengan BPIH (biaya perjalanan ibadah haji) dan daya terikat dengan kesiapan sehat secara jasmani dan rohani. Sesederhana itu sebenarnya haji sebagai spiritualitas dalam hal pemenuhan rukun Islam yang kelima.

Namun bagi sebagian (besar) masyarakat Madura, berhaji bukan semata-mata laku spiritualitas keimanan dan keislaman seseorang. Ongga ajji (naik haji) bagi warga Madurese adalah jawaban dari penantian panjang, yang seremoninya juga berjenjang. Pertama, warga menabung karena biaya naik haji di Madura bukan semata-mata dana yang disetorkan ke bank. Kedua, tabungan tersebut untuk kepentingan keberangkatan dan kedatangan, yang dalam hal ini butuh biaya.

Untuk keberangkatan perjalanan haji, pemerintah telah menetapkan sesuai ketentuan yang berlaku bagi masyarakat tanah air. Sementara di Madura, terdapat biaya kultural. Setelah mendapat ketentuan dari pemerintah bahwa sebagai bakal calon haji, warga merasa diundang (Allah untuk ke Tanah Suci Makkah dan Madinah). Oleh karena peristiwa sakral merasa meyakini diundang oleh Yang Mahakuasa, di bab inilah serangkaian upacara dilangsungkan.

Pertama, selamatan pemberangkatan. Calon jemaah haji (CJH) mengundang kerabat dan sanak handai tolan untuk hadir. Tujuannya, agar banyak didoakan. Sebab doa para handai tolan itu, ia meyakini selamat mulai dari berangkat hingga pulang kembali ke tanah air. Kedua, upacara pemberangkatan yang disertai dengan klenik karena harus keluar dari rumah pada hari baik. Misalnya, jika pemberangkatan sesuai ketentuan dari pemerintah pada Kamis, sangat boleh jadi warga sudah keluar dari rumah sehari sebelumnya. Ia keluar dari rumah berdasar petunjuk tokoh spiritualnya, walaupun harus mengungsi sementara ke rumah kolega terdekat, ini demi hari baik sebagaimana disebutkan.

Ketiga, prosesi pemberangkatan yang dilepas dengan upacara adat. CJH sebelum keluar dari pekarangan diazani oleh kolega. Ini sebagai bentuk dzikro lil amali al shalat (mengingatkan pentingnya mengerjakan salat di mana dan dalam keadaan apa pun). Sejurus kemudian, kolega menegakkan ikamah sebagai pertanda bahwa salat segera dimulai. Ini makna simbolik bagi masyarakat Madura terhadap urgensi penegakan ibadah salat. Begitu CJH bergerak, di belakang jemaah terdapat kolega lain yang menuangkan siraman air ke tanah. Ini sebagai tanda bahwa air dan tanah itu simbol dari kehidupan berikut kematian. Tujuannya, agar seseorang tidak ingat pada hidup saja, tetapi juga wajib eling pada kematiannya.

Keempat, saat jemaah haji berada di Tanah Suci yang lamanya kurang lebih 40 hari, pada masa itulah keluarga yang ditinggal pergi menunaikan haji melakukan doa bersama di rumah. Doa ini dimaksudkan agar keluarga yang ongga ajji diberikan kelancaran dan keselamatan, pergi selamat, dan pulang juga dalam keadaan selamat. Kelima, tradisi penjemputan jemaah haji. Dibanding daerah lain, tradisi penjemputan di Madura paling semarak.

Dalam tradisi penjemputan ini, masyarakat sekitar rumah jemaah haji kompak melakukan penjemputan. Bagi yang sanggup bermobil, mereka bergerak ke bandara dan atau ke tempat yang ditunjuk pemerintah untuk menjemput jemaah. Bagi yang hanya sanggup dengan berkendaraan motor, mereka melakukan upacara konvoi. Mereka ramai-ramai menjemput keluarga yang datang dari Tanah Suci, sedemikian hebohnya, sebagai bentuk kekompakan antarkeluarga atau kolega.

Keenam, menerima tamu. Warga yang datang dari Tanah Suci terbiasa menerima tamu yang bersilaturahmi. Upacara ini pada awalnya berlangsung selama 41 hari. Tetapi seiring dengan perkembangan zaman, jemaah haji hanya menerima tamu selama seminggu. Kecuali, kerabat yang jauh, tetap diterima hingga hari kesepuluh terhitung dari tanggal kedatangannya. Setelah melewati masa 10 hari, jemaah haji kembali pada aktivitas, baik sebagai wiraswasta, buruh, maupun petani. Di ujung hari yang ditentukan karena hari ke-11 diyakini tidak akan hadir tamu untuk berkunjung, keluarga kembali merayakan selamatan atau penutupan rangkaian penunaian ibadah yang dinilai sangat sakral.

Memahami Makna

Laku kultural-spiritual dalam tradisi mengupacarai perjalanan atau ongga ajji yang dilakukan masyarakat Madura mengandung makna multidimensional. Pertama, masyarakat memandang ibadah itu sebagai sesuatu yang sakral, tidak dibuat serampangan. Karena itu, masyarakat berusaha khusyuk dalam ritual ini. Kedua, memopulerkan kultur supaya tidak mati suri bahwa syukuran dan kebersamaan itu merupakan hal yang niscaya. Ketiga, keselamatan dari ujian dalam perspektif Madura itu patut disyukuri karena dengan mensyukuri nikmat itu diyakini akan ditambah berkahnya oleh Yang Mahakuasa.

Meski siapa pun saat ini berada di abad digital, sesuatu yang masih baik sebagai tradisi dipandang wajib untuk dilestarikan. Ini sesuai dengan falsafah Madura, lamon asel ja’ loppa ka asal, siapa pun yang sudah berhasil tidak boleh melupakan asal dari mana ia lahir, hadir, dan diberi takdir untuk menjadi lebih baik dari sisi rahmat. Apa yang dilakukan masyarakat Madura dalam laku kulturisme-spiritualitas adalah kelanjutan sejarah. Sejarah bagi masyarakat Madura tidak hanya menjadi rumah untuk masa lalu, tetapi ia juga menjadi rumah untuk masa depan yang diwariskan nenek moyang sebagaimana Soekarno juga berucap Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. (*)

*)Ketua Banggar DPR RI Asal Madura Editor : Abdul Basri
#haji #pdip #MH Said Abdullah #biaya perjalanan ibadah haji #Ketua Banggar DPR RI