Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Spiritualitas Mudik dan Nasionalisme Ber-Madura

Abdul Basri • Selasa, 18 April 2023 | 22:43 WIB
Anggota DPR RI dari Madura MH Said Abdullah.
Anggota DPR RI dari Madura MH Said Abdullah.
Oleh MH Said Abdullah

DATA mutakhir menyebutkan, warga Madura setidak-tidaknya berjumlah kurang lebih 5 juta jiwa (2023). Dari jumlah tersebut, 20 persen atau sekitar satu juta jiwa memilih tinggal di luar Pulau Madura. Daerah jujukan mereka, sebagian besar di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta, Bali, dan seluruh kota di Indonesia lainnya, dapat dipastikan terdapat warga Madura. Termasuk, warga Madura juga tersebar di Arab Saudi, Malaysia, dan negara lainnya walau tidak sebesar seperti dua negara yang telah disebutkan.

Ada banyak faktor yang menyebabkan mereka tinggal di luar Madura. Pertama, menempuh pendidikan, baik nyantri maupun menjadi pelajar atau mahasiswa di perguruan tinggi. Kedua, mengikuti keluarga yang berjodoh dengan warga luar Madura. Ketiga, mengejar karier atau penempatan SDM yang dimandatkan oleh institusi tempat yang bersangkutan bekerja. Keempat, menjajal kehidupan baru yang terkait dengan pekerjaan, baik di dalam maupun di luar negara.

Meski warga Madura perantauan telah meninggalkan tanah kelahirannya dengan sebab sebagaimana disebutkan, masih terdapat momentum untuk pulang kampung (pulkam). Peristiwa yang menyebabkan mereka pulkam antara lain karena belasungkawa (kerabat dekat yang wafat), hajatan (sanak saudara yang menikah), dan umumnya mereka pulkam karena tellasan atau Lebaran (Idul Fitri).

Ada beberapa makna mengapa urusan mudik ini begitu dibela warga (Madura perantauan). Pertama, waktu mudik adalah hari libur kerja atau istirahat. Itu sebabnya, momentum ini dijadikan sebagai ruang silaturahmi (spiritualitas) seraya bertemu keluarga dan sanak famili. Kedua, pulkam adalah ruang kesadaran geografis, di mana warga perantauan pada awalnya lahir di Madura. Sebagai tanah kelahiran, warga Madura sangat hormat karena ari-ari yang bersangkutan tertanam di situ.

Ari-ari, bagi warga Madura adalah saudara tontonan (tak terpisahkan) yang karena itu bangunan rindu kampung tak terwakilkan. Maka, pulang kampung adalah kewajiban kultural-tradisionalistik yang entri poin dari perspektif kebangsaan dimanifestasi ke dalam diksi nasionalisme-ber-Madura. Karena itu, mudik bukan sebentuk rutinitas saja, tetapi lebih penting dari itu pulang kampung adalah spiritualitas, religiusitas, nasionalitas, etnisitas, dan entitas dari sebuah bangsa; Madura.

Merawat Kultur

Dalam kesejarahan mudik, warga Madura perantauan umumnya pulang kampung dalam sepekan terakhir sebelum Hari Raya Idul Fitri. Ini dilakukan agar bisa menunaikan malem lekoran (malam setelah tanggal 20 Ramadan, tetapi sebelum 1 Syawal).

Saat hari pertama tiba di kampung di mana ari-arinya ditanam, warga perantauan memulai hari dengan nyekar. Kultur ini sebagai konsekuensi logis dari pepatah Madura: lakona lakone, kennenganna kennenge, asalla je’ kaloppae, kenga’e bumena (kerjakan tugasnya, tempati posisinya, jangan lupa asal, harus ingat mati).

Itulah sebabnya, hari pertama perantauan ini disempatkan untuk ziarah kubur dengan berbagai tujuan. Di antaranya, doa terhadap para leluhur, eling karena berasal dari dan akan kembali ke tanah. Di hari kedua, perantauan bercengkerama dengan sanak famili yang masih hidup. Mengakrabkan satu dengan yang lain agar diketahui anak-anak dan cucu-cucunya. Harapannya, ketika kelak para orang tua sudah sampai pada waktunya, tradisi dekat dengan keluarga tetap lestari.

Hari ketiga, perantauan akan menyelenggarakan acara buka bersama atau hadir dalam acara sejenis yang dituanrumahi kerabat dekat. Hari-hari selanjutnya, perantauan beranjangsana karena terkait kerabat atau teman lama saat masih belia. Di momen ini, mereka saling bernostalgia sambil memberikan pendidikan sebagaimana tertuang dalam pepatah bahasa Madura sebagaimana diseratkan dalam Babad Madura.

Puncak dari kegiatan pemudik setelah menyelesaikan kegiatan kekeluargaan terjadi di H+7 yang dalam bahasa Madura disebut dengan Tellasan Topa’ (Hari Raya Ketupat). Di hari raya ini, warga Madura berkumpul di masjid atau musala. Lalu, melaksanakan salat Duha secara berjemaah. Setelah salat, ada kultum (kuliah tujuh menit atau tujuh belas menit). Lalu, jemaah bersalaman satu sama lain layaknya Idul Fitri.

Makna dari Tellasan Topa’ bagi para pemudik tak lain sebentuk perpisahan sementara untuk kembali ke rantau, melaksanakan tugas, baik sebagai bagian dari keluarga di luar Madura, karyawan dalam sebuah perusahaan, atau panggilan perjuangan mencari nafkah yang ujung-ujungnya, bagi warga Madura adalah ibadah hidup yang terkait dengan muamalah.

Sejurus kemudian, perantauan pergi ke tempat wisata yang terdapat di sekitar tempat asal perantauan. Misalnya, warga Sumenep mendatangi Pantai Lombang atau Salopeng, begitu juga di Pamekasan akan hadir ke Talang Siring atau Brukoh Hill. Hal yang sama di Sampang, perantauan akan hadir di Pantai Camplong dan di Bangkalan akan mengunjungi Bukit Jaddih.

Malam hari terakhir di kampung di mana besok hari perantauan akan kembali ke tanah rantau, mereka menggelar selamatan dalam upacara yang dihadiri keluarga terbatas. Selain berdoa dan beramah-tamah dengan keluarga dekat, mereka bicara dan meneguhkan komitmen untuk saling menjaga ikatan dan martabat keluaga berikut para leluhurnya. Sampai kemudian, mereka kembali ke tanah parantauan dan diantar ke terminal bagi yang naik bus AKAP dan seterusnya.

Itulah sebabnya, bagi warga Madura, mudik tidak sesederhana yang dibayangkan karena di dalamnya sarat makna, sejarah, dan penerusan dinasti yang diwariskan para leluhur. Terutama, warisan leluhur yang harus mencintai (ja’ atokaran sataretanan), hidup rukun damai sejahtera karena sejatinya siapa pun itu, kaya-miskin, rakyat jelata-penguasa tidak akan bertahan lama. Persis seperti pepatah Madura, dhari tana abali ka tana (yang terbuat dari tanah akan kembali menyatu dengan tanah), yang dalam bahasa para pujangga: tak ada yang abadi.

Senyampang masih bisa bersilaturahmi, maka ramai-damai dalam keluarga adalah kekolegaan yang realistis. Mudik sejatinya tidak hanya merawat kultur, tradisi, dan nasionalisme bergeografi. Tetapi lebih dari itu, mudik adalah thariqah dan perjuangan melawan lupa ; lupa diri, lupa orang lain, dan lupa alam sekitar. (*)

*)Ketua Banggar DPR Republik Indonesia Editor : Abdul Basri
#ketua banggar dpr ri said abdullah #lebaran #mudik #madura #said abdullah