MADURA sebagai suatu entitas memiliki kekhasannya sendiri. Tradisinya begitu kuat. Dan karena itu, bertahan sampai saat ini. Dalam Ramadan ini, ada beberapa tradisi yang secara spesifik hanya terjadi di bulan puasa.
Pertama, nyekar, yang dilakukan satu hari sebelum Ramadan tiba. Nyekar ini dilakukan di pagi hari. Bentuknya, doa bersama terhadap para leluhur yang sudah terbaring di dalam kubur. Sebelum atau setelah berdoa, sanak kerabat membersihkan kuburan dari tanaman maupun rumput liar.
Kedua, nampa. Tradisi ini dilaksanakan pada sore, sehari sebelum bulan Ramadan tiba. Nampa ini berupa kegiatan saling bersedekah, yang dalam bahasa Madura disebut dengan ter-ater. Pemandangan warga yang berbagi makanan dari satu rumah tetangga ke rumah lainnya terlihat ramai di senja terakhir sebelum bulan puasa.
Ketiga, darusan. Darusan ini sebagai bahasa lain dari tadarus. Tadarus dilakukan sesuai timing. Biasanya, di helat selama empat kali dalam sehari dengan kelompok yang berbeda-beda.
Di pagi hari, darusan dilaksanakan setelah salat Subuh yang melibatkan peserta jemaah subuh. Darusan kembali digelar di waktu (salat) Duha. Kelompok yang mengambil momentum ini adalah para remaja putri dan kaum ibu. Selanjutnya, darusan dihelat lagi setelah salat Asar.
Pegiat darusan di momentum ini tak lain kalangan pemuda dan remaja, yang menjangkau masjid tidak begitu jauh dari rumahnya. Momen lainnya, darusan dihelat setelah salat Tarawih yang dilaksanakan oleh kalangan dewasa (laki-laki). Kegiatan tersebut berlangsung hingga Ramadan usai.
Keempat, tradisi lainnya di sepuluh terakhir Ramadan. Di sepuluh terakhir ini warga Madura menyebut dengan malem lekoran. Disebut lekoran lantaran sepertiga Ramadan terakhir yang terdiri dari tanggal-tanggal likuran (Jawa). Di malem lekoran inilah, warga Madura berebut untuk berburu malam Lailatulqadar.
Meski malam Lailatulqadar tidak mesti turun di waktu sepertiga terakhir Ramadan, tetapi sebagian besar nenek moyang Madura memiliki keyakinan bahwa sepuluh terakhir Ramadan yang dimulai tanggal 20 Ramadan ke atas, Tuhan Yang Mahakuasa menurunkan malam Lailatulqadar yang menurut Al-Qur’an, keutamaan malam itu lebih dari sekadar 1000 bulan.
Kelima, malemman. Tradisi ini melengkapi spiritualisme-tradisionalistik sebagaimana disebutkan. Hanya, di tradisi malemman ini berkait dengan ter-ater yang disampaikan secara simbolik yang menandai malemman itu sendiri. Istilah malemman ini hanya berlaku pada tanggal malam 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadan, atau pada tanggal ganjil saja. Supaya warga memiliki ingatan kolektif tersebut, maka pada malam tanggal 21 Ramadan, warga menandai dengan ter-ater penganan serabi. Ramainya ter-ater serabi tersebut menjadi ingatan kolektif bahwa malam itu, tanggal 21 Ramadan.
Malam-malam selanjutnya di tanggal ganjil Ramadan pasca tanggal 20 Ramadan ini, simbol ter-ater berubah ke kue lapis, ketan, kolak, dan terakhir nasi plus lauk daging (ayam atau sapi sebagai pemungkas dari lekoran). Yang paling puncak dari tradisi lekoran dan berburu Lailatulqadar ini, saat usai Lebaran yang ditandai dengan makan bersama dalam silaturahmi Idul Fitri dan dimeriahkan dengan bunyi petasan.
Menangkap Makna
Rangkaian seperti diceritakan dalam tradisi malem lekoran dan berburu Lailatulqadar, maknanya bukan pada ritualitas simbol. Tetapi, memahami cara pandang publik yang menolak lupa.
Pertama, menolak lupa: bahwa tradisi tersebut tidak semata-mata muncul begitu saja. Tetapi lebih dari itu, Ramadan mendedahkan kebersamaan dan kebersahajaan, yang pada intinya, satu sama lain harus saling membantu dan bahu-membahu. Tak ada kebahagiaan bila seseorang hanya hidup dalam lingkup yang acuh dan individualistic.
Kedua, tradisi malemman mengajarkan mata rantai kehidupan. Sebab hakikatnya, satu sama lain adalah keluarga dalam satu trah langsung maupun tak langsung. Di fatsun ini, tradisi lekoran mengajarkan persatuan dan kesatuan agar tetap holopis kuntul baris.
Ketiga, lekoran mendidik siapa pun agar mawas diri supaya eling dan waspada. Tidak diketahui kapan persisnya Lailatulqadar turun, tetap disemangati sebagai pribadi yang tidak boleh lupa kepada yang Bahurekso. Lailatulqadar sebagai terminologi ilahiah yang harus dipahami sebagai spiritualitas baru, di mana amal baik manusia tidak selalu berkait dengan matematis.
Keempat, malemman memiliki girah sebagai momentum untuk berjuang dan menjadi yang lebih baik di akhir cerita, husnulkhatimah. Ia juga bermakna semangat agar tetap dipercaya Tuhan untuk berpuasa kembali di tahun-tahun mendatang. Itulah sebabnya, publik Madura melanggengkan tradisi ini dengan girah yang menggabungkan antara tradisionalitas dan religiositas.
Pasca booming-nya digitalisasi peradaban, kaum muda Madura lambat laun berada pada posisi yang agak berjarak dengan kultur dan tradisionalitas ini. Sehingga, perjalanan malem lekoran dan cara berburu Lailatulqadar yang dilakukan dengan jalan kekhusyukan, kian susut seiring dengan semakin berkembangnya IT.
Di era puncak keemasan lekoran di era 90-an, generasi Madura lebih khusyuk membingkai kehidupannya yang bernuansa tradisi dan religi. Kini, nuansa tradisi-religi tetap berlangsung. Namun, generasi Madura merasa lebih nyaman berada di dekat gadgetnya masing-masing. Mungkin sedang asyik dengan alam pikirannya yang menembus dunia, mungkin juga memindahkan khazanah tradisionalitas dan religiositas ke gadgetnya, atau sedang mengerjakan yang lain, yang sulit dipahami dan tak terjangkau, untouchable. (*)
*)Ketua Banggar DPR RI
Editor : Abdul Basri