Oleh M. H. Said Abdullah
Anggota DPR RI, Wakil PDI Perjuangan dari Madura
BUDAYA dan sejarah bukan sekadar kajian akademik, tempat para akademisi dan peneliti berlabuh menggali khazanah pengetahuan. Budaya dan sejarah telah lama menjelma menjadi destinasi wisata, sekaligus sebagai benang pengikat dengan kebudayaan masa lalu. Sekadar ilustrasi, Palestina adalah sedikit tempat di dunia ini yang memiliki situs-situs sejarah penting, yang mempertautkan hubungan kerohanian dari pengikut beberapa agama.
Kebanyakan mereka pengikut Katolik dan Kristen yang berkunjung ke Kota Bethlehem, ke Gereja Kelahiran Yesus. Selain Gereja Kelahiran di Bethlehem, kota suci umat Nasrani, terdapat pula Masjid Al Aqsa di Yerusalem, masjid suci umat Islam. Al-Qur’an mengisahkan perjalanan Isra dan Mikraj Nabi Muhammad SAW dimulai dari Masjidilharam menuju Masjidilaqsa, dan dari Al Aqsa inilah Rasulullah menjalani perjalanan spiritual ”menghadap”, dan menerima perintah dari Allah SWT, yakni mengabarkan perintah salat lima waktu bagi kaum muslimin.
Praktis Palestina menjadi tempat berlabuhnya energi spiritual banyak agama. Andaikan negara ini tidak diliputi bara konflik, potensi kunjungan wismannya sungguh sangat besar, karena kekayaan situs-situs rohaniahnya. Bukan hanya Palestina yang kaya akan wisata religi. Negara-negara seperti Irak, Suriah, dan Mesir sangat gencar menawarkan wisata ziarah religi.
Pemerintah Irak menawarkan paket ziarah ke para imam hingga cucu Rasulullah. Mereka mengundang para peziarah dari berbagai negara untuk berkunjung ke makam Syekh Abdul Qadir Jaelani, Imam Hanafi, Sayidina Ali RA dan SayidinaHusein RA. Data tahun 2018, jumlah peziarah di Imam Husen RA saja mencapai 1,5 juta orang yang berasal lebih dari 30 negara.
Napak Tilas
Madura dapat menjadi saksi sejarah peradaban besar kita dimasa lalu. Banyak situs-situs penting di Madura yang memberikan pelajaran berarti. Belajar dari tumbuhnya peradaban-peradaban besar tidak berdiri sendiri, namun ditopang dari persilangan kebudayaan. Kalau kita berkunjung ke Asta Tinggi atau makam para raja di Sumenep, tampak menghadirkan nuansa ”kekuatan osmosis”, yakni peleburan kebudayaan Jawa, Arab, Tiongkok, dan Eropa.
Saya kira arsitektural Asta Tinggi dibuat penuh dengan maksud, yakni menggambarkan bahwa Madura sejak dulu merupakan wilayah yang terbuka. Karena keterbukaan kebudayaan inilah Sumenep menjadi salah satu peradaban tua yang sangat agung. Siapa pun pasti mengakui Keraton Sumenep punya saham besar atas berdirinya Majapahit, sang penguasa Nusantara. Hubungan kontributif Sumenep ke Majapahit inilah yang harus menjadi angle penting, agar kekuatan Sumenep makin berbobot dari sisi narasi. Kekuatan narasi inilah yang harus ”dijual” pada wisata budaya dan sejarah di Sumenep.
Saat Majapahit mulai surut, dan gelombang islamisasi menjadi energi baru, Madura juga tidak menutup diri. Madura bukan hanya menjadi arena persinggahan, lebih dari itu, setelah empat abad berlalu, Islam di Madura menjadi salah satu poros ”Islam tradisional” di Indonesia. Sampai ada guyonan, agama orang Madura adalah NU. Oleh sebab itu, rangkaian harlah satu abad NU, ”merawat jagat” haruslah menyertakan kekayaan spiritualdi Madura.
Peluang ini harus dielaborasi lebih dalam oleh pemerintah kabupaten se-Madura dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Penting untuk membuat napak tilas spiritual, menyusur akar sejarah dan pemikiran Islam yang tumbuh di Madura, khususnya sebagai kekuatan kontributif atas berdirinya NU pada masa lalu. Selain itu, ada banyak sekali pemuka-pemuka Islam yang hidup hingga wafat di Madura, dan makamnya menjadi kunjungan perziarahan banyak warga, baik dari Madura maupun luar Madura.
Para akademisi, pegiat sejarah dan budaya, para ulama, pemerintah kabupaten se-Madura, dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur harus bisa menghidupkan pikiran-pikiran Islam dan peradaban dari para wali Allah di atas. Sehingga, kunjungan para peziarah bukan sekadar memanjatkan lantunan doa, tetapi ”menghidupkan” kembali para wali Allah di atas dalam rangkamenemukan kembali (invensi) energi spiritual mereka pada masa kini.
Ruang kreatif inilah yang tidak tersentuh sama sekali. Bertebarannya situs-situs perziarahan di Madura jika dikemas dengan tepat, bisa mendatangkan dua keuntungan sekaligus. Wisata kreatifnya kian tumbuh, dan secara ekonomi memberikan efek multiplier, di saat yang sama bisa menghidupkan dan mereaktualisasi khazanah keislaman klasik pada masa modern saat ini. (*)
Editor : Abdul Basri