SOSOK guru di Madura ada tiga. Masa Majapahit bernama Guru Rupaka (orang tua), Guru Wisesa (Pemerintah), dan Guru Pangajiyan (Guru Ngaji). Di masa Majapahit tiga guru tersebut disebut triguru. Lalu, logika khas ahlussunnah wal jamaah menginisiasinya menjadi buppa’-babbu’-guru-rato. Ada islamisasi nilai-nilai lama yang dianggap baik. Buppa’ Adam dan Babbu’ Hawa adalah contoh islamisasi itu. Pemerintah pun disebut rato yang berurutan dengan orang tua dan guru ngaji (ulama). Tiga unsur ini membentuk satu sistem pagurun yang baik dalam alam kultur Madura.
Lalu apa spirit pagurun yang masih cocok di masa kini? Madura memiliki nilai-nilai keadaban pagurun sejak andhap asor, ta’ olle cangkolang, asel ja’ loppa asal, atoro’ cacana reng towa, ta’ olle tenggi bau, kasomba sare ka budhi, dan lainnya. Nilai-nilai ini seharusnya menjadi adab pagurun yang baik dan perlu dibumikan agar terjadi harmonisasi antara guru, murid, dan orang tua dalam kehidupan.
Babad Sumenep mengisahkan hormat Jokotole kepada Empo Kelleng selain hormat kepada Adipoday. Ada kesamaan andhap asor terhadap Adipoday yang merupakan orang tua kandung Jokotole dengan Empo Kelleng yang merupakan orang tua angkat. Empo Kelleng pada dasarnya telah berperan sebagai guru bagi Jokotole selain Buppa’ Adipoday dan Babbu’ Pottre Koneng.
Dikeluarkannya Jokotole dari istana sejak bayi dan melewati fase hidup sebagai rakyat bersama Empo Kelleng juga mengajarkan nilai-nilai pagurun khas Madura, yaitu kerja keras di tengah kehidupan yang merakyat. Kisah masa kecil Jokotole telah mengajarkan agar dalam menuntut ilmu seseorang harus berprinsip kasomba sare ka budhi (kesumba cari di belakang hari). Warna warni kesumba yang indah itu adalah majazi untuk kehidupan seorang penuntut ilmu tentang perlunya kerja keras dan mandiri dalam mencari hikmah. Jokotole telah dilepas dari enaknya kehidupan istana sehingga benar-benar daddi oreng (menjadi manusia).
Selama ini sering orang Madura salah kaprah. Daddi oreng hanya dimaknai secara duniawi semata. Daddi oreng dimaknai sebatas sukses menjadi pejabat, sukses menjadi PNS, sukses menjadi DPR, sukses ekonomi, naik haji, dan lainnya. Padahal, daddi oreng itu memiliki makna lebih daripada parameter sosial-ekonomi. Daddi oreng itu adalah ketika seseorang betul-betul menempatkan dirinya sesuai harkat kemanusiaan dan mampu memanusiakan orang lain. Tentu saja, seseorang hanya bisa daddi oreng se samporna kalau dia tak melulu etateng oreng towa (dibantu orang tua). Lihatlah perjalanan hidup Jokotole yang merakyat dan jauh dari keglamoran keraton.
Hidup merakyat dan tak dimanja orang tua itulah yang menyebabkan Jokotole ketika menjadi rato memiliki sifat asel ta’ loppa ka asal (kalau sudah sukses tak lupa diri). Meski berdarah biru, Jokotole tetap merasa sebagai bagian dari rakyat karena selama belasan tahun ditempa sebagai rakyat. Sikap takzim juga terlihat dari percakapan Jokotole dengan Empo Kelleng. Sikap yang tak banyak protes ala murid-murid zaman now yang ingin dilabeli sebagai anak muda kritis berpikiran maju, padahal tak lebih dari kritisisme hampa tanpa solusi.
Adakalanya memang murid-murid itu diajari diam. Diam bukan berarti diam yang membunuh kritisisme. Bukan berarti diam yang mematikan kreativitas, tapi diam untuk melatih kesabaran emosi dan diam dalam mencermati setiap peristiwa. Tanpa diam yang baik, sebuah fenomena hanya akan dimaknai dengan emosi, bukan dengan nalar yang sehat. Diam adalah langkah awal kesuksesan sebuah transformasi ilmu. Khidir menyuruh Musa diam bukan untuk mematikan nalar Musa yang cerdas itu, tapi untuk meredam sifat psikologis Musa yang kadangkala meledak-ledak.
Diam dalam kerangka takzim ini merupakan salah satu tradisi adab keilmuan Guru Pangajiyan sejak zaman Majapahit dulu. Para cantrik saksama dan konsentrasi dalam menyimak pengajaran para begawan. Para cantrik tak pernah cangkolang kepada para resi. Di masa Islam, adab ta’ cangkolang inilah yang dielaborasi Ta’lim Muta’allim sehingga terciptalah murid-murid yang matang tidak hanya secara keilmuan, tapi juga emosi.
Karakter takzim ta’ cangkolang inilah yang menghilang dalam budaya pendidikan sekolah kita. Kalangan modern bahkan menyebut takzim sebagai kultus individu. Sebuah penilaian tak berdasar, karena kultus itu bahasa Arabnya adalah taqdis, dan taqdis sendiri tak ada dalam budaya Sunni. Taqdis kepada ulama ada dalam tradisi Syiah. Bahkan, budaya mendudukkan guru sebatas pengajar ada dalam benak para orang tua.
Orang tua terkadang tak terima jika anaknya kena sanksi dari sang guru. Beragam cara dilakukan mulai protes kepada pihak sekolah sampai mendayagunakan LSM. Kita akui ada oknum guru yang tidak baik, tapi jangan sampai merusak budaya pendidikan yang baik. Sikap diam juga seharusnya dilakukan orang tua. Sikap diam yang bijak inilah yang menjadi syarat pagurun Musa kepada Khidir.
Berproses secara mandiri ala Jokotole dengan Empo Kelleng itulah penyebab kesuksesan Jokotole. Filosofi Madura mengenalnya dengan sebutan tao bisa daddi dan ngarte bisa daddi. Alam pikir Madura mengenal istilah tao dan ngarte. Keduanya tidak sama. Tao bisa jadi menyebabkan orang itu berilmu, tapi belum tentu dia mampu menyelami hikmah di dalamnya. Oreng tao bisa jadi hanya berteori tapi tak bisa mengamalkan.
Penulis pernah bertemu dengan orang-orang bertitel Magister Syariah atau Magister Hukum Islam tapi tak jujur dalam hidup. Tapi dengan ngarte, seorang murid akan bisa menggali hikmah. Ilmu dengan hikmah adalah kunci kesuksesan pendidikan. Nabi Sulaiman dan Daud bisa sukses karena bukan hanya memiliki ilmu, tapi juga hikmah. Ilmu hanya akan mengantar kepada tao, tapi hikmah akan mengantar kepada ngarte.
Daddi oreng terkadang cita-cita seorang penuntut ilmu. Daddi oreng bisa dicapai melalui kasomba sare e budhi. Dalam proses kasomba sare e budhi, seseorang harus mella’ ate agar tercapai ngarte bisa daddi. Mella’ ate dan tarbuka juga merupakan filosofi Islam. Perhatikan dhabu para ulama tentang ilmu yang tersimpan di hati dan bukan di otak. Kultur Madura tak sekadar mencari pintar, tapi juga mella’ ate. Mella’ ate ini juga yang mulai tergeser oleh berlomba-berlombanya orang tua mengikutsertakan anak-anaknya dalam pendidikan yang menyita waktu dengan melupakan pendidikan adab. Penulis melihat ada tambahan les dan kursus dilakukan bakda Magrib ketika seorang muslim seharusnya menggunakan waktu barokah itu untuk ngaji seperti anak-anak masa lalu.
Orang tua seharusnya tidak memanjakan anak ketika sedang dalam proses menuntut ilmu. Orang Madura harus seperti orang-orang sepuh dahulu. Dulu, ketika anak mau berangkat mondok, orang tua biasa memberi spirit agar anaknya menjalani tapa dan bangal ka lapar. Filosofi pendidikan Islam menyebut takkan bertemu ilmu pada perut yang kenyang.
Inilah nilai-nilai pagurun Madura yang mulai terlupakan. Kiriman berlimpah pada seorang santri terkadang mengenyangkan perut yang berakibat melemahnya sinyal otak dan hati dalam menerima ilmu. Riadat dan tirakat mulai ditinggalkan demi modernisasi pendidikan. Padahal, riadat dan tirakat lara ka lapar itu merupakan proses menjalani hidup sebagai oreng kene’ (orang kecil). Percayalah, filosofi oreng kene’ jika dijalani secara benar dalam menuntut ilmu akan menyebabkan seseorang tangguh dalam menghadapi gelombang kehidupan yang berubah-ubah.
*)Alumnus FISIP UNEJ.
Editor : Abdul Basri