SAMPANG – Penangkapan Faisol dan Misbah bin Rahman di Jalan Raya Jatra, Desa Jatra Timur, Kecamatan Banyuates, Sampang, mengalahkan rekor pengungkapan Polres Bangkalan. Selasa malam (14/2), anggota polisi mendapat informasi transaksi narkoba dalam jumlah besar. Putut dan Wisnu, kakak beradik asal Bali ini sedang berada di Bangkalan.
Setelah mematangkan strategi, petugas bergeser ke jalan raya akses Suramadu. Tidak berselang lama, Toyota Avanza putih DK 1999 BT yang dikendarai kedua pelaku melintas ke arah Surabaya. Polisi langsung mengejar. Mobil yang di dalamnya memuat Putut dan Wisnu itu dipepet di Desa Petapan, Kecamatan Labang.
Mobil putih itu berhasil diberhentikan. Setelah itu, langsung dilakukan penggeledahan. Polisi menemukan sepuluh kemasan berisi narkoba jenis sabu. Berat kristal putih itu diperkirakan mencapai satu kilogram.
Saat itu juga kedua warga Pulau Dewata berserta sabu-sabu dan mobilnya dibawa ke Mapolres Bangkalan. Mereka kemudian diinterogasi asal usul barang tersebut diperoleh. Kepada petugas, mereka mengaku mendapat barang itu dari bandar besar yang juga warga Kecamatan Kokop, Bangkalan.
Namun, hingga kini bandar yang mereka sebut belum tertangkap. Kali ini anggota Polres Sampang menangkap dua orang kurir dengan barang bukti lebih banyak. Total berat sabu-sabu 8,750 kilogram.
Sekretaris Jaringan Kawal Jawa Timur (Jaka Jatim) Tamsul mengapresiasi keberhasilan petugas yang mengungkap kasus narkoba. Menurut dia, peredaran narkoba di Sampang meluas. Karena itu, butuh tindakan dari berbagai pihak.
”Masih banyak sebetulnya yang perlu diungkap. Sebab, peredaran narkoba di Sampang sangat memprihatinkan bagi generasi muda,” katanya.
Pria berambut gondrong itu menyatakan, tidak ada kurir jika tidak ada bandar. Jika tidak ada bandar, maka tidak ada pemakai dan pengedar. ”Untuk memutus mata rantai perlu penelusuran. Tertangkapnya kurir ini yang nantinya akan menguak bandar,” tegasnya.
Tamsul mengatakan, peredaran narkoba di pantura sangat memprihatinkan. Pengedar dan pemakai bukan orang dewasa. Pelajar SD, SMP, dan SMA juga terlibat. ”Saya melihat pemainnya bukan pemain lokal, tapi sudah internasional. Mata rantai ini perlu ditelusuri dan diputus,” pintanya.
Editor : Abdul Basri