UTM Kembangkan Pelet Sapi Berbasis Potensi Lokal dan Energi Biogas

Anis Billah • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 20:20 WIB
DIOLAH: Tim dari UTM mengembangkan inovasi pakan pelet sapi berbasis bahan baku lokal di Desa Rek Kerrek, Pamekasan. (UTM UNTUK JPRM)
DIOLAH: Tim dari UTM mengembangkan inovasi pakan pelet sapi berbasis bahan baku lokal di Desa Rek Kerrek, Pamekasan. (UTM UNTUK JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id — Universitas Trunojoyo Madura (UTM) terus berupaya memperkuat kemandirian peternak dan petani di wilayah pedesaan. Melalui Program Desa Binaan, UTM mengembangkan inovasi pakan pelet sapi berbasis bahan baku lokal sekaligus memperkenalkan alat pellet modifikasi yang dapat digerakkan menggunakan energi biogas, dengan nomor kontrak 202/C3/DT.05.OO/PM/2026.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program “Penguatan Peternak dan Petani di Desa Binaan Rek Kerrek, Madura melalui Paket Manajemen Pakan Ilmiah Terukur Sapi Madura (GFP-Prototipe Pakan-SIM) dan Hilirisasi Bioslurry menjadi Kompos”. 

Program ini didukung oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui Program Desa Binaan BIMA Tahun 2026.

Ketua Tim Pelaksana, Andrie Kisroh Sunyigono, Ph.D., mengatakan inovasi yang diperkenalkan tidak hanya berfokus pada produk pakan, tetapi juga pada teknologi pengolahan pakan yang sesuai dengan kondisi masyarakat Desa Rek Kerrek.

“Kami memberikan alat pellet modifikasi yang dapat digerakkan dengan memanfaatkan tenaga gas biogas. Jadi, energi yang tersedia di desa dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung proses produksi pakan,” kata Andrie.

Menurutnya, pemanfaatan energi biogas untuk mengoperasikan alat pellet memiliki nilai strategis bagi peternak di Desa Rek Kerrek. Kondisi geografis dan musim kemarau yang relatif panjang membuat ketersediaan hijauan pakan ternak menjadi tantangan yang perlu diantisipasi.

“Pakan pelet dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu peternak menghadapi kondisi wilayah yang relatif kering, terutama ketika memasuki musim kemarau dan ketersediaan hijauan menurun. Dengan pakan yang dapat diproduksi dan disimpan, peternak memiliki alternatif sumber pakan yang lebih terukur,” jelasnya.

Manfaatkan Bahan Baku Lokal Desa

Anggota tim, Prof. Bambang Suwignyo, mengutarakan, formulasi pelet dikembangkan dengan memanfaatkan berbagai bahan yang mudah ditemukan di lingkungan Desa Rek Kerrek.

Bahan yang digunakan antara lain dedak padi 10 kilogram, tumpi 7,5 kilogram, jagung giling 2,5 kilogram, ampas tahu 9 kilogram, kulit singkong 6 kilogram, daun singkong 7,5 kilogram, janggel 7,5 kilogram, serta molases 1 liter.

“Prinsipnya, kami berusaha memanfaatkan potensi lokal yang tersedia di desa. Bahan-bahan tersebut tidak harus didatangkan dari luar daerah, tetapi dapat berasal dari hasil samping pertanian dan agroindustri yang ada di sekitar masyarakat,” tutur Bambang.

Formulasi tersebut kemudian diolah menjadi pakan berbentuk pelet sehingga lebih mudah ditangani, disimpan, dan diberikan kepada ternak.

Menurut Bambang, pendekatan berbasis bahan baku lokal menjadi penting karena salah satu komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan adalah pakan. 

Pemanfaatan sumber daya lokal diharapkan dapat mengurangi ketergantungan peternak terhadap pakan dari luar sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil samping pertanian.

“Campuran bahan ini diformulasikan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak sapi, sehingga bukan sekadar mencampurkan bahan, tetapi memperhatikan kebutuhan pakan ternak secara ilmiah dan terukur,” tambahnya.

Dari Energi Biogas Menjadi Pakan dan Kompos

Program Desa Binaan ini juga membawa konsep yang lebih luas, yakni menghubungkan sektor peternakan, pertanian, energi, dan pengelolaan limbah dalam satu sistem.

Selain pengembangan pakan pelet, tim UTM juga mendorong hilirisasi bioslurry menjadi kompos. Bioslurry merupakan hasil samping dari proses produksi biogas yang masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembenah tanah dan pupuk organik.

Dengan pendekatan tersebut, kotoran ternak tidak berhenti sebagai limbah. Sebagian dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas sebagai sumber energi, sementara residunya dapat diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat bagi pertanian.

"Kami ingin menunjukkan bahwa peternakan dapat dikembangkan dalam sistem yang lebih terintegrasi. Limbah ternak dapat menghasilkan energi, energi dapat digunakan untuk mendukung produksi pakan, sedangkan residu biogas dapat dimanfaatkan kembali untuk pertanian,” jelas Andrie.

Pendekatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun sistem pertanian dan peternakan berbasis ekonomi sirkular, dengan prinsip memaksimalkan pemanfaatan sumber daya dan meminimalkan limbah.

Libatkan Tim Multidisiplin dan Mahasiswa

Program ini dilaksanakan melalui kolaborasi tim UTM yang memiliki latar belakang keilmuan yang saling melengkapi. Selain Andrie Kisroh Sunyigono, Ph.D. sebagai ketua, tim pelaksana terdiri atas Prof. Bambang Suwignyo, Dr. Eko Setiawan, dan Sri Ratna Triyasari, S.P., M.P. sebagai anggota.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mengintegrasikan aspek peternakan, pakan, agribisnis, teknologi, pengelolaan limbah, dan pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaan Program Desa Binaan.

UJICOBA: Tim UTM memperkuat kemandirian peternak dan petani di Desa Binaan Rek Kerrek, Pamekasan. (UTM UNTUK JPRM)
UJICOBA: Tim UTM memperkuat kemandirian peternak dan petani di Desa Binaan Rek Kerrek, Pamekasan. (UTM UNTUK JPRM)
Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa UTM, yaitu Raihan M. Iqbal, Mar'atul Fitriyah, Rifandi Setiawan, dan Robin Fahriza.

Para mahasiswa terlibat dalam berbagai aktivitas di lapangan, mulai dari persiapan kegiatan, pendampingan masyarakat, pengenalan teknologi, hingga membantu proses implementasi program bersama kelompok peternak dan petani.

Keterlibatan mahasiswa diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran langsung untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Disambut Positif Pemerintah Desa dan Peternak

Kepala Desa Rek Kerrek menyambut baik pelaksanaan Program Desa Binaan UTM tersebut. Menurutnya, inovasi pengolahan pakan sangat relevan dengan kondisi peternak di desa, khususnya dalam menghadapi keterbatasan pakan hijauan pada musim kemarau.

“Kami sangat mendukung program ini. Inovasi pakan pelet berbasis bahan lokal dan pemanfaatan biogas sangat sesuai dengan kebutuhan masyarakat kami. Harapannya, teknologi ini tidak hanya menjadi kegiatan percontohan, tetapi dapat benar-benar digunakan dan dikembangkan oleh peternak di Desa Rek Kerrek,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Produksi Peternakan, Ibu Indah S., menyampaikan apresiasi terhadap inovasi yang diperkenalkan melalui Program Desa Binaan tersebut.

Menurutnya, pengembangan pakan berbasis bahan lokal dapat menjadi salah satu alternatif untuk mendukung keberlanjutan usaha peternakan, terutama ketika peternak menghadapi persoalan ketersediaan hijauan pada musim kemarau.

“Kami mengapresiasi kegiatan ini karena memberikan alternatif teknologi kepada peternak. Harapannya, formulasi pakan dan alat yang diperkenalkan dapat terus dikembangkan sehingga mampu mendukung efisiensi dan kemandirian peternak,” ujarnya.

Bagi peternak peserta kegiatan, inovasi tersebut memberikan perspektif baru dalam pengelolaan pakan. Selama ini, sebagian peternak masih sangat bergantung pada ketersediaan hijauan dan pakan yang tersedia secara musiman.

Dengan adanya teknologi pellet, bahan-bahan lokal yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal dapat diolah menjadi pakan yang lebih mudah disimpan dan digunakan sesuai kebutuhan.

Menuju Peternakan Madura yang Lebih Mandiri

Program Desa Binaan ini diharapkan tidak berhenti pada pengenalan alat dan formulasi pakan, tetapi berkembang menjadi model pemberdayaan yang dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat.

Integrasi antara limbah ternak, produksi biogas, energi untuk pengolahan pakan, pemanfaatan hasil samping pertanian, dan produksi kompos menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan untuk membangun sistem peternakan yang lebih berkelanjutan.

“Harapan kami, masyarakat dapat menguasai teknologi ini dan mampu mengembangkannya setelah program selesai. Kalau peternak bisa memproduksi sebagian kebutuhan pakannya sendiri dengan bahan lokal dan energi yang tersedia, maka ketergantungan terhadap input dari luar dapat dikurangi,” pungkas Andrie.

Ke depan, tim UTM akan melakukan pendampingan dan evaluasi terhadap pemanfaatan alat pellet, kualitas pakan, serta respons ternak terhadap formulasi pakan yang dikembangkan.

Program ini juga diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah hasil samping pertanian dan peternakan, sekaligus memperkuat hubungan antara kegiatan peternakan dan pertanian di Desa Rek Kerrek.

Dengan demikian, Desa Rek Kerrek diharapkan tidak hanya menjadi lokasi penerapan teknologi, tetapi dapat berkembang menjadi contoh desa yang mampu memanfaatkan potensi lokal, energi terbarukan, dan teknologi tepat guna untuk memperkuat kemandirian peternak serta membangun sistem pertanian-peternakan yang lebih sirkular dan berkelanjutan. (*/bil)

Editor : Anis Billah
inovasi pakan pelet utm Desa Rek Kerrek pakan ternak pamekasan