Perkuat Solidaritas, Ribuan Warga Madura Gelar Upacara Kemerdekaan di Lapangan Jogja Expo Center

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:16 WIB
MERDEKA: Ribuan warga Madura yang tergabung dalam KMY mengikuti upacara HUT Kemerdekaan RI di Lapangan Jogja Expo Center, Senin (17/8). (KMY UNTUK JPRM)
MERDEKA: Ribuan warga Madura yang tergabung dalam KMY mengikuti upacara HUT Kemerdekaan RI di Lapangan Jogja Expo Center, Senin (17/8). (KMY UNTUK JPRM)

JOGJAKARTA, RadarMadura.id – Merah Putih berkibar di tengah lautan warga Madura. Mereka datang dari berbagai profesi dan latar belakang.

Ada pedagang kelontong, tukang cukur, pengusaha besi tua, penjual sate, dan nasi goreng.

Ada pula mahasiswa dan cendekiawan. Untuk sementara, aktivitas mereka ditinggalkan.

Lebih dari 2.500 warga Madura itu mengikuti Upacara HUT Ke-81 Kemerdekaan RI yang digelar Keluarga Madura Yogyakarta (KMY) di  Lapangan Jogja Expo Center (JEC).

Baca Juga: Bukan Sekadar Bocoran, Galaxy Tab S12 Series Sudah Kantongi Sertifikasi Indonesia dan Peluncurannya

Kegiatan tersebut menjadi catatan penting bagi komunitas Madura di Kota Pelajar. 

Sebab, sejak berdiri pada 1958, baru tahun ini warga Madura merayakan kemerdekaan secara bersama-sama dalam skala besar.

Ketua KMY Raden Jugil Adiningrat mengatakan, upacara itu menjadi ruang untuk mempertemukan warga Madura dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep yang selama ini tersebar di berbagai penjuru Jogjakarta.

Pemandangan di lokasi pun cukup khas. Sebagian peserta mengenakan pakaian sakera lengkap dengan udeng.

UNTUK NEGERI: Moh. Agus Fiqri (kiri), pemuda asal Bangkalan, menjadi pengibar bendera pada upacara HUT Ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Jogja Expo Center, Senin (17/8). (MOH. AGUS FIQRI UNTUK JPRM)
UNTUK NEGERI: Moh. Agus Fiqri (kiri), pemuda asal Bangkalan, menjadi pengibar bendera pada upacara HUT Ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Jogja Expo Center, Senin (17/8). (MOH. AGUS FIQRI UNTUK JPRM)

Sebagian lainnya memakai kopiah hitam. Sementara peserta perempuan tampil dengan atasan hitam dan bawahan batik.

Pertemuan tersebut menjadi momen untuk memperkuat solidaritas masyarakat Madura di perantauan.

”Tujuannya memperkuat semangat nasionalisme dan mempererat silaturahmi Brigade Komando Sakera. Sehingga bisa berkumpul dan memperkuat solidaritas,” katanya Kamis (20/8).

Baca Juga: Anggota Komisi VIII DPR RI Ansari Desak Usut Motif Ibu Tusuk Anak

Jugil memastikan, keberadaan masyarakat Madura di Jogjakarta tetap menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat setempat. Toleransi dan kedamaian menjadi nilai yang terus dijaga.

”KMY saat ini menaungi ribuan warga yang tergabung dalam 17 elemen. Di antaranya kalangan cendekiawan, niagawan, dan Forum Silaturahmi Mahasiswa (FSM).”

Di tengah ribuan peserta, warga Tanah Merah, Bangkalan, juga turut mengambil bagian. Salah satunya ialah Moh. Agus Fiqri.

Dia perwakilan dari FSM. Mahasiswa semester VII jurusan hukum Universitas Janabadra itu dipercaya menjadi pengibar bendera.

Fiqri tinggal di Asrama Mahasiswa Trunojoyo Yogyakarta. Dia menceritakan, dirinya tidak ingin kesempatan tersebut hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial.

Menurut dia, menjadi pengibar bendera merupakan bentuk kontribusi mahasiswa pada negara.

”Tujuan ikut upacara ini supaya ada kontribusi untuk negara sebagai mahasiswa. Juga untuk menjunjung integritas,” ucapnya.

Sebelum pelaksanaan upacara, Fiqri menjalani latihan selama tujuh hari. Para pengibar dipilih langsung oleh KMY.

KHIDMAT: Keluarga Madura Yogyakarta (KMY) mengikuti upacara HUT Kemerdekaan RI di Lapangan Jogja Expo Center, Senin (17/8). (KMY UNTUK JPRM)
KHIDMAT: Keluarga Madura Yogyakarta (KMY) mengikuti upacara HUT Kemerdekaan RI di Lapangan Jogja Expo Center, Senin (17/8). (KMY UNTUK JPRM)

Baca Juga: Balita Tewas di Kolam, Polisi Minta Ortu Lebih Waspada

Bagi pemuda asal Bangkalan tersebut, berdiri di barisan pengibar memberikan kebanggaan tersendiri. 

Apalagi, dia bisa menunjukkan identitas Madura di tengah masyarakat Jogjakarta.

Fiqri berharap, keberadaan warga Madura di tanah rantau tidak hanya dilihat dari stereotip yang selama ini melekat.

”Madura tidak hanya dipandang negatif. Di sini kami juga bisa menunjukkan toleransi,” tuturnya.

Menurut Fiqri, menjaga identitas daerah tidak harus dilakukan dengan terus berada di kampung halaman.

Di tanah rantau pun, kecintaan terhadap daerah asal bisa diwujudkan dengan cara berbeda. 

Salah satunya melalui kebersamaan dan kontribusi dalam kegiatan kebangsaan. (ina/yan)

Editor : Hera Marylia Damayanti
Keluarga Madura Yogyakarta menjaga identitas daerah komunitas Madura Lapangan Jogja Expo Center merayakan kemerdekaan