PAMEKASAN, RadarMadura.id – Keterbatasan air menjadi salah satu persoalan yang dihadapi petani di Desa Rek Kerrek, Kecamatan Palengaan. Terlebih saat musim kemarau, sumber air untuk kegiatan pertanian semakin terbatas.
Kondisi tersebut mendorong tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mengembangkan inovasi pertanian lahan kering. Salah satunya melalui budidaya buncis dengan sistem irigasi tetes.
Tim tersebut diketuai Andrie Kisroh Sunyigono, Ph.D., dengan anggota Dr. Eko Setiawan, Sri Ratna Triyasari, S.P., M.P., dan Khamdi Mubarok, S.T., M.Eng. Kegiatan itu juga menggandeng Prof. Ir. Bambang Suwignyo, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
Andrie menjelaskan, irigasi tetes dipilih karena mampu menyalurkan air secara perlahan dan langsung ke zona perakaran tanaman. Dengan demikian, penggunaan air bisa lebih efisien dibandingkan penyiraman secara konvensional.
”Tantangan utama pertanian lahan kering bukan hanya bagaimana meningkatkan produksi, tetapi juga bagaimana menggunakan air yang sangat terbatas secara efisien,” jelasnya.
Menurutnya, pemberian air dapat diatur berdasarkan kebutuhan tanaman, fase pertumbuhan, dan kelembapan tanah. Sistem tersebut juga dapat menekan kehilangan air akibat penguapan, limpasan permukaan, maupun perkolasi berlebihan.
Selain irigasi tetes, tim memilih buncis sebagai komoditas yang dikembangkan. Tanaman tersebut dinilai cocok karena memiliki masa panen relatif singkat dan nilai ekonomi sebagai sayuran konsumsi.
”Lahan kering bukan berarti lahan yang tidak produktif. Dengan pemilihan komoditas yang tepat, teknologi pengelolaan air yang sesuai, serta pendampingan yang berkelanjutan, petani Desa Rek Kerrek dapat tetap berproduksi meski di tengah keterbatasan air,” ujarnya.
Dalam program tersebut, tim UTM juga memanfaatkan pupuk bioslurry yang merupakan hasil samping dari sistem biogas yang dikembangkan di Desa Rek Kerrek. Pemanfaatan bioslurry diharapkan dapat mendukung produktivitas tanaman sekaligus mengoptimalkan sumber daya yang tersedia di desa.
Tidak hanya memberikan teknologi, tim juga melakukan pendampingan kepada petani. Kegiatan meliputi pembuatan demonstration plot (demplot), pengaturan jadwal irigasi, pemantauan kelembapan tanah, hingga evaluasi produktivitas tanaman dan efisiensi penggunaan air.
Salah seorang petani peserta kegiatan mengakui, ketersediaan air menjadi persoalan utama ketika memasuki musim kemarau. Karena itu, sistem irigasi yang lebih hemat air diharapkan membantu petani tetap bercocok tanam.
”Pada musim kemarau air menjadi persoalan utama bagi petani. Kalau air bisa diberikan langsung ke tanaman dan penggunaannya lebih hemat, kami berharap tanaman tetap bisa dibudidayakan meskipun air yang tersedia terbatas,” ungkapnya.
Andrie menambahkan, inovasi tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi. Lebih dari itu, program tersebut menjadi bagian dari upaya adaptasi pertanian terhadap perubahan iklim yang menyebabkan pola hujan semakin tidak menentu dan periode kering semakin panjang.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Berbasis Wilayah–Pemberdayaan Desa Binaan yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun 2026.
”Melalui kegiatan ini, kami tidak sekadar menghadirkan teknologi baru. Kami ingin memperkuat kapasitas masyarakat agar mampu mengelola dan mengembangkan inovasi tersebut secara mandiri,” pungkas Andrie. (*/bil)
Editor : Anis Billah