BANGKALAN, RadarMadura.id – Pakaian masa kini memang banyak yang menarik. Namun, ethnic wear juga tidak kalah menarik. Sebab, dapat tampil keren dengan pakaian jenis satu ini.
Ethnic wear merupakan pakaian etnik tren fashion masa kini yang mengangkat unsur budaya.
Pakaian ini menjadi pakaian turun-menurun suatu tradisi di beberapa daerah. Ciri khas inilah kemudian berkembang menjadi busana fashionable masa kini.
Putera Kesenian Budaya Indonesia 2024 Amiril Achmed telah mengenal baju ethnic sejak 2021.
Dia mulai mengoleksi sejak menghadiri kegiatan yang mengharuskan menggunakan batik ethnic.
”Waktu itu saya ingin tampil beda dari peserta yang lain dan saat itu saya juga kali pertama memperkenalkan batik ethnic,” katanya Sabtu (16/3).
Batik ethnic merupakan bagian ethnic wear yang berbeda dengan batik pada umumnya. Perbedaan terletak pada modifikasi pakaian batik itu sendiri.
Misalnya terdapat pada outer, belt, dan kombiniasi aksesori lainnya.
”Ini lebih menarik dan modif dibandingkan dengan batik pada umumnya yang hanya berbentuk kemeja,” tambahnya.
Pria kelahiran Pati, Jawa Tengah, tersebut menyampaikan, ethnic wear merupakan pakaian tradisional.
Pakaian itu mulai dimodifikasi untuk memberikan kesan fashionable tapi tidak menghilangkan unsur budaya.
”Pakaian ethnic itu pakaian turun-menurun yang dimodifikasi,” ucapnya.
Beberapa jenis ethnic wear yang berkembang saat ini cukup beragam. Di antaranya, batik ethnic, tenun, lukisan, songket, dan jenis lain.
Sehingga, setiap orang yang menggunakan pakaian tersebut akan terlihat unik dan memberikan kesan tertentu.
”Saya saja setiap menggunakan pakaian ini akan terlihat makin percaya diri, keren, dan ada kebanggaan tersendiri untuk melestarikan budaya,” jelasnya.
Bagi perempuan, pakaian tersebut akan membuat kelihatan anggun dan cantik. Bahkan, akan terlihat sebagai putri bangsawan.
Apalagi, saat ini pakaian ini lebih lazim dimodifikasi untuk pakaian perempuan. ”Dilihatnya kayak ada yang beda, gitu,” terang mahasiswa Sastra Inggris Universitas Trunojoyo Madura (UTM) itu. (ay/luq)
Editor : Fatmasari Margaretta