BANGKALAN, RadarMadura.id – Puskesmas Blega, Kabupaten Bangkalan menggelar mini lokakarya tribulanan Kamis (6/8). Forum rutin ini mempertemukan unsur forkopimcam, Kepala Desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta perwakilan lembaga pendidikan.
Tujuannya kegiatan tersebut mengevaluasi capaian program kesehatan sekaligus menyerap aspirasi masyarakat.
Kepala Puskesmas Blega, drg. Safitri, tampil sebagai pemapar utama. Ia menegaskan bahwa sejumlah program unggulan telah berjalan, diantaranya cek kesehatan gratis (CKG), penemuan kasus TB, serta pemberian TPT.
“Program ini sudah berjalan, namun capaian belum bisa 100 persen dari target. Masih ada kendala di lapangan,” ungkap Safitri di hadapan para undangan.
Baca Juga: Puskesmas Blega Bekali Kader dan PKK Siapkan PMT Berbasis Pangan Lokal
Safitri menambahkan, dukungan lintas sektor sangat dibutuhkan agar program kesehatan bisa maksimal.
“Melalui mini lokakarya ini, kami meminta dukungan semua pihak, terutama kepala desa, untuk turut serta mendukung program pemerintah yang dijalankan lewat puskesmas,” tegasnya.
Tidak hanya mendengar paparan, peserta juga diberi kesempatan menyampaikan saran dan kritik. Salah satu masukan menyoroti layanan dasar kesehatan.
“Puskesmas Blega harus terus memberikan layanan terbaik, terutama tidak boleh menolak pasien yang hendak berobat,” ujar salah seorang tokoh agama.
Dalam forum itu, Safitri juga menyinggung aturan pembatasan rawat inap. Sesuai regulasi, puskesmas hanya diperbolehkan menerima 10 bed. Namun, kondisi geografis Blega yang berada di perbatasan membuat puskesmas menjadi rujukan bagi beberapa kecamatan.
Baca Juga: Peserta Selter JPT Pratama Sumenep Jalani Asesmen
“Kami meminta kepada Pak Bupati Bangkalan agar bed tidak hanya 10. Dengan upaya beliau, akhirnya BPJS menyetujui Puskesmas Blega menerima pasien dengan batas 25 bed setiap hari,” jelas Safitri.
Penambahan kapasitas rawat inap ini disambut positif oleh masyarakat. Dengan adanya 25 bed, Puskesmas Blega diharapkan mampu memberikan pelayanan lebih optimal, terutama bagi pasien dari wilayah sekitar yang membutuhkan penanganan cepat.
Mini lokakarya tribulanan ini pun menjadi wadah penting untuk memperkuat sinergi antara puskesmas, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Harapannya, program kesehatan tidak hanya berjalan di atas kertas, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga. (gik/dry)
Editor : Hendriyanto