PAMEKASAN, RadarMadura.id - Upaya promotif dan preventif terus menjadi fokus BPJS Kesehatan dalam menjaga keberlangsungan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Melalui penerapan pola hidup sehat, masyarakat diajak lebih peduli terhadap kesehatan sejak dini, salah satunya dengan rutin berolahraga dan memperhatikan asupan gizi seimbang.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Pamekasan, Galih Anjung Sari, menyampaikan bahwa tingginya pembiayaan penyakit katastropik menjadi pengingat pentingnya pencegahan. Sepanjang tahun 2025, BPJS Kesehatan tercatat mengalokasikan lebih dari Rp50 triliun untuk membiayai sekitar 59,9 juta kasus penyakit katastropik seperti jantung, gagal ginjal, stroke, dan kanker.
“Jika melihat angkanya, ini tentu menjadi perhatian bersama. Penyakit katastropik tidak hanya berdampak pada pembiayaan pelayanan kesehatan, tetapi juga menurunkan kualitas hidup masyarakat. Padahal, banyak penyakit tersebut dapat dicegah melalui kebiasaan hidup sehat,” kata Galih saat diwawancarai, Rabu (21/1).
Galih menjelaskan, aktivitas fisik ringan seperti jalan kaki memiliki manfaat besar apabila dilakukan secara rutin. Menurutnya, masyarakat tidak perlu melakukan olahraga berat untuk menjaga kebugaran tubuh, cukup memulainya dari aktivitas sederhana yang mudah dilakukan sehari-hari.
Baca Juga: BPJS Kesehatan Perkuat Edukasi Mekanisme Rujukan JKN di Pamekasan
“BPJS Kesehatan mendorong masyarakat untuk menerapkan Gerak Sehat 335, yakni jalan kaki santai selama tiga menit, dilanjutkan jalan cepat tiga menit, dan diulang lima kali hingga total 30 menit. Pola ini sederhana, aman, dan bisa dilakukan oleh semua kalangan,” jelasnya.
Selain itu, Dokter Spesialis Paru, Mokhammad Mukhlis, menegaskan bahwa upaya preventif memiliki peran sangat penting dalam mencegah berbagai penyakit kronis. Menurutnya, biaya pengobatan jauh lebih besar dibandingkan upaya pencegahan yang sebenarnya bisa dilakukan dengan cara sederhana.
“Mencegah jauh lebih murah dan lebih mudah dibandingkan mengobati. Masyarakat bisa memulainya dengan olahraga ringan seperti jalan kaki yang efektif untuk menjaga kesehatan tubuh,” ujar Mukhlis saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (21/1).
Mukhlis menjelaskan, jalan kaki idealnya dilakukan setiap hari selama sekitar 30 menit, terutama pada pagi hari. Namun, perubahan gaya hidup masyarakat saat ini, seperti tingginya konsumsi makanan cepat saji dan minimnya aktivitas fisik, berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit.
“Saat ini makanan sangat mudah didapat tanpa harus keluar rumah, sehingga banyak orang menjadi kurang bergerak. Kondisi ini berisiko menyebabkan penumpukan penyakit dalam tubuh,” jelasnya.
Selain aktivitas fisik, Mukhlis juga mengingatkan pentingnya menjaga pola makan sesuai takaran. Ia menyebut konsumsi garam sebaiknya dibatasi maksimal 5 gram per hari, gula 50 gram per hari, dan lemak sekitar 67 gram per hari sesuai anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Baca Juga: BPJS Gandeng Jamdatun, Perkuat Penanganan Hukum Penyelenggaraan JKN
“Jika jarang berolahraga dan pola makan tidak seimbang, lemak dapat menumpuk, menyumbat pembuluh darah, bahkan berdampak pada kesehatan saluran pernapasan,” tambahnya.
Mukhlis menilai pola hidup sehat tidak selalu mahal, melainkan membutuhkan komitmen dan konsistensi. Selain mengatur pola makan dan rutin berolahraga, masyarakat juga diimbau melakukan skrining riwayat kesehatan secara berkala untuk memantau kondisi tubuh sejak dini.
“Pola hidup sehat itu sebenarnya tidak mahal. Yang sering dianggap mahal adalah pola pikirnya. Selama mau konsisten mengatur pola makan, rutin berolahraga ringan, dan melakukan skrining kesehatan, kondisi tubuh bisa terpantau tanpa harus menunggu sakit,” pungkasnya. (dry)
Editor : Hendriyanto