RadarMadura.id - Sayur semanggi adalah kuliner khas Surabaya yang melegenda hingga saat ini.
Hidangan sederhana ini biasanya dijajakan oleh penjual keliling dengan pikulan khas.
Rasanya yang gurih dan autentik membuatnya tetap dicari meski semakin langka.
Keunikan sayur semanggi terletak pada bahan utamanya, yakni daun semanggi segar.
Daun ini direbus bersama tauge dan daun pepaya untuk menambah variasi sayuran.
Kombinasi tersebut memberikan cita rasa khas yang tidak ditemukan di daerah lain.
Yang membuat sayur semanggi berbeda adalah bumbunya yang kental.
Bahan dasar kacang tanah dipadukan dengan ubi rebus sehingga menghasilkan tekstur lembut.
Aroma gurihnya semakin kuat dengan tambahan cabai, bawang putih, dan garam.
Untuk membuat sayur semanggi, siapkan daun semanggi segar, tauge, serta daun pepaya muda.
Rebus semua bahan hingga matang lalu tiriskan. Pastikan sayuran tetap segar dan tidak terlalu lembek agar rasanya nikmat.
Bumbu halus dibuat dari kacang tanah goreng, ubi rebus, bawang putih, cabai, serta sedikit gula dan garam.
Semua bahan ditumbuk hingga halus lalu dicampur dengan air matang secukupnya.
Hasilnya adalah saus kental yang siap disiram di atas sayuran.
Penyajian sayur semanggi semakin lengkap dengan kerupuk puli sebagai pelengkap.
Kerupuk berbahan dasar beras ini memberi sensasi renyah yang berpadu dengan bumbu kacang.
Hidangan pun terasa semakin otentik dan memanjakan lidah.
Selain lezat, sayur semanggi juga menyehatkan karena kaya serat dan antioksidan.
Daun semanggi diyakini mampu membantu menurunkan kolesterol.
Tidak heran jika makanan tradisional ini juga bermanfaat bagi kesehatan tubuh.
Kini, keberadaan penjual semanggi semakin jarang ditemukan di Surabaya.
Meski begitu, masyarakat tetap berusaha melestarikan kuliner ini dengan membuatnya sendiri di rumah.
Resep tradisional menjadi warisan berharga yang patut dijaga.
Sayur semanggi bukan hanya makanan, tetapi juga identitas budaya Kota Pahlawan.
Setiap suapannya menghadirkan nostalgia khas Surabaya tempo dulu.
Inilah cita rasa legendaris yang layak dilestarikan untuk generasi mendatang
Editor : Amin Basiri