BANGKALAN, RadarMadura.id – Sembelit atau konstipasi dapat membuat penderita kurang nyaman. Terutama, saat buang air besar (BAB). Sebab, tinja yang kering dan keras sulit dikeluarkan.
Dokter Spesialis Bedah RSUD Syamrabu dr. Yusfik Helmi Hidayat, Sp.B, M.Kes., FINACS, FICS menyatakan, kejadian sembelit di negara maju berkisar satu hingga lebih dari 20 persen.
Sedangkan di Indonesia orang dengan usia 60–69 tahun 3,8 persen. ”Sedangkan orang dengan usia 70 tahun ke atas mencapai 6,3 persen,” ujarnya.
Ada beberapa faktor risiko sembelit. Yakni, sulit buang air besar, nyeri saat buang air besar, dan perut kembung. Kemudian, mual dan kurang nafsu makan, serta perut terasa berat.
Sementara penyebab dan gejala sembelit antara lain kurang serat dalam makanan, dehidrasi, dan kurang olahraga. Kemudian, juga dapat disebabkan stres dan terjadinya perubahan pola makan.
Kemudian, juga bisa disebabkan penggunaan obat-obatan tertentu yang berlebihan. Lalu, kopi, teh, dan kebiasaan merokok. Selanjutnya, bisa disebabkan adanya gangguan pencernaan atau iritasi usus serta kondisi medis lainnya seperti kencing manis dan rendahnya hormon tiroid.
Pengobatan terbaik yang dapat dilakukan adalah berolahraga teratur 30 menit per hari. Dengan metode olahraga simpel seperti itu, akan banyak minum air putih karena haus setelah olahraga.
Dengan demikian, memudahkan mencapai target minum dua liter per hari. Keuntungan dari olahraga jalan kaki, BAB akan lunak karena minuman yang kita minum cukup dan gerakan usus semakin meningkat karena gaya gravitasi saat berjalan.
”Selain itu, makan makanan kaya serat seperti sayuran dan buah-buahan. Kemudian, menghindari stres dan tidur minimal enam sampai delapan jam per hari.
Juga kurangi konsumsi kopi dan teh berlebih dan hentikan kebiasaan merokok,” katanya. (jup)
Editor : Ina Herdiyana