BANGKALAN, RadarMadura.id – Kasus human immunodeficiency virus (HIV)/acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) di Bangkalan masih tinggi. Lima bulan terakhir, puluhan orang terjangkiti penyakit berbahaya ini.
”Data terbaru 2024 sampai Mei, kami menemukan 32 penderita HIV/AID,” ungkap Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan Mariamah Jumat (28/6).
Puluhan penderita itu merupakan warga Kota Salak yang masih dalam usia produktif. Yaitu, antara usia 17–50 tahun. ”Yang masih berstatus pelajar satu orang, ibu hamil satu orang,” tuturnya.
Mariamah tak menampik bahwa temuan kasus baru HIV/AID mengalami peningkatan tiap tahun.
Buktinya, ditemukan 54 kasus pada 2022. Data itu meningkat pada 2023 dengan jumlah 84 warga yang reaktif.
”Meningkatnya temuan kasus baru itu juga tidak lepas dari kesadaran warga Bangkalan untuk memeriksakan diri,” ujarnya.
Perempuan berhijab itu menjelaskan, HIV/AID menggerogoti imun tubuh menjadi sangat lemah.
Akibatnya, rentan terinfeksi penyakit lain seperti diare, pneumonia, tuberkulosis (TBC), dan banyak penyakit lain.
Kondisi inilah yang membuat tingkat kematian pada penderita HIV/AID tinggi apabila tidak mendapat penanganan cepat dan tepat. Sebab itu, pihaknya mendorong agar warga rutin melakukan pemeriksaan.
”Masa inkubasi atau timbul gejala pertama yang muncul bagi penderita HIV/AID lama, antara tiga sampai lima tahun. Tiga bulan pertama itu masih masa jendela atau pertumbuhan virus sejak pertama terjangkit,” sebutnya.
Menurut Mariamah, HIV/AID memang tidak bisa disembuhkan. Namun, dengan diobati secara dramatis memperlambat parahnya penyakit serta mencegah infeksi sekunder dan komplikasi.
”Kalau sudah positif HIV/AID harus mengonsumsi rejimen antiretroviral (ARV) seumur hidup biar virusnya bisa dikendalikan, tidak berkembang biak. Dengan begitu, penderita tetap sehat dan produktif,” ujarnya.
Faktor yang dapat mengakibatkan seseorang tertulari HIV/AID di antaranya pergaulan bebas. Baik mencakup seks bebas di luar pernikahan, mengonsumsi obat-obatan dan alcohol, serta faktor lain.
”Karena itu, saya mengajak anak remaja sekarang jaga pergaulan dan keimanan. Jangan sampai melakukan hal-hal yang berisiko tertular HIV/AID. Lebih baik mencegah daripada mengobati,” harapnya.
Mariamah mengeklaim, dinkes melakukan beragam upaya untuk menekan dan mendeteksi kasus HIV/AID di Bumi Zikir dan Salawat. Mulai sosialisasi, edukasi, dan skrining. Sasarannya masyarakat usia produktif serta ibu hamil.
”Sekarang semua ibu hamil wajib skrining. Kalau bumil ditemukan terinfeksi HIV/AID, kami lakukan tindakan. Kami obati sedini mungkin agar bayinya tidak tertular. Kami tidak ingin keturunannya juga terkena HIV,” pungkasnya. (c3/luq)
Editor : Ina Herdiyana