Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Warga Pamekasan Manfaatkan Lahan Sempit untuk Tanam Sayur Blustru, Perawatan Mudah, tapi Rasa Tak Murah

Hera Marylia Damayanti • Senin, 4 Maret 2024 | 16:55 WIB
MENGECEK: Nurul Komariah memastikan sayuran blustrunya yang masih muda dan siap dibuat sayuran. (LAILIYATUN NURIYAH/JPRM)
MENGECEK: Nurul Komariah memastikan sayuran blustrunya yang masih muda dan siap dibuat sayuran. (LAILIYATUN NURIYAH/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.idMendung menyelimuti langit Desa Lancar, Kecamatan Larangan, Pamekasan, Sabtu (10/2).

Sepanjang perjalanan menuju kediaman Nurul Komariah, pemilik sayur blustru, cukup menyenangkan tanpa peluh bercucuran.

Sesampai di desa tujuan, Jawa Pos Radar Madura (JPRM) disambut kebun sayur sekitar 5×5 meter di seberang rumah Nurul Komariah.

Perempuan berhijab itu sedang mengecek tanaman sayuran blustru yang siap panen. Warga Desa Langsar menyebutnya geludru.

”Akhirnya sampai juga. Ini geludru sisa yang kemarin-kemarin. Soalnya yang matang sudah diambil dibuat sayuran,” katanya.

Masih dua bulan sayuran blustru yang dia tanam, namun sudah berbuah lebat. Hanya butuh dua sampai tiga biji blustru, kemudian tanam pada lubang dengan diameter 7×7 sentimeter di kedalaman 5 sentimeter.

Untuk menanam sayur yang tergolong tanaman merambat ini, cukup menyiapkan lima bilah bambu sebagai penyangga.

Empat di tiap pojok dan satu bambu lain di tengah. Kemudian, anyaman bambu yang diletakan di atas sebagai tempat untuk merambat tanaman tersebut.

”Siapkan sebelumnya. Jadi, ketika sudah tumbuh, tanaman ini langsung merambat mengikuti bambu-bambu ini,” kata perempuan yang akrab disapa Kokom ini.

Perawatan sayuran yang disebut dengan blustru, belustru, petola atau ketola ini termasuk mudah. Cukup diberi pupuk kandang dan abu kayu bakar. Penyiraman juga dilakukan secukupnya, bisa sekali sehari. Terpenting, tanaman tersebut terkena air.

Alumnus IAIN Madura ini mengatakan, semua jenis tanah bisa ditanami sayuran blustru ini.

Namun, biasanya beberapa petani menanam di ladang mini yang berada di samping atau belakang rumah.

MATANG: Sayuran blustru yang siap diolah. (LAILIYATUN NURIYAH/JPRM)
MATANG: Sayuran blustru yang siap diolah. (LAILIYATUN NURIYAH/JPRM)

”Lahannya tidak perlu ukuran yang luas. Pupuknya cukup dengan yang organik, jadi tumbuhnya lebih bagus,” jelasnya.

Kokom mendapatkan bibit dari pamannya. Kemudian, timbul rasa penasaran. Karena tidak pernah makan, maka dia menanam sayuran tersebut.

Tumbuhnya langsung banyak dan tergolong cepat asalkan rajin menyiram dan memberi pupuk.

Menurutnya, apa pun yang dia tanam, asalkan berdasarkan dari rasa suka, maka hasil tanamannya juga bisa bagus.

”Senang lihatnya kalau sayuran atau buah yang ditanam bisa tumbuh dan ada hasilnya. Intinya itu, harus rajin merawat,” terangnya.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Madura (Unira) Moh. Zali menyampaikan, batang daun sayuran blustru ini bisa mencapai panjang dua sampai 10 meter dengan ciri khas menjalar.

Sedangkan buahnya berbentuk silinder atau bulat memanjang serta memiliki garis tengah.

”Kalau yang sudah tua itu berwarna cokelat kering. Biasanya oleh sebagian masyarakat digunakan sebagai spons cuci piring,” tuturnya.

RAWAT: Nurul Komariah melihat perkembangan kebun sayuran blustru di Desa Lancar, Kecamatan Larangan, Pamekasan, Sabtu (10/2). (LAILIYATUN NURIYAH/JPRM)
RAWAT: Nurul Komariah melihat perkembangan kebun sayuran blustru di Desa Lancar, Kecamatan Larangan, Pamekasan, Sabtu (10/2). (LAILIYATUN NURIYAH/JPRM)

Tekstur Kulit Halus dan Kaya Manfaat

Sayuran blustru yang memiliki nama ilmiah luffa acutangula ini kaya manfaat. Buah yang masih muda bisa dibuat sayuran dengan kandungan vitamin dan beberapa khasiat lainnya.

Nurul Komariah mengatakan, sayuran blustru ini juga bisa memperlancar air susu ibu (ASI), mengobati bisul hingga wasir.

Ibu anak satu ini telah membuktikan. ASI-nya lancar setelah mengonsumsi sayuran tersebut.

”Apalagi kalau dicampur dengan daun katuk, alhamdulillah semakin lancar,” kata perempuan asal Desa Lancar, Kecamatan Larangan, Pamekasan, itu.

Biasanya dia mengonsumsi blustru diolah menjadi sayur bening. Kemudian, bisa juga dikukus dan dimakan dengan sambal kacang.

Namun, ketika sudah tua, sayur geludru ini tidak enak jika dikonsumsi, ada rasa sepat dan juga keras.

Tak hanya buahnya, daun dari sayuran yang sejenis dengan mentimun ini juga banyak khasiatnya.

Di antaranya, asma dan haid tidak teratur dengan merebus daun tersebut dan meminumnya.

”Kalau ini belum pernah coba, cuma kata tetangga sekitar sini begitu,” jelas Kokom.

Apabila ukuran buah semakin besar, itu berarti sudah tua dan tidak enak apabila dikonsumsi.

Biasanya buah tersebut dia biarkan sampai berwarna cokelat dan menjadikan spons cuci piring dan bijinya kembali ditanam.

Kokom tidak memperjualbelikan sayuran geludrunya ini. Siapa pun yang meminta dia beri.

Menurutnya, perbedaan dengan oyong hanya ada pada kulit yang lebih halus, ukuran yang lebih besar, dan rasa yang terlalu hambar.

”Kalau saya lebih suka oyong, tapi ini enak juga kalau dimakan sama sambal kacang. Siapa pun yang minta saya kasih biar tidak penasaran,” pungkasnya. (ail/luq)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#blustru #air susu ibu #asi #haid tidak teratur #oyong #geludru #asma