PAMEKASAN, RadarMadura.id – Penyakit tuli cenderung bawaan sejak lahir. Itu berdasar catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan. Namun, penyakit tuli bisa dipicu banyak faktor.
Kasi Penyakit Tidak Menular (PTM) Kesehatan Jiwa dan Napza Dinkes Pamekasan Rofiki mengatakan, sejauh ini, pihaknya belum mendata kasus penyakit tuli. Sebab, penyakit tersebut tidak masuk prioritas institusinya. Pendataan penyakit tuli dilakukan di puskesmas.
”Sejauh ini, belum ada nomenklatur dari kementerian yang melakukan pendataan penyakit tuli,” katanya.
Dia mengutarakan, ada banyak faktor yang bisa menjadi pemicu penyakit tuli. Di antaranya, faktor sumbatan serumen, kelainan sejak lahir, usia lanjut, dan lain-lain. Selain itu, faktor lingkungan seperti sering mendengarkan musik menggunakan headset.
Untuk mencegah penyakit tuli, lanjut Rofiki, cukup mudah. Caranya, memperhatikan kebersihan dan menghindari membersihkan telinga dengan benda keras. ”Seperti bulu ayam, kunci motor, batang rumput, itu dihindari,” ujarnya.
Kepala Dinkes Pamekasan Saifuddin menerangkan, pendengaran telinga ada batasnya. Jika melebihi batas, akan mengganggu kendang telinga. Misalnya, saat mendengarkan suara keras menggunakan headset dan berlangsung secara terus-menerus.
”Kendang telinga tidak akan peka sehingga bisa menyebabkan tuli secara perlahan,” jelasnya.
Saifuddin tidak melarang penggunaan alat pendengar. Namun, dia menyarankan agar telinga rutin dibersihkan. Paling tidak, setiap enam bulan sekali kotoran di telinga dibersihkan dan menghindari suara bising.
”Kalau untuk ibu hamil mesti sering memeriksakan kandungannya secara berkala. Juga tidak diperkenankan menggunakan obat-obatan yang dapat membuat infeksi,” sarannya. (bai/bil)
Editor : Ina Herdiyana