PAMEKASAN, RadarMadura.id – Menanam delima tidak membutuhkan lahan luas. Bisa memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam. Seperti yang dilakukan oleh Muzaini. Selain ditanam, dia juga memanfaatkan kulit delima sebagai jamu.
Pohon delima yang tumbuh di pekarangan rumah Muzaini hanya satu pohon. Tingginya kisaran 2 meter. ”Buah delima ini meski sudah berbuah, pasti bakal berbuah lagi,” ujarnya.
Menurut pria 73 tahun itu, menanam buah delima tidak sulit. Tidak memerlukan media tanam yang luas. Bahkan, meski tidak terlalu dirawat melalui pemupukan, buah tersebut bakal tetap tumbuh subur.
”Bakal tetap berbuah lebat buah delima itu. Buktinya, pohon ini masih hidup sampai sekarang dari 5 tahun yang lalu,” ujarnya.
Warga Kelurahan Bugih, Pamekasan, itu menerangkan, dalam sekali berbuah, dia tidak menghitung berapa buah yang dapat dipanen. Biasanya buah delima saat masih muda berukuran kecil berwarna hijau. Biji yang ada didalamnya masih sedikit dan kurang enak jika dikonsumsi.
”Jika sudah matang, biasanya ukuran buah lumayan besar seperti kepalan tangan. Biji di dalamnya sudah bisa untuk dikonsumsi, karena sudah banyak dan rasanya manis,” ujarnya.
Pohon tersebut tetap dibiarkan tumbuh di pekarangan rumah lantaran masih dimanfaatkan oleh buah hatinya yang ke-4. Selain bijinya dikonsumsi, kulitnya juga dapat dimanfaatkan. ”Masih bisa digunakan untuk diolah menjadi jamu,” ujarnya.
Kulit buah yang memiliki nama ilmiah Punica granatum itu oleh anaknya diolah menjadi jamu bubuk untuk mengobati keputihan. Yakni, dengan menjemur kulit buah delima terlebih dahulu sampai kering.
”Kemudian, digiling hingga menjadi bubuk jamu. Khasiat dari kulit delima itu yang saya tahu dapat mengobati keputihan,” paparnya. ”Daripada dibuang percuma, kan mending dimanfaatkan untuk diolah. Lumayan untuk menambah penghasilan,” jelasnya.
Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dinas Ketahanan Pangan dan Peranian (DKPP) Pamekasan Muzakki menuturkan, saat ini sudah jarang ditemukan di Pamekasan buah delima. Sebab, buah tersebut tidak dibudidayakan oleh petani, maupun ditanam di sekitar pekarangan rumah. ”Kalaupun ada, paling bisa dihitung dengan jari,” ujarnya.
Beberapa faktor yang menyebabkan minat masyarakat enggan menanam buah delima. Misalnya, buah delima tidak memiliki nilai ekonomis yang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. ”Makanya jarang yang menanam, baik petani maupun masyarakat,” terangnya.
Dia mengakui buah tersebut mengandung banyak manfaat. Namun, jarang yang berminat mengonsumsi. ”Sekarang sudah jarang sekali ditemui anak-anak yang mau makan buah delima,” ujarnya. (bai/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti