BANGKALAN, RadarMadura.id – Setiap perempuan akan mengalami menstruasi saat memasuki usia produktif. Tidak sedikit di antaranya dibarengi dengan rasa nyeri di perut bagian bawah. Meksi hal tersebut terbilang lumrah, nyeri saat haid bisa dijadikan indikasi bahwa seseorang mengidap penyakit.
Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan Aris Budhiarto mengatakan, tidak semua perempuan mengalami nyeri saat haid. Namun, dia mengingatkan perempuan untuk tetap waspada saat mengalami nyeri. ”Sebab, tidak semua rasa nyeri itu terkategori normal,” katanya.
Menstruasi terjadi karena luruhnya dinding rahim pada perempuan. Biasanya akan berlangung lima hingga tujuh hari masa haid. Nyeri saat haid disebabkan dua faktor. Pertama, sistem daya tahan tubuh labil. Kedua, janin mengalami retrofleksi. ”Posisi janin itu bengkok ke bawah,” tambahnya.
Dia menjelaskan, jika rasa nyeri lebih dari dua hari, itu mengindikasikan kesehatan organ reproduksi tidak sehat. Apalagi ditandai tubuh lemas dan nyeri hebat. Hal itu bisa menjadi pemicu adanya penyakit pada organ reproduksi. ”Kalau sudah tidak wajar, itu pertanda ada penyakit,” ulasnya.
Ada beberapa penyakit yang berpotensi muncul. Misalnya, endometriosis, fibroid rahim, tumor, adenomiosis, pelvic inflammatory disease, dan penyakit sejenisnya. Selain nyeri hebat, ciri-cirinya terdapat lendir dan gumpalan yang keluar saat haid. ”Gumpalan ini banyak. Kalau disertai darah dalam jumlah banyak, itu penyakit,” ingatnya.
Untuk menghindari penyakit dan rasa nyeri saat haid, perempuan harus menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Juga mengonsumsi minuman herbal seperti air kunyit. ”Jangan menekan perut saat haid. Itu bisa membuat rahim turun dan dampaknya luar biasa jika dilakukan terus-menerus. Jika nyeri tidak wajar, segera periksa ke dokter,” sarannya. (ay/yan)
Editor : Berta SL Danafia