oleh : MUHLIS
PERIHAL hilangnya Gamelan Ratna Dumillah dan Lonceng Kuno koleksi Museum Cakraningrat Bangkalan menjadi duka tersendiri bagi masyarakat Madura, wabilkhusus para pemerhati, praktisi sejarah, seni, dan budaya.
Meski hilangnya benda-benda usia ratusan tahun itu sudah sejak Agustus: dua bulan lalu, namun kabar tersebut baru mencuat dalam minggu ini di beberapa situs media online lokal dan nasional serta media sosial lainnya?
Lenyapnya koleksi Museum Bagawanta Bhari Kediri dipicu kerusuhan unjuk rasa disertai pembakaran, penjarahan, dan perusakan di antara kantor pemkab, DPRD, samsat, dan beberapa objek kepolisian, hingga museum yang masih satu area di Kabupaten Kediri, pada Sabtu, 30 Agustus malam, sampai Ahad, 31 Agustus 2025 dini hari. Beda halnya Museum Cakraningrat Bangkalan, raib karena pencurian tanpa unsur aktivitas massa?
Saat dalam negeri sedang mengalami kecamuk di akhir bulan Agustus lalu, Kabupaten Bangkalan cukup kondusif. Terlepas, bagaimana, kapan, dan siapa pelaku pencurian benda-benda koleksi tersebut, ini sudah menjadi ranah pihak berwajib untuk merekonstruksi kronologi peristiwa? Pasalnya, hingga sekarang masih belum ada titik terang siapa aktor dalam tragedi ini.
Lokasi Museum Cangkraningrat berada di Jalan Soekarno-Hatta, searah Stadion Gelora Bangkalan (SGB) ke selatan: kantor bupati (pemkab), Museum Cakraningrat/kantor dinas budaya dan pariwisata (disbudpar), hingga Polres Bangkalan. Kiri-kanan sepanjang lokasi ini merupakan bangunan aktif kantor-kantor birokrasi menjalankan roda kepemerintahan kabupaten.
Peristiwa demikian bisa menimpa siapa dan kapan saja bisa terjadi? Sedia payung sebelum hujan barangkali pepatah ini bisa menjadi renungan bersama ke depan?
Simbol Kebudayaan Bangkalan
Fragmen gamelan yang hilang memiliki kedekatan dan peran historis, yakni digunakan sebagai penobatan pejabat Keraton Bangkalan pada abad ke-18 silam. Tentu benda ini menjadi bagian dari simbol pemerintah kala itu. Warisan budaya yang menyimpan nilai-nilai pengetahuan, seni, dan falsafah lokal, fungsi praktisnya hari ini bisa menjadi ruang pembelajaran, wisata, dan pelestarian budaya.
Deretan panjang keprihatinan telah meluas hingga nasional. Siapa yang paling bertanggung jawab? Hal ini menjadi evaluasi tersendiri, baik pengelola maupun instansi yang menaungi di dalamnya. Pro-kontra sudah pasti ada.
Jika semua saling melempar kesalahan atau sebaliknya tidak ingin disalahkan, ini akan berbuntut panjang. Sebab, di dalam proses kinerja ada sebuah nilai ”kepercayaan”.
Museum bukan hanya ruang pajangan koleksi benda bersejarah, melainkan juga bagian dari upaya bangsa untuk menyelamatkan, melestarikan, menginventarisasi benda-benda memori kolektif masyarakat yang memiliki nilai pengetahuan, identitas, warisan, serta budaya bagi generasi mendatang.
Garis besarnya adalah menjaga dari kerusakan atau perubahan sehingga peranannya cukup vital. Peluang memberi kontribusi edukasi lebih besar. Tinggal bagaimana memanajemen tata kelola sehingga dapat dirasakan oleh masyarakat luas.
Tonggak Peradaban: Menakar Makna Kesukuan
Pada 12 Oktober 2025, Hari Museum Indonesia baru diperingati. Bukti tonggak kemajuan dunia permuseuman Indonesia terus berjalan. Semakin ke sini, arah pergerakan Indonesia semakin terbaca, barangkali ide dan gagasan tentang Bonus Demografi dan Momentum Indonesia Emas (2035–2045) akan dimulai dari akar peradaban. Babak baru diplomasi Indonesia dan Belanda sudah dilakukan, repatriasi 30.000 artefak, fosil, dan dokumen akan kembali ke negara asal Indonesia.
Evaluasi diri, langkah preventif, harus segera dilakukan. Duka Madura, duka Indonesia. Bukan milik segelintir orang ataupun kelompok. Hari ini, Madura mengalami disintegrasi, stereotip, kalimat–kalimat satire, sadis, terus melumuri bumi garam: SDM rendah, keras, angkuh, penguasa tanah orang, Prindavan, Meksiko, rayap besi, dan seterusnya.
Bukan tak bersebab, semua nyata terjawab dengan fakta satu sisi. Bukankah pisau tetap bermata dua? Hanya hati bijaksana yang mampu menakar kesadaran, pemahaman, dan makna tentang karakteristik ”Kesukuan Nusantara”.
Jika menganggap benang kusut hanya bagian dari dunia tambal jahit, bom waktu kapan pun bisa terjadi? (*)
Bangkalan, 14 Oktober 2025
*)Peneliti Tradisi Lisan Madura.
Editor : Hendriyanto