Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Penulis Empat Nama Pendiri Adinda

Abdul Basri • Senin, 5 Juni 2023 | 23:13 WIB
Photo
Photo
Oleh Lukman Hakim AG*

Saidi memang sudah kembali                                                                                Namun, karya Endy akan abadi

MALAM itu, Kamis (1/6), ruangan yang ditempati pelatihan guru master wilayah Bangkalan tiba-tiba hening ketika Umi Kulsum menyampaikan kabar duka. Kepala Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT) itu menyampaikan dua hal. Pertama, dia senang karena peserta pelatihan program Revitalisasi Bahasa Madura 2023 itu tetap semangat hingga akhir. Dia juga bahagia karena hari itu bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila.

Namun, yang kedua, pada hari yang sama, Umi menyampaikan kabar duka wafatnya seorang penulis dari Sumenep. Hari itu, sejak pagi, sudah beredar kabar meninggalnya Muhammad Saidi.

Photo
Photo
APRESIATIF: Serah terima kenang-kenangan antara Muhammad Saidi dari Damar Kambang dengan Kepala BBJT Umi Kulsum di kantor BBJT pada Kamis, 29 Desember 2022. (IG BBJT)

Duka yang sama dirasakan banyak orang sejak kabar kepergian Saidi tersiar pagi hari. Ucapan duka berseliweran di berbagai platform. Mulai dari teman atau sahabat dalam proses kepenulisan hingga rekan kerja.

Umi ingat betul ketika Saidi dan rombongan Damar Kambang berkunjung ke kantor BBJT, Kamis, 29 Desember 2022. Umi, atas nama BBJT, mengapresiasi inisiatif Damar Kambang dalam pengembangan bahasa dan budaya Madura. Pada malam penutupan pelatihan itu Umi juga mengungkapkan bahwa Saidi mendukung kegiatan revitalisasi ini. Karena itu, Umi merasa sangat bersedih dan mengucapkan bela sungkawa. Salah seorang yang mendukung kegiatan ini berpulang saat program sedang berjalan.

Karena itu, dia mengajak hadirin mendoakan yang terbaik kepada almarhum. Doa dan pembacaan surah Al-Fatihah juga dihaturkan perwakilan peserta saat menyampaikan pesan dan kesan. ”Kita turut berdukacita atas meninggalnya seorang masetro dari Sumenep, Bapak Muhammad Saidi, tepat pada peringatan Hari Lahir Pancasila,” kata Umi dengan nada sedih.

Saidi lahir di Sumenep pada 16 Juli 1967. Pernah mengajar di SDN Pasongsongan 3 dan MA Itmamunnajah Pasongsongan. Juga menjadi dosen di STKIP PGRI Sumenep. Karirnya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) mengantarkan Saidi menduduki beberapa jabatan strategis. Jabatan terakhir hingga wafat sebagai sekretaris Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (P3A) Sumenep. Sebelumnya, Saidi pernah menjabat sebagai sekretaris dan pelaksana tugas (Plt) kepala Dinas Pendidikan Sumenep.

Kesibukan sebagai PNS tidak menghambat produktivitasnya dalam menulis. Saidi aktif menulis sejak sekolah pendidikan guru (SPG). Karyanya berupa esai, cerpen, feature, dan puisi tersebar di berbagai media dan buku. Dia juga langganan pemenang sayembara penulisan buku bacaan Pusat Perbukuan.

Keterampilannya dalam menulis tidak hanya untuk mengembangkan dirinya sendiri. Dia punya kepedulian kepada para pemuda. Karena itu, pada 1998 Saidi mendirikan Sanggar Sastra Adinda. Ajang Dedikasi Intelektual Muda. Adinda menjadi wadah pengembangan kreativitas menulis pemuda pantai utara (pantura).

Seperti banyak penulis atau sastrawan, Saidi juga menggunakan nama pena dalam menulis. Setidaknya ada empat nama yang menyertai karya tulisnya. Yakni, Em Saidi Dahlan, Endy Dahlan, Eny Dahlia, dan Muhammad Saidi. Dari empat nama itu, Em Saidi Dahlan yang paling melekat sekaligus populer. Sementara Muhammad Saidi kerap dipakai pada tulisan belakangan. Biasanya disertai gelar akademik.

Beberapa buku karya Em Saidi Dahlan seperti Pesan Pahlawan Kecil, Terdampar di Pulau Hantu, Penghuni Gua (Ash-Habul Kahfi), Misteri Gadis Terpasung, dan Peristiwa Menjelang Rasulullah Wafat. Kemudian, Barsisha dalam Pergolakan Bujukan Iblis (di sumber lain tertulis Barsisha dalam Godaan Iblis), Mutiara di Telaga Nabi, Beo-Beo Kangean Menuntut Kemerdekaan, dan Memperlakukan Bahari Nusantara.

Selain itu, Patung Bung Parmin, Sepanjang Sungai Angsono, Perjuangan Redaktur Cilik, dan Sepekan di Pantai Lombang. Lalu, Mutiara-Mutiara Teladan, Insinyur Kecil di Tanah Gersang, Pesan Desa Tertinggal, dan Pengembaraan Nabi Musa. Sedangkan buku berjudul Insinyur Pemulung tertera nama penulis Endy Dahlan.

Sementara buku yang menggunakan nama Muhammad Saidi antara lain, Menuai Badai di Lembah Madu, Rembulan Jatuh, Jeli Marlupi (Mutiara di Balik Kulit Jeruk), dan Senyum Ratu Apis Mellifera (Teknik Beternak Lebah). Saidi juga menerbitkan buku Model Pemberdayaan Ekonomi Nelayan Studi Sistem Bagi Hasil Perikanan (2021).

Dalam perkembangannya, Saidi juga menekuni khazanah bahasa dan budaya Madura. Pada 2008 dia menyunting buku Paramasastra Madura karya RP Abd. Syukur Notoasmoro. Saidi juga menyunting Panduman Basa Madura karya RP Abd. Syukur Notoasmoro (2020). Pelestarian dan pengembangan bahasa dan budaya Madura juga dilakukan melalui komunitas Damar Kambang bersama kawan-kawan. Salah satu buku yang baru diterbitkan adalah Kamos Basa Madura.

Tulisannya juga tercatat di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Dokumen itu berisi esai Saidi yang berjudul Mengenang Penyair Chairil Anwar yang dimuat Harian Terbit edisi 28 April 1997.

Saidi sudah kembali kepada Ilahi. Jika dia pernah mengenang Chairil Anwar, kini saatnya kita mengenang pemilik nama pena Eny Dahlia itu. Semoga lahir Saidi-Saidi baru dengan Marlupi-Marlupi masa kini.

Selamat jalan. Semoga bahagia. Amin. (*)

*)Pemred Jawa Pos Radar Madura Editor : Abdul Basri
#Kepala Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT) #Saidi #lukman hakim ag #hari lahir pancasila #Revitalisasi Bahasa Madura