Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Briptu Navynda Sherly Fatikasari Ikut Misi Perdamaian PBB, Aparat Indonesia Dikenal dan Dikenang Paling Ramah  

Fatmasari Margaretta • Minggu, 10 Maret 2024 | 02:10 WIB

 

TUGAS DUNIA: Briptu Navynda Sherly Fatikasari berinteraksi dengan masyarakat lokal Afrika pada Oktober 2022. NAVYNDA SHERLY FATIKA SARI UNTUK JPRM
TUGAS DUNIA: Briptu Navynda Sherly Fatikasari berinteraksi dengan masyarakat lokal Afrika pada Oktober 2022. NAVYNDA SHERLY FATIKA SARI UNTUK JPRM

BANGKALAN, RadarMadura.id –  Keberanian Briptu Navynda dalam menentukan pilihan untuk bertugas dan menjadi bagian dari misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) patut dicontoh oleh anggota Polri lain.

Perempuan berparas cantik dan berpenampilan sederhana itu berangkat ke Afrika menjadi bagian dari misi perdamaian atas keinginan sendiri.

Azan Duhur berkumandang menyambut pertemuan Jawa Pos Radar Madura (JPRM) dengan Briptu Navynda Sherly Fatikasari.

Dia sedang duduk di ruang tunggu Mapolres Bangkalan. Kala itu dia sedang bertugas untuk menjamu setiap tamu Kapolres atau orang yang berkepentingan dengan pimpinan polres.

Briptu Navynda baru tampak di wilayah hukum Polres Bangkalan. Sebab, dia baru pulang dari Afrika usai mengikuti misi perdamaian PBB yang diadakan oleh Polri.

Dia lolos menjadi bagian anggota Polri yang berangkat ke benua hitam itu pada 2022.

Banyak hal yang perlu dipersiapkan oleh Navynda sebelum berangkat bertugas di Afrika. Mulai dari belajar psikologi, bahasa Inggris, latihan fisik untuk tes jasmani, dan belajar mengemudi kendaraan roda empat. 

Sebab, di Afrika dia dituntut untuk bisa mengemudikan kendaraan dengan kapasitas yang lebih besar.

Menjadi bagian dari perwakilan Indonesia di misi perdamaian PBB menjadi suatu kebanggaan baginya.

Bertemu dan berinteraksi dengan orang baru di Afrika tentu menjadi tantangan baru yang harus Navynda jalani setiap hari.

Berpakaian lengkap dan bersenjata layaknya aparat senantiasa mewarnai hari-harinya saat patroli ke pelosok desa.

”Interaksi dengan masyarakat lokal Afrika menjadi pengalaman menarik dan tantangan baru bagi saya, karena tidak semua orang lokal di sana bisa berbahasa Inggris. Jadi, kadang pakai bahasa seadanya saja,” kenangnya, Jumat (1/3).

Lambat laun Navynda mulai belajar dan mengerti bahasa orang lokal di tempat di bertugas. Dia kerap berinteraksi dengan masyarakat setiap hari. 

Bahkan, aparat Indonesia dikenal dan dikenang sebagai aparat paling ramah oleh warga lokal Afrika.

Sebagian besar aparat dari kontingen negara lain sangat jarang untuk berinteraksi dengan masyarakat setempat.

Menurut penilaian Navynda, karakter orang Afrika lokal sangat baik dan ramah. Meskipun kadang membuatnya mengernyitkan dahi dengan beberapa sikap yang menurut Navynda berlebihan.

”Orang sana baik meskipun kadang dikasih hati mintanya jantung,” ucapnya sambil tertawa lepas.

Sesekali dia memberikan sesuatu misalnya seperti makanan kepada masyarakat tempat dia bertugas.

MISI PERDAMAIAN: Briptu Navynda Sherly Fatikasari berseragam lengkap saat bertugas di Afrika pada 2022.
MISI PERDAMAIAN: Briptu Navynda Sherly Fatikasari berseragam lengkap saat bertugas di Afrika pada 2022.

Meskipun tindakan itu tidak diperbolehkan dalam aturan United Nation (UN) atau PBB. Tapi, dia memaklumi karena berbagi antar sesama itu sudah menjadi budaya orang Indonesia.

Budaya orang lokal Afrika tidak jauh berbeda dengan budaya di Indonesia. Hanya, ada satu budaya atau kebiasaan orang sana yang membuatnya terheran-heran. Yakni, budaya penghormatan kepada orang yang sudah meninggal.

Lumrahnya di Indonesia, penghormatan bagi orang yang sudah meninggal diidentikkan dengan perasaan duka, tapi di sana justru sebaliknya.

”Budaya penghormatan bagi orang yang sudah meninggal di sana agak berbeda, orang yang sudah meninggal diantar dengan kegembiraan layaknya mantenan kalau di Indonesia,” sambungnya.

Ada pula pengalaman yang membuat detak jantungnya berdebar cukup kencang. Perasaan yang tidak biasa-biasa saja itu dia rasakan ketika bertugas menjadi security camp.

Tempat dia bertugas kala itu merupakan perbatasan dengan daerah lain. Bunyi dor tembakan setiap malam sudah menjadi hal biasa bagi dia.

”Bunyi tembakan dari masyarakat dengan polisi di sana sudah menjadi hal yang biasa. Di sana budaya minum (minumal beralkohol) sudah menjadi hal yang biasa,” ujarnya. (za/luq)

Editor : Fatmasari Margaretta
#ramah #aparat #polri #Latihan Fisik 30 #bersenjata #indonesia #pbb #Benua Hitam #misi perdamaian #afrika