BANGKALAN, RadarMadura.id – Kematian Ghofirul Kasyfi, 22, anggota TNI AL berpangkat kelasi dua (KLD) asal Kabupaten Bangkalan yang dikabarkan meninggal di kamar KRI dr Radjiman Wedyodiningrat masih menyisakan kejanggalan.
Pihak keluarga menilai kematian Ghofirul Kasyfi tidak wajar dan sepakat meminta dilakukan otopsi terhadap jenazah korban.
Keluarga Ghofirul Kasyfi yang akrab disapa Ovy menemukan sejumlah kejanggalan terkait kematian korban.
Di antaranya, luka lebam di sekujur tubuh korban, berita acara pemeriksaan (BAP), serta barang-barang pribadi milik Ovy yang hingga kini belum dikembalikan kepada keluarga.
Mohammad Sholeh selaku kuasa hukum keluarga korban menyampaikan bahwa keluarga sepakat mengajukan permohonan otopsi terhadap jenazah Ovy.
Baca Juga: Jaksa-Polisi Uji Ulang BB Narkotika 3 Kilogram, Pemeriksaan di Labfor Polda Jatim Tertutup
Sebab, keluarga menilai terdapat kejanggalan dalam peristiwa kematian korban.
Dia menjelaskan, pada Minggu (26/4) keluarga mendapat kabar bahwa Ovy melarikan diri.
Namun, keesokan harinya keluarga justru menerima informasi bahwa korban meninggal di kamar.
Pada siang harinya, informasi kembali berubah dengan menyebut korban meninggal karena bunuh diri.
”Pihak keluarga mencurigai kematian Ovy tidak wajar, apalagi ada luka lebam di tubuhnya,” terangnya.
Pria yang akrab disapa Cak Sholeh itu menambahkan, sebulan sebelum meninggal korban kerap mengeluh kepada kedua orang tuanya.
Korban mengaku sering mendapat kekerasan dari senior di satuan tempatnya bertugas. Bahkan, dia mengaku hanya tidur satu jam setiap hari.
”Sebulan sebelum meninggal, korban mengeluh mendapat perlakuan tidak baik dari seniornya di kapal,” lanjutnya.
Beberapa kali korban juga meminta bantuan orang tuanya agar dipindahkan ke Surabaya.
Korban mengaku sudah tidak kuat bertugas di KRI dr Radjiman Wedyodiningrat.
Baca Juga: Persaingan Skutik Adventure 2026 Memanas Saat Suzuki V Strom 160 Tantang Dominasi Honda ADV 160
Bahkan, Ovy sempat mengatakan kepada keluarganya bahwa jika tidak segera dipindahkan, dia khawatir tidak bisa bertemu keluarga lagi.
”Korban sepertinya sudah pasrah karena merasa nyawanya terancam akibat sering mendapat kekerasan,” sambungnya.
Tidak hanya itu, keluarga juga mengantongi bukti berupa foto jenazah korban yang menunjukkan adanya luka lebam di sekujur tubuh.
Karena itu, sebelum pemakaman sempat terjadi perdebatan antara keluarga dari pihak ayah dan ibu korban.
Keluarga dari pihak ayah menginginkan otopsi, sementara ibu korban belum berkenan.
”Sekarang keluarga ingin menuntut keadilan atas kematian korban,” ujarnya.
Pihak keluarga juga meminta adanya transparansi terkait penyebab kematian korban.
Menurut Cak Sholeh, harus ada penjelasan terbuka mengenai dugaan bunuh diri sebagaimana disampaikan pihak KRI dr Radjiman Wedyodiningrat.
”Kalau memang hasil otopsi nanti tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan, keluarga akan menerima. Tapi jika ada unsur kekerasan, harus diusut tuntas siapa pelakunya,” tuturnya.
Karena itu, pihak keluarga berencana mengajukan surat kepada Koarmada II Surabaya untuk meminta dilakukan otopsi, termasuk kemungkinan pembongkaran makam korban.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti kematian Ovy.
Hingga kini keluarga juga mengaku belum menerima kronologi lengkap terkait dugaan korban melarikan diri dari kapal maupun dugaan bunuh diri.
”Kami berharap Koarmada kooperatif dan segera melakukan otopsi,” harapnya. (za/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti