Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Visi 2030 dan Ambisi Kota Masa Depan Arab Saudi yang Mulai Dipertanyakan

Abdul Basri • Sabtu, 10 Januari 2026 | 13:08 WIB

Visi 2030 diperkenalkan sebagai peta jalan besar Arab Saudi untuk keluar dari ketergantungan minyak.
Visi 2030 diperkenalkan sebagai peta jalan besar Arab Saudi untuk keluar dari ketergantungan minyak.

RadarMadura.id — Proyek Visi 2030 Arab Saudi kembali menjadi sorotan seiring munculnya keraguan terhadap kelayakan megaproyek futuristik seperti NEOM dan The Line.

Proyek yang digagas Putra Mahkota Muhammad bin Salman (MBS) ini awalnya dirancang sebagai simbol transformasi ekonomi pasca-minyak.

Namun, sejumlah pengamat menilai pendekatan pembangunan yang menitikberatkan pada teknologi dan infrastruktur belum diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia dan institusi sosial.

Kota sepanjang 170 kilometer yang direncanakan kini dilaporkan dibangun jauh lebih terbatas dari konsep awal.

Analisis kritis mengenai proyek ini dibahas dalam video di kanal YouTube berikut:
???? https://youtu.be/sOYutL-9PUU
???? Channel: https://www.youtube.com/@basboii

 

Logika Uang sebagai Solusi Segala Masalah

Salah satu ciri paling menonjol dari Visi 2030 adalah keyakinan bahwa modal finansial dapat menyelesaikan hampir semua persoalan. Arab Saudi menggelontorkan dana besar untuk membeli citra global: mendatangkan bintang sepak bola dunia, menggelar konser internasional, hingga membayar konsultan manajemen kelas dunia untuk menyusun laporan strategis.

Namun, uang tidak selalu berbanding lurus dengan keterlibatan publik. Klub sepak bola Eropa besar, misalnya, dibangun bukan hanya oleh pemain mahal, tetapi oleh sejarah panjang dan keterikatan emosional penggemarnya. Tanpa fondasi tersebut, kehadiran bintang global cenderung bersifat transaksional—bertahan selama kontrak berjalan.

Sejumlah analis menilai pendekatan ini lebih menyerupai “menyewa reputasi” ketimbang membangun legitimasi jangka panjang.


Sentralisasi Kekuasaan dan Minimnya Check and Balance

Visi 2030 juga menyingkap persoalan struktural dalam pengambilan keputusan. Banyak proyek strategis berada langsung di bawah kendali lingkaran sempit kekuasaan. Kritik internal terhadap kelayakan biaya atau desain disebut-sebut kerap berujung pada peminggiran pengambil kebijakan yang berbeda pandangan.

Dalam konteks NEOM, rencana pembangunan sepanjang 170 kilometer dilaporkan menyusut drastis menjadi hanya beberapa kilometer tahap awal. Penyusutan ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai perencanaan, kelayakan ekonomi, dan keberlanjutan proyek.

Pembangunan tanpa mekanisme pengawasan dan koreksi yang kuat berisiko menghasilkan keputusan mahal yang sulit diperbaiki.


Ilusi Diversifikasi Ekonomi

Pemerintah Arab Saudi kerap menyebut pertumbuhan sektor non-minyak sebagai bukti keberhasilan Visi 2030. Namun, sejumlah ekonom menilai pertumbuhan tersebut masih sangat bergantung pada belanja negara yang bersumber dari pendapatan minyak.

Dalam banyak kasus, dana minyak dialirkan ke proyek konstruksi dan infrastruktur, yang kemudian dicatat sebagai pertumbuhan sektor non-minyak. Pola ini dinilai belum mencerminkan diversifikasi ekonomi yang sesungguhnya, melainkan perputaran dana dalam lingkaran yang sama.

Tanpa sektor swasta yang mandiri dan inovasi berbasis sumber daya manusia, transformasi ekonomi berisiko berhenti pada statistik jangka pendek.


Dilema Identitas di Persimpangan Modernisasi

Arab Saudi kini berada di titik persimpangan: ingin tampil sebagai negara modern dan terbuka, namun masih dibayangi ketidakpastian hukum dan keterbatasan kebebasan sipil. Di satu sisi, kerajaan membuka diri bagi pariwisata dan hiburan global. Di sisi lain, norma sosial dan politik belum sepenuhnya bertransformasi.

Dalam sejarah, peradaban besar tumbuh ketika terdapat keselarasan nilai antara pemimpin dan masyarakat, serta ruang bagi kemandirian berpikir. Tanpa itu, modernisasi berisiko menjadi ilusi—tampak menjanjikan dari kejauhan, namun rapuh saat diuji.


Masa Depan yang Tidak Bisa Dibeli

Visi 2030 mengajarkan satu pelajaran penting: uang mampu membangun gedung, tetapi tidak selalu mampu membangun bangsa. Pembangunan berkelanjutan menuntut investasi pada pendidikan, institusi, etos kerja, dan nilai-nilai sosial yang hidup di masyarakat.

Ketika masa depan diperlakukan sebagai komoditas yang bisa dibeli, bukan proses yang harus ditanam dan dirawat, maka ambisi besar mudah berubah menjadi mimpi buruk. Pertanyaannya kini bukan seberapa megah kota yang bisa dibangun, melainkan apakah manusia di dalamnya siap menjadi fondasi peradaban itu sendiri. ***

Editor : Abdul Basri
#arab saudi #visi 2030 #mbs